Thursday, 21 June 2018

Talud Ambrol Ditinjau Komisi IV DPRD Ngawi

post-top-smn
Talud ambrol

Talud ambrol

Ngawi, SMN – DPRD Ngawi tak tinggal diam dengan sorotan terhadap ambrolnya bangunan talud penahan tanah (TPT) di Dea Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar. Talud dengan panjang 60 meter dan ketinggian sekitar 16 meter itu, dibangun dengan dana milik desa secara swakelola. Nmaun, talud ini ternyata ambrol dan diduga dipicu tidak adanya besih penahan pada talud.

Siswanto Wakil Ketua Komisi I DPRD Ngawi mengatakan Komisi I sudah memanggil pihak-pihak terkait seperti internal pemerintahan desa dalam hal ini Kepala Desa (Kades) Pelang Lor selaku pengguna anggaran (PA) dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.

“Pihak kami dalam hal ini Komisi I sudah memanggil mereka yang terlibat dalam proyek talud itu baik desa maupun dinas. Soalnya kejadian ambrolnya talud itu sudah menjadi ajang pembicaraan publik sehingga apapun itu harus ada yang bertanggung jawab,” terang Siswanto Wakil Ketua Komisi I DPRD Ngawi melalui via selular, Senin (23/01).

Menurut legislator dari PKS ini, ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam hubungan fungsi pembinaan antara desa, kecamatan dan BPM. Beber dia, dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Komisi I DPRD Ngawi pada Jum’at pekan kemarin, (20/01), ada beberapa item pekerjaan proyek talud dinilai menyalahi prosedur.

“Hasil sidak kemarin itu memang ada beberapa dugaan hasil evaluasi kami seperti salah perencanaan pada awal pekerjaaan sehingga mempengaruhi proses selanjutnya,” jelasnya.

Paparnya, proyek talud itu menyedot anggaran sekitar Rp 457 juta bersumber Dana Desa (DD) 2016. Pembangunannya dinilai memang terkesan asal-asalan. Terlihat proyek sepanjang itu tidak menggunakan kerangka besi dan bahan material yang kurang bagus. Disisi lain proses pemadatan tanah terkesan kurang merata sehingga jika terjadi hujan tanah baru hasil urugan mudah tergerus air.

“Dan perlu diingat lagi setahu kami proyek talud seperti dipinggiran kali semacam ini harus dibedakan dengan talud ditengah sawah terkait konstruksinya. Kalau terjadi seperti ini terus ambrol siapa yang rugi jelas masyarakat desa setempat kan,” urai Siswanto.

Sementara itu dari beberapa informasi disebutkan ambrolnya talud tersebut terjadi setelah satu minggu proses finishing pekerjaan yang dimulai sekitar bulan September 2016 lalu. Sebelum peristiwa terjadi kondisi talud sudah terlihat retak dibeberapa bagian sehingga memicu terjadinya ambrol setelah diguyur hujan. Selain itu juga disebutkan jika proyek swakelola bersumber dari DD sama sekali tidak memakai kerangka besi sebagai penguat bangunan. (ari)

post-top-smn

Baca berita terkait