Friday, 20 July 2018

Walikota Mojokerto Resmikan Instalasi Pengelolaan Biogas Dan Pupuk Organik Upt Rumah Potong Hewan

post-top-smn
Walikota Mojokerto menandatangani prasasti

Walikota Mojokerto menandatangani prasasti

Kota Mojokerto, SMN – Sesuai dengan tema peringatan hari jadi Kota Mojokerto ke 99 tahun 2017, sebagai Kota yang berkreasi, berinovasi dan berprestasi. Tampaknya semangat ini dijiwai oleh seluruh elemen warga Kota Mojokerto. Hal ini dapat terlihat dengan munculnya prestasi yang diraih oleh Pemerintah Kota Mojokerto berupa kinerja pemerintahan terbaik keempat se Indonesia tahun 2017, diraihnya pula predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas hasil Pemeriksaan Keuangan oleh BPK dan masih banyak prestasi lainnya. Demikian juga dengan inovasi yang terus dilakukan baik oleh masyarakat maupun Organissi Perangkat Daerah (OPD). Seperti halnya UPT Rumah Potong Hewan (RPH), telah berinovasi dengan mengelola limbah sapi. Selama ini kotoran sapi yang akan dipotong belum terkelola dengan baik. Bahkan nyaris mencemari lingkungan sekitar termasuk sumber air warga setempat. Maghfur, SH,M.Si Kepala UPT RPH Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Mojokerto menjelaskan, tujuan pembangunan instalasi biogas ini adalah untuk memanfaatkan limbah organik yang berasal dari kotoran sapi yang berada di UPT RPH yang menjadi sumber energi alternatif dan terbaru yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Lebih teknis Magfur menjelaskan, pada awal membangun kuba penangkap biogas dengan volume 25 m 3 dan hasil jangkauan aliran gas mencapai 100 m lebih dengan tekanan maksimal 100 Psi. Untuk sementara ini dapat memberi sambungan keluarga sebanyak 5 (lima) rumah tangga. UPT Rumah Potong Hewan sebagai unit layanan penyedia daging yang aman, sehat, utuh, dan halal ternyata juga menghasilkan limbah organik yaitu dalam bentuk gas, cair, padat sehingga sangat disayangkan jika dibuang begitu saja, padahal masih bisa dimanfaatkan lagi untuk kesejahteraan warga. Oleh karena itu UPT Rumah Pemotongan Hewan terus berinovasi mengolah isi jerohan lambung sapi atau disebut Rumen untuk menjadi pupuk kompos, menampung sisa tangkapan biogas slurry menjadi pupuk organik cair. Hasil pupuk cair ini nantinya dapat berikan kepada masyarakat petani perkotaan. Bukan hanya yang mengelola persawahan akan tetapi masyarakat perkampungan yang sedang melakukan kegiatan penghijauan. Pengelolaan dan pemanfaatan limba tersebut sesuai dengan konsep “zero waste” artinya tidak ada yang terbuang bahkan ramah lingkungan dalam mendukung program Pemerintah Kota Mojokerto menuju Kota sehat.

R.Happy Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Mojokerto saat dikonfirmasi menjelaskan, bahwa kedepan UPT Rumah Potong Hewan bertekad senantiasa meningkatkan mutu layanan dan terus berinovasi selain sebagai penyedia daging juga siap sebagai pusat bisnis turunan hasil peternakan serta menjadi wahana edukasi bagi pelajar dan masyarakat pada mmnya. Terkait dengan pengelolaan limbah/kotoran sapi ini, Heppy berharap agar setiap peternak di Kota ini bisa difasilitasi sarana pengelolaannya. Sehingga selain bersih dan tidak menggangu lingkungan, juga hasil biogasnya dapat dimanfaatkan oleh rumahtanga tersebut. Secara teknis kebutuhan bahan baku vieces (kotoran sapi) setiap hari untuk 10 kibik menghasilkan gas yang dapat disambungkan ke 5 (lima) rumah tangga. Sedangkan 1 (satu) ekor sapi pada umumnya mampu mengkasilkan 1 (satu) kibik perhari. Sehingga sedikitnya ada 10 (sepuluh) sapi, tambah Ismari konsultan teknik selaku mintra UPT Rumah Potong Hewan.

Suasana bulan puasa pagi itu tepatnya hari kamis, 8/6/2017 berlangsung ceria dan semua bersemangat mengikuti dan menyaksikan peresmian Instalasi pengelolaan biogas dan pupukorganik yang sedang disesmikan oleh Walikota Mojokerto. Invovasi ini tentu mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para pihak, yang turut serta hadir Kapolres Mojokerto Kota, Kajari Kota Mojokerto,jajaran Kodim, Korem dan Koamil di wilayah Kecamatan magrsari, demikian juga pimpinan Organisasi Perangkat Darah turut serta mendukung atas inovasi yang kreatif ini. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Walikota Mojokerto yang didampingi oleh Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian serta disaksikan oleh hadiri tamu undangan lainnya. Walikota Mojokerto dalam sambutannya menyambut gembira adanya inovasi yang dilakukan oleh UPT RPH, diharapkan OPD-OPD lainnya juga memiliki kreativitas sesuai dengan tugas dan fungsinya serta disesuaikan dengan stuasi dan kondisi lingkungan.

Selesai penandatangan prasasti Walikota diikuti oleh seluruh tamu undangan menuju warung rumah penjaga untuk melihat langsung penggunaan energi alternatif yang berbahan limbah sapi. Ternyata sangat mentakjubkan begitu kompor dua tungku itu dinyalakan langsung api menyala dengan warna biru dilanjutkan dengan menyalakan lampu petromak yang juga berbahan energi yang sama. Sesudah itu Walikota juga melihat kemasan pupuk kompos yang sudah dikemas tapi belum memiliki lebel nama. Untuk pupuk kompos dan cair ini RPH masih menunggu hasil uji laboratorium tentang keamanan dan keabsahan produk alaimi tersebut. Tanpa melalui proses uji lab, pihak RPH belum berani memberikan kepada masyarakat yang membtuhkan. Namun RPH berjanji ketika sudah layak pakai, maka masyarakat bisa memintanya secara gratis.(adv/hms/kan)

post-top-smn

Baca berita terkait