Saturday, 17 November 2018

Wabup Arifin Terus Kawal Jalannya Musyawarah GERTAK

post-top-smn
Wakil Bupati Trenggalek, H. Moch. Nur Arifin saat Musyawarah

Wakil Bupati Trenggalek, H. Moch. Nur Arifin saat Musyawarah “GERTAK” di Kecamatan Watulimo. (doc.humas)

Trenggalek, SMN – Wakil Bupati Trenggalek, H. Moch. Nur Arifin, terus kawal jalannya musyawarah “GERTAK”. Musyawarah ini berfungsi memverifikasi dan memfalidasi data kemiskinan yang ada. Sehingga melalui GERTAK pengentasan kemiskinan di Kota tempe keripik ini dapat terlaksana dengan baik.

Kamis (2/2) musyawarah Gertak ini berlangsung di Kecamatan Watulimo. Tujuh Desa menggrlar musyawarah desa ini, mulai Desa Margomulyo, Dukuh, Slawe, Watulimo, Watuagung, Ngembel dan Pakel.

Dikonfirmasi usai mendampingi Musdes di Desa Margomulyo, Wabup Arifin menyampaikan. “Sebenarnya kalau data inclusif eror itu lebih terkawal lagi, artinya yang harusnya dapat tapi tidak terdaftar, tapi yang terdaftar tidak seharusnya dapat itu relatif sekarang lebih terkawal,” ucapnya.

“Terus kemudian masih ada data orang meninggal yang masih tercatat, padahal kita mendapatkan data rilis PBDT yang paling akhir. Orang yang sudah meninggal masih banyak, orang pindah masih tercatat dan yang pindah status menjadi mampu, data ganda bahkan disini tadi ada kasus namanya itu ada namun dicari orangnya tidak ketemu.”

“Nah Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan “GERTAK” ini memaksa masyarakat untuk mencari siapa kelompok-kelompok yang paling membutuhkan.”

“Di desa-desa lain memang terdapat data menurun, namun Saya tidak mengharapkan data menurun ini. Karena apa, ini kan 40% data masyarakat berpenghasilan paling rendah. Secara statistik kalau datanya segitu, kita inginkan data kita juga segitu.”

“Tapi yang paling penting sebenarnya perengkingannya. Jadi siapa yang seharusnya maduk kedalam kategori desil 1 atau yang terparah itu siapa, yang agak menfingan itu siapa, inilah yang paling penting. Karena program-program itu di design sesuai dosisnya.”

“Katakanlah sakitnya saya karena demam panas, ada yang sudah typus, atau ada yang harus operasi, harusnya penanganannya beda-beda. Kemiskinanpun juga begitu, dalam kemiskinan juga ada yang namanya indeks keperahan/ kedalaman kemiskinan. Jadi diantara kemiskinan itu kesenjangannya juga ada.”

“Makanya masyarakatlah yang paling tahu, siapa-siapa masyarakat yang paling membutuhkan. Jadi spiritnya itu, di desa-desa sudah cukup baik, di desa-desa memang masih ada yang memaksakan Kepala Desanya atau perangkatnya dapat bantuan. Ada desa yang memaksakan disuruh mencoret tidak mau, tetapi semua anggota masyarakatnya didaftarkan. Karena masih ada yang berpandangan sedikit sekali seperti itu, namun kebanyakan masyarakat berpendapat bisa mendefinisikan kemiskinan itu sendiri. Masyarakat bukan sebagai obyek, melainkan sebagai subyek untuk menentukan data kemiskinan ini,” tandasnya.

post-top-smn

Baca berita terkait