Friday, 20 July 2018

Satlantas Survey Jembatan Jalan Nasional, Ini Hasilnya

post-top-smn

LUMAJANG, SMN – Kasat Lantas Polres Lumajang bersama Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Kabupaten Lumajang melaksanakan survey kondisi jembatan pada jalan nasional di Kabupaten Lumajang, Jumat (20/4) pagi hingga siang tadi.

Dari pantauan awak media dilapangan, ada beberapa jembatan yang disurvey, seperti Jembatan Gerobokan – Kedungjajang, Jembatan Bondoyudo – Kedungjajang, ️Jembatan Merah – Jl Imam Bonjol, Jembatan Belem – Labruk Kidul dan Jembatan Laban – Labruk Lor.

Menurut Kasat Lantas Polres Lumajang, ️AKP Hendry Ibnu Indarto, SH, SIK, kegiatan diawali dengan persiapan untuk menentukan sasaran dan cara bertindak pelaksanaan survey bersama FLLAJ Kabupaten Lumajang yang dimulai dari ruang Kasat Lantas Polres Lumajang.

“Sasaran giat ini adalah melihat kondisi jembatan yang memiliki resiko kerusakan di jalur Nasional Kabupaten Lumajang,” terangnya saat ditemui awak media di salah satu lokasi survey.

Selain Kasat Lantas Polres Lumajang, kegiatan ini juga dihadiri oleh anggota FLLAJ lainnya seperti KBO Satlantas Polres Lumajang-Ipda Joko Triono, Kanit Laka Satlantas Polres Lumajang-Ipda Dimas Sugeng SH, Kasi Manajemen & Rekayasa Lalin Dishub Kabupaten Lumajang-Heru Purwanto SE, Dinas PU Binamarga Kabupaten Lumajang-Afandi ST, Kasi Kerjasama SatpolPP Kabupaten Lumajang-Samsul Nurul Huda SE, Kasubbid SDA Bappeda Setda Lumajang-Puguh Budilaswono ST, Kasubbid Sarpras & Perhubungan Bappeda Setda Lumajang-Fahrizal MA ST, Ka TU BPPJN Prov Jatim-Eko Orbahadi, dan Pemroses Perijinan BPPJN Prov Jatim-Sakim.

“Kami sangat berterimakasih Forum LLAJ Fast Respons. Sebab giat ini dilakukan karena berkaca pada pengalaman Jembatan Widang Tuban, dan Kita harus segera mengambil langkah,” jelas Kasat Lantas lagi.

Selain itu, kata AKP Hendry, pihaknya masih membutuhkan saran dan rekomendasi Forum LLAJ.

“Hasil investigasi adalah akibat 3 truk muatan lebih bersamaan dalam satu jembatan itu tidak diperkenankan. Nanti secara teknis dan operasional akan kita tuangkan dalam hasil forum,” tambahnya.

Saran dari Kasat Lantas Polres Lumajang, perlu adanya alat ukur, yaitu timbangan portable sebagai dasar penindakan dilapangan.

“Perlu juga rambu petunjuk jumlah kendaraan yang melintas dan tonasenya. Seperti pengalaman di Kutai, pada saat jembatan diperbaiki,  tapi tidak ditutup ya sama juga bohong. Dan disarankan pada Rakor forum LLAJ harus ada anev dan survey secata periodik,” bebernya lagi.

Sedangkan dari pantauan Dinas PU Binamarga Kabupaten Lumajang, Afandi ST, mengatakan bahwa di Kabupaten Lumajang ini terdapat Jalan Nasional yang melintasi wilayahnya.

“Hasil tim investigasi tim dari Jakarta memang jembatan Bondoyudo masuk perencanaan 2018 dan pelaksanaan 2019,” paparnya.

Dan untuk Jembatan Gerobokan, kata Afandi masih terdapat jembatan temporary dan existing.

“️Rencananya, pada Senin (23/4) mendatang kami akan ke Surabaya guna mengkoordinasikan terkait Jalan Lintas Timur (JLT), apakah layak dilewati untuk pengalihan arus dalam masa perbaikan jembatan Bondoyudo,” ungkapnya.

Kalau Jembatan Merah sendiri, ditegaskan Afandi, masih kuat namun, asesoris jembatan perlu diperhatikan.

“️Standart BM (bridge management) max 40 ton. Kalau Jembatan Grobokan pondasinya sudah kuno. Dan ️Kabupaten Lumajang sudah punya Tim Uji Jalan Layak Fungsi, dan sudah ada SKnya,” bebernya.

Sementara dari Kepala TU BPPJN Prov Jatim dan Pemroses Perijinan BPPJN Prov Jatim, hanya menyarankan agar tidak perlu adanya pembongkaran, mungkin jalannya hanya ditutup saja saat perbaikan atau khusus angkutan kecil saja boleh melintas.

Kasi Manajemen dan Rekayasa Lalin Dishub Kabupaten Lumajang, Heri Purwanto SE mengutarakan bahwa pihaknya telah bersurat ke BPPJN untuk evaluasi jembatan-jembatan di wilayah Kabupaten Lumajang.

“Menurut kami jembatan-jembatan dalam kelas kabupaten agar mendapat perhatian dari PU Binamarga. Harus ada pembatasan kecepatan, muatan dan volume kendaraan yang melintas jembatan secara bersamaan,” ujarnya.

Dikatakan Heru, penyebabnya, masih ada sekitar ️80 persen angkutan pasir yang uji KIR nya habis masa berlakunya.

“JBB realita itu 60 ton, padahal sesuai UU hanya 25 ton, dan JBB max 40 ton sesuai Permen PU. Kartu kendali dan pernyataan untuk dasar tindakan tegas dan berat efek jera,” kata Heru.

Seperti Jembatan ️Grobokan, menurut Heru pernah dilaksanakan simulasi 1 jalur 2 lajur, namun hal itu tidak efektif. Apalagi jembatan yang lama itu pembangunan sejak zaman Belanda.

“Perlu dilalksanakan survey terpadu kelayakan jalan, ️KTL perlu perhatian, ️desain difable juga perlu diperhatikan, diperlukan juga Inspeksi secara periodik.

“Bersurat ke ESDM untuk menghimbau perusahaan tambang tentang batas muatan dan kecepatan dan volume, itu sangat penting,” lanjutnya.

Ada masukan juga dari Kasi Kerjasama Satpol PP Kabupaten Lumajang, Samsul Nurul Huda SE, bahwa Jembatan Bondoyudo, Laban, Belen, Jembatan Merah dan Grobokan perlu adanya perhatian.

“Yang penting juga terkait ️tata cara muat dan modifikasi angkutan barang perlu ada tindakan tegas,” ucapnya.

Kasubbid SDA Bappeda Setda Lumajang, Puguh Busia Laswono ST dan Kasubbid Sarpras dan perhubungan Bappeda Setda Lumajang, Fahrizal MA ST, mengatakan juga bahwa adanya koordinasi dengan BPPJN dan PU Prov terkait jalan selain kelas jalan Kabupaten.

Dan Khusus jalan tambang, menurut mereka harus direncanakan rute jalurnya sehingga fokus peningkatan kualitasnya.

️Pendanaan perbaikan akan dibantu koordinasi bila kaitannya dengan jalan nasional. Anggaran forum LLAJ pada tahun ini masih di Dishub akan diefektifkan pada pernecanaan berikutnya.

Hasil temuan dari tim survey, menjelaskan bahwa untuk Jembatan Gerobokan konstruksi lama, itu mengalami retak pada pondasi tengah, lekungan belum diperkuat beton, masih batu bata, permukaan jalan bergelombang yang berpotensi goncangan, railing (pagar jembatan) kurang kuat dan kurang tinggi dan guard rail belum ada.

Untuk Jembatan Bondoyudo, ditemukan retakan di diafragma, terdapat pelat yang berkarat dan robek, elastomer (karet penahan beban) jembatan ada yang hilang.

Sedangkan untuk Jembatan Merah, run mengatakan kalau jembatan masih kuat, beberapa tiang railing retak dan  kontruksi kurang safety.

Jembatan Laban, sebagian balok utama tidak lagi menopang pelat, pada saat dilewati beban berat terjadi defleksi (penurunan), permukaan jalan bergelombang, railing masih kuat, namun trotoar tidak ada.

Dan untuk Jembatan Belem, terdapat perkuatan baja sebagai penanganan darurat, balok utama melengkung, pada saat kendaraan besar berpapasan harus bergantian, permukan jembatan bergelombang, railing masih bagus, dan tidak adanya trotoar.

Rekomendasi dan saran dari hasil temuan survey, dimulai dari Jembatan Gerobokan konstruksi lama, harus ada perbaikan peningkatan struktur, dalam keadaan darurat atau masa perbaikan diperlukan perubahan manajemen dan rekayasa lalin.

Jembatan Bondoyudo, juga harus ada perbaikan sementara sambil menunggu perbaikan tahun 2019. Dan dalam keadaan darurat atau masa perbaikan diperlukan perubahan manajemen dan rekayasa lalin.

Sedangkan Jembatan Merah perlu perbaikan railing. Jembatan Laban perlu perbaikan peningkatan struktur dan perkuatan. Dan dalam keadaan darurat atau maaa perbaikan diperlukan perubahan manajemen dan rekayasa lalin.

Jembatan Belem, perbaikan peningkatan struktur. Dan dalam keadaan darurat atau masa. Perbaikan diperlukan perubahan manajemen dan rekayasa lalin.

Rekomendasi dikeluarkan dari tim survey antara lain, pertama diseluruh jalur jembatan diberikan Rambu peringatan untuk melintas secara bergantian, Rambu Tonase, Rambu batas kecepatan ditargetkan 1 bulan terpenuhi.

Kedua dengan melaksanakan Razia Gabungan untuk penertiban dan efek jera. Dan yang ketiga yaitu dengan melaksanakan survey dan Anev secara periodik. (atik)

post-top-smn

Baca berita terkait