Wednesday, 20 March 2019

Yosep Adi Prasetyo dan Dr Sirikit Syah Ingatkan Wartawan Agar Tidak Gunakan  Profesi untuk Kepentingan Politik

post-top-smn

Ketua Dewan Pers Indonesia, Yosep Adi Prasetyo saat menyampaikan materi tentang Peliputan Pemilu 2019 di sebuah seminar di Surabaya (24/8).

Surabaya, SMN – Tahun 2019 sebagai tahun politik seharusnya merupakan pesta demokrasi yang berlangsung secara damai, lancar dan menyenangkan. Saat itulah, peran pers dibutuhkan terutama dalam penyajian berita yang faktual, akurat, berimbang dan menjawab ketersediaan informasi tentang Pemilu. Hal ini dikatakan Yosep Adi Prasetyo, Ketua Dewan Pers Indonesia dalam seminar sehari BAKTI untuk Negeri di Surabaya, 24 Agustus 2018. “Wartawan harus patuh pada ruh kerjanya yakni bekerja untuk publik dan bukan untuk kepentingan politik tertentu,” ujarnya.

Peliputan Pemilu, menurut Stanley, sapaan akrab dari Yosep Adi Prasetyo, sebaiknya menjadi jawaban bagi kepentingan publik dalam mengetahui informasi tentang pesta demokrasi tersebut. Stanley juga mengingatkan rentannya kepentingan wartawan atau pemilik usaha pers yang terkontaminasi politik masuk dalam pemberitaan. “Kita tentu masih ingat akibat dari Pilpres 2014, ada stasiun televisi yang mendapatkan stigma condong pada calon tertentu, itu memprihatinkan dan jangan terulang lagi,” katanya.

Wartawan seyogyanya mengikuti surat edaran dewan pers untuk tidak menjadi tim sukses ataupun menjadi calon anggota legislatif (caleg). Stanley ini mengingatkan bahwa sebaiknya wartawan yang terjun dalam politik praktis itu non aktif atau mundur sebagai wartawan, untuk mengantisipasi adanya kepentingan dalam melaksanakan tugasnya sebagai jurnalis.  Peran pers menjadi penting dalam penyajian informasi Pemilu dan media harus tetap berpihak pada kepentingan publik serta tidak terjebak dalam kepentingan pihak-pihak tertentu. Stanley mengingatkan ramb-rambu peliputan ini dengan berpijak pada informasi Pemilu yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat, penting dan menyentuh, unik dan bukan berita yang dipelintir atau berita bohong. “Jangan mudah gunakan media sosial sebagai berita, lakukan verifikasi dan verifikasi serta taat pada kode etik jurnalistik,” himbaunya.

Pemenuhan informasi mengenai pentingnya Pemilu juga perlu disajikan. Ini misalnya bisa dimulai dengan potensi masalah yang terjadi pada daftar pemilih, bagaimana pembelajaran pada pemilih pemula, bagaimana program kerja dan program kampanye yang diatur KPU, partisipasi pemilih maupun kisah dan kasus tentang rekam jejak seorang pelaku politik. Mengenai masalah teguran Bawaslu agar tidak ada pemberitaan yang menyangkut pada pencitraan diri seorang pelaku politik atau calegm hal itu bisa disiasati dengan memberikan sajian berita features yang tidak harus merepresentasikan seseorang dalam kapasitas kiprah politiknya. “Pemberitaan tentang bagaimana KPU menangani pemilih di daerah terpencil, mungkin masih primitif atau banyak yang cacat dan buta huruf agar menggunakan hak pilihnya, juga menarik dilakukan,” sarannya.

Selain Stanley, pemateri dari Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya (STIKOSA), Dr. Sirikit Syah, juga mengingatkan agar pers tidak meninggalkan prinsip keadilan informasi bagi publik. Pers, juga diidentikkan oleh pengajar di Universitas Dr. Soetomo ini sebagai pengawas yang harus objektif. Perempuan yang juga aktifis media watch ini juga meminta pers tidak gemar menggunakan penjulukan yang tidak perlu. “Hindari penjulukan yang belum tentu kebenarannya seperti jihadis, calon teroris, cebongers, kampreters, dan sebagainya. Bagaimanapun, pers harus hadir sebagai pilar yang bisa dipercaya dalam memberikan informasi yang akurat,” ungkap Dr Sirikit Syah.

Mengikuti kode etik jurnalistik, paham aturan hukum yang berlaku baik UU Pers, KUHP dan UU ITE, juga harus menjadi tanggung jawab seorang wartawan sehingga lebih bisa memilih dan memilah liputan yang tidak menyesatkan bagi pembaca atau pemirsanya. ”Buatlah masyarakat makin melek politik, meningkat partisipasi politiknya namun jangan gunakan profesi wartawan untuk berpolitik,” tegas Sirikit Syah. (ari/yud/dir)

post-top-smn

Baca berita terkait