Friday, 22 June 2018

Susunan Pengurus Dibatalkan, Warga Ketajek Lega

post-top-smn

Koperasi Tani Ketajek Makmur

IMG-20170202-WA0003 Jember, SMN – Sejumlah perwakilan warga di wilayah kebun Ketajek Kecamatan Panti sedikit lega atas pembekuan dan Pembatalan Susuanan Pengurus Koperasi Tani Ketajek Makmur. Hal itu sempat disampaikan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Jember, kepada perwakilan warga kebun Ketajek, kemarin siang.

Salah satu perwakilan warga kebun Ketajek, H Munawaroh kepada sejumlah media mengungkapkan bahwa dirinya yang mewakili 668 warga kebun Ketajek yang sudah terdaftar mengatakan jika sedikit lega atas jawaban dari kantor Dinas Koperasi.

“Jawaban dari Dinas Koperasi kepada kami beberapa waktu yang lalu adalah untuk membuat kepengurusan yang baru dengan menunjuk saya sebagai pengurus sementara atas dibekukannya Koperasi Tani Ketajek Makmur ini,” kata H Munawaroh, kemarin siang kepada wartawan.

Dinas Koperasi Kabupaten Jember, menurut H Munawaroh telah membatalkan susunan pengurus yang terbentuk saat ini dengan kepemimpinan Ketua Suparjo tersebut dan segala bentuk kegiatan dan hasilnya dianggap illegal.

“Hal itu berdasarkan hasil rapat Dinas Koperasi tertanggal 8 Juni 2015 lalu, jadi Pengurus Koperasi Tani Ketajek Makmur itu dianggap sudah tidak ada, maka dari itu saya ditunjuk untuk menjadi pengurus sementara untuk melakukan perubahan,” bebernya.

Dan dikatakan H Munawaroh, bukan hanya sekitar 38 orang saja yang menjadi pengurus dan anggota Koperasi Tani Ketajek Makmur itu, melainkan sejumlah 668 orang yang harus menjadi poengurus dan anggotanya.

“Kalau pada kepengurusan sebelumnya, memang hanya sekitar 38 orang saja yang menjadi pengurus serta anggota koperasi, tetapi berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Nomor 188.45/218/2012 dikatakan bahwa daftar nama-nama masyarakat hasil verifikasi berjumlah 668 orang yang berhak secara hukum untuk menjadi anggota dan pengurus Koperasi Tani Ketajek Makmur tersebut,” ujarnya lagi.

Diutarakan H Munawaroh, bahwa dirinya tidak dimasukan dalam struktur kepengurusan ataupun sebagai anggota Koperasi Tani Ketajek Makmur waktu itu.

“Jangankan ada Rapat Anggota Tahunan (RAT), diajak jadi anggota saja kami tidak pernah, ya hanya 38 orang itu saja selain 668 orang tersebut, 3 tahun vakum loh. Maka dari itu, kami ingin memperbarui kembali pengurus Koperasi ini, sebab ini sebagai wadah kami dalam beraspirasi nantinya demi kesejahteraan semuanya bukan 38 saja tetapi 668 orang itu,” tambahnya.

Sementara itu, menurut Ketua Serikat Tani Independen (Sekti) Jember, Muasim mereka yang sempat mengungkapkan kepada Komisi A dan Komisi B bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Jember, ternyata pihak Dinas Koperasi telah mengeluarkan surat pembekuan dan pembatalan atas susunan kepengurusan Koperasi Tani Ketajek Makmur itu tertanggal 8 Juni 2015.

“Kedepan Sekti akan mendorong organisasi tanah lokal seperti Kompak, yang dipimpin H Munawaroh ini yang ingin mempunyai wadah koperasi ini, sebab banyak ketidakpastian pengurus dalam mengelolah koperasi tersebut, sampai 3 tahun tanpa ada RAT ataupun kegiatan yang berasaskan koperasi,” kata Muasim kepada wartawan.

Koordinasi dengan pihak dinas sudah dilakukan oleh Kompak tersebut, kata Muasim kepada media.

“Mungkin dalam beberapa minggu ini, pihak Kompak dengan H Munawaroh akan segera mengundang dinas Koperasi untuk melakukan pembentukan kepengurusan yang baru dengan jumlah anggota 668 orang tersebut,” tambahnya.

Dan pada era kepengurusan yang lama, Koperasi ini hanya dibuat alat untuk mendapatkan uang dari hasil sewa menyewa lahan yang bukan dari 668 porang yang telah didaftar tersebut.

“Ya memang kenyataannya, banyak lahan yang disewakan bukan dari 668 orang tersebut namun disewakan kepada oarng lain dengan biaya per setengah hektarnya Rp 1,5 juta. Padahal ke 668 orang itu mempunyai SK Bupati loh,” katanya lagi.

Dan ditegaskan Muasim, bahwa pihak Dinas Koperasi menyarankan agar Koperasi Tani Ketajek Makmur tidak dibekukan. Namun seluruh warga ahli waris tanah atau 668 orang tersebut dimasukkan semua ke dalam keanggotaan koperasi, kemudian bermusyawarah dan memutuskan apa yang diinginkan dari seluruh anggota.

“Jadi bukan dibekukan, tetapi adanya sebuah revitalisasi koperasi,” pungkas Muasim. (atk)

post-top-smn

Baca berita terkait