Wednesday, 19 December 2018

Tidak Akan Ada Yang Mengadu Domba Saya Dengan Bunda Indah, Itu Salah Satu Orasi Cak Toriq Di Halal Bihalal Kahmi

post-top-smn

Lumajang, SMN – Bupati dan Wabup Lumajang terpilih, cak Toriq dan Bunda Indah, menghadiri Halal bi Halal Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Lumajang, di salah satu Rumah Makan ternama, pada Sabtu (14/7).

Acara tersebut berlangsung gayeng, penuh tawa gembira, dan spesial, karena kedua pemimpin tersebut sama sama berasal dari latar belakang yang sama. Cak Thoriq alumni PMII – NU, sedang Bunda Indah alumni HMI – PII dan Muhamadyah.

Cak Thoriq dan Bunda Indah, bersama-sama diberikan kesempatan untuk ‘berorasi’ di hadapan para kader HMI dan KAHMI Lumajang, dan cak Thoriq membacakan orasi yang ditulisnya, dengan bahasa dan tutur yang indah.

“Sejak awal saya bersama Bunda Indah, sudah membangun komitmen untuk berbagi tugas. Bagi saya itu bukan beban berat. Bunda punya kemampuan sebagai seorang birokrat dan keahlian di bidang pemerintahan.

Menurut saya, karena paham birokrasi, kedepan biar Bunda Indah yang ngatur. Itu komitmen awal saya dengan Bunda yang disampaikan di depan publik, agar mereka paham dan mengikat. Kalau disampaikan kepada masyarakat, maka mereka juga merekam apa yang saya sampaikan. Jadi saya bisa bertemu dengan siapapun tanpa beban.

Makanya, begitu ada camat, kepala dinas yang mengucapkan selamat atas kemenangan saya dalam pilkada 2018, saya sampaikan ucapan itu ke Bunda Indah. Begitu pula saat ada camat beserta seluruh perangkatnya mau ke rumah, saya tidak bisa menolak. Tak kekurangan akal, saya undang Bunda Indah agar bisa bertemu juga dengan mereka di rumah saya.

Saat itu saya sampaikan kepada mereka, bahwa kedepan semuanya harus ikut ritme saya dan Bunda Indah. Tidak boleh lagi ada intimidasi, ancaman. ASN harus bekerja secara profesional, tidak carut-marut seperti sekarang. Setelah itu saya serahkan kepada Bunda Indah untuk memberikan masukan kepada mereka.

Riilnya tugas saya nanti sudah jelas. Saya akan keliling dan turun langsung ke masyarakat. Karena banyak sekali masyarakat yang belum mendapatkan sentuhan-sentuhan dari penguasa sebelumnya. Program-program pemerintah selama ini hanya sekilas-sekilas saja. Banyak jalan rusak, ada orang sakit yang tidak cepat ditangani oleh pihak rumah sakit maupun puskesmas dibiarkan begitu saja, tidak tersentuh apapun. Saya nanti yang turun langsung dan jika ditemukan persoalan di tingkat bawah segera akan dikoordinasikan dengan Bunda Indah agar tertangani secara cepat.

Jadi, saya keluar dari kantor dan keliling ke rakyat tidak ada beban, tidak akan galau karena di pemerintahan ada Bunda Indah yang mengawasi. ASN tidak ada yang sering telat datang ke kantor. Birokrasi bisa jalan dengan sendirinya. Saya tinggal melengkapi urusan-urusan untuk bisa saling melengkapi.

“Kalau urusan pemerintahan itu Bunda Indah. Kalau urusan kemasyarakatan, stabilitas politik, urusan kondusifitas daerah, bagaimana membangun jaringan investasi, bagaimana mensinergikan progam pemerintah pusat, provinsi, dan daerah, maka Saya lah bupatinya”.

Itu yang kemudian menjadi pembahasan yang liar. Banyak yang bilang dimana ada bupati dua.. yang ada bupati dan wakil bupati. Jangan khawatir. Undang-Undangnya tetap. Saya dan Bunda Indah berkomitmen berbagi tugas soal kewenangan masing-masing.

Saya menyadari, saya ini kader PMII-NU (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia-Nahdlatul Ulama), Bunda Indah HMI-PII (Himpunan Mahasiswa Islam-Pelajar Islam Indonesia) dan Muhammadiyah. Awal-awal ketemuan, Bunda Indah jarang sekali bercanda. Bareng ketemu tiap hari katut kebablasan bercandanya.

Demikian pula dengan saya, Kebiasaan Bunda Indah, saat sosialisasi atau kampanye, lalu dengar adzan, dan harus berhenti dulu, mencari masjid untuk shalat berjamaah. Waduh, Bunda Indah ini, kok segitunya….jadi orang Muhammadiya. Akhirnya, yang semula saya agak ndleyer-ndleyer akhirnya bisa mengikuti arus Bunda Indah. Bunda Indah yang awalnya rodhok kenceng bisa bercanda ketika dengan saya.

Sekarang ada isu, mungkin juga perencanaan politik orang lain yang akan mengadu-domba saya dengan bunda. Saya katakan, tidak akan ada yang mengadu domba saya dengan Bunda Indah. Siapapun itu orangnya. Wong yang diomongkan orang ke saya, saya sampaikan ke Bunda Indah, dan yang diomongkan orang ke Bunda Indah, Bunda Indah sampaikan ke saya. Jadi, kami berdua menjaga posisi dan sikap masing-masing untuk saling memahami.

Saat pertama kali bertemu, Bunda Indah mau memberi masukan ke saya, masih mencari bahasa yang halus. Saya sampaikan gak apa-apa Bunda. Saya berterima kasih dapat masukan. Begitu juga ketika Bunda Indah membuat status yang agak…., agak kenceng, saya memberikan masukan kalau status itu kurang elok, kurang pas. Akhirnya, ada titik temu. Nah, titik temu dan kesamaan ini diharapkan terjalin dan tercipta dalam pemerintahan Lumajang kedepan. Ada sinergitas dan rukun antara bupati dan wakilnya”.

Sementara Bunda Indah, yang berdiri berdampingan dengan Cak Thoriq, menyampaikan, “Pertama-tama saya ingin sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Abang tercinta Saya, Bang Buntaran. Salah satu faktor kemenangan saya adalah dr. Buntaran.

Semangat saya untuk menang waktu itu semakin tinggi ketika melihat pemerintahan ini diacak-acak dan dirusak oleh alumni sekolah kader pemerintahan sendiri. Semangat saya semakin tinggi untuk menang ketika Bang Buntaran terus dizalimi. Seandainya saya belum pensiun, maka saya lah yang akan ada di garis depan membela beliau. Sayang saya sudah pensiun (Indah tertawa). ‘Tenang Pak Bun, saya pasti menang’. Itu kalimat yang selalu saya sampaikan kepada beliau waktu itu.

Jadi, pemerintahan ini sudah tidak berjalan pada jalurnya. Oleh karena itu, saya berkali-kali sampaikan, bahwa setelah kami berdua dilantik targe 100 hari pertama adalah REFORMASI BIROKRASI. Saya akan merubah mental aparatur menjadi mental berpemerintahan yang benar dan bersih.

Saya angkat topi betul, saya kagum betul kepada aktor yang mampu mem-brain washing (mencuci otak) aparatur di lingkup Pemkab Lumajang. Sampai-sampai seorang Plt Bupati tidak digubris ketika memanggil pejabat-pejabatnya. Benar-benar cuci otak yang berhasil. Ini yang harus kami benahi, luruskan, mentalnya diubah. Sulit memang, tapi saya berkomitmen untuk memperbaiki dan harus berhasil.

Hari ini, di ruang ini, kepada dinda, kanda semua, saya sampaikan saat pilkada kemarin anggota KAHMI terpecah menjadi tiga. Secara personal, mereka ada yang militan ke paslon bupati nomer 1, nomer 2 dan nomer 3. Saya berikan penghargaan setinggi-tingginya karena KAHMI mampu mempertahankan dan menjadi independensinya dengan tidak memberikan statmen apapun atas nama KAHMI secara kelembagaan. Hal inilah yang memudahkan kita untuk kembali bersatu. Ayo bersatu kembali. Yang dulu terpecah-pecah ayo segera kembali lagi. Kita bangun Lumajang bersama-sama.

Saya dan Cak Thoriq 2 karakter yang berbeda, tetapi mudah disatukan karena punya komitmen yang sama. Saya mau diajak berkoalisi dan berpasangan dengan Cak Thoriq karena Cak Thoriq politisi muda yang teguh memegang komitmen. Saya percaya kita tak akan bisa diadu domba seperti yang disampaikan Cak Thoriq tadi.

Perlu diketahui juga, bersama Cak Thoriq saya akan menyelamatkan keputusan Pak Buntaran yang dikeluarkan 2 hari sebelum jabatan Plt Bupati nya berakhir. Kita akan amankan kebijakan beliau. Apa alasannya? Pertama menjaga martabat beliau sebagai Plt Bupati saat itu. Kedua beliau senior saya dan sahabat almarhum kakak saya.

Oya, banyak orang bertanya, Cak Thoriq dan Bunda Indah menangnya kok banyak, ya? Terus terang, setiap hari selama 6 bulan kami turun ke 8 hingga 10 titik. Kami bertemu masyarakat. Sampai-sampai Cak Thoriq sering minta libur tidak turun ke bawah. Saya bilang ke Cak Thoriq ‘sampeyan pingin menang opo ndak, cak? (Cak Thoriq tertawa).

Bayangkan, di Pasirian survenya kita kalah. Bahkan 3 kali survey tetap kalah. Padahal mimpi saya di Pasirian harus menang. Saya sampaikan ke Cak Thoriq. Cak, aku kepengin di Pasirian dan Lumajang kudu menang akeh. Yang lain gampang. Akhirnya 3 hari berturut-turut kami turun ke Pasirian. Tiap hari 8 titik dan titik kelima pasti kami berpisah. Sampai Cak Thoriq pergi Umroh saya turun sendirian ke Pasirian selama 3 hari. Akhirnya di sana kami menang banyak.

Diakhir sambutan ini, saya dan Cak Thoriq butuh teman-teman KAHMI berdiskusi demi kemajuan Lumajang. Tidak usah formil. Bisa dalam bentuk jagongan di Pendopo setiap ada kesempatan.

Yang terakhir, sampaikan kepada Bapak As’at, Pak Haji Thoriq, Aba Rofik, dan Mas Nurul permohonan maaf kami bilamana ada kalimat yang menyakiti hati selama pilkada. Keempat orang ini hebat. Oleh karena itu, jika berkenan berikan kami masukan dan saran yang baik demi kemajuan daerah ini”.

Di akhir sambutannya, cak Thoriq berharap KAHMI ikut terlibat secara aktif dalam percepatan pembangunan di Lumajang. “Terkadang saya berpikir begini, tidak bisa hal-hal yang butuh percepatan dalam pembangunan dan inovasi-inovasi kreatif hanya ditangani kawan-kawan ASN. Oleh karena itu, kami butuh mantan-mantan aktivis mahasiswa seperti KAHMI. Tidak ada pilihan lain selain daerah ini harus maju,” imbuhnya. (Atk)

post-top-smn

Baca berita terkait