Sunday, 18 November 2018

Saksi Gus Ipul Tolak Tandatangani Rekapitulasi Hasil Suara Pilgub

post-top-smn

Yoyok Sunaryoko, saksi Paslon Cagub nomor 2, menunjukkan form C1 yang tidak lengkap. Saksi paslon 2 menolak rekapitulasi hasil pemungutan suara tingkat Kabupaten Ngawi yang diselenggarakan KPU Kamis (5/7) kemarin.

Ngawi, SMN – Rekapitulasi hasil pemungutan suara Pemilihan Gubernur oleh KPU Ngawi, tidak diterima oleh saksi dari pasangan calon (paslon) Gus Ipul-Puti Soekarnoputri. Hasil rekapitulasi itu sendiri memenangkan paslin nomor satu, Khofifah-Emil sebesar 52,30 persen.

Yoyok Sunaryoko, saksi dari paslon nomor dua menyatakan, alasan menolak bertandatangan hasil rekapitulasi karena menilai beberapa pelanggaran masih terjadi. “Termasuk adanya kekurangan-kekurangan di lapangan, ini bukti penyelenggara tidak siap,” ungkap Yoyok.

Yoyok juga menunjukkan bukti formulir C1 yang dipegang saksi di TPS. Dalam formulir tersebut, banyak kolom yang kosong padahal seharusnya diisi oleh KPPS. “Pembekalan saksi itu kilat, tapi kalau KPPS kan sudah diberi pelatihan oleh KPU, mereka harus lebih siap dan tidak perlu ada kesalahan semacam ini,” ujar Yoyok saat ditanyakan mengapa saksi di TPS tidak memprotes hal itu.

Yoyok juga menyoroti adanya perbaikan-perbaikan yang terus dilakukan dalam formulir bahkan sampai saat rekapitulasi kemarin. Pihaknya juga menyoal tingkat kehadiran pemilih yang hanya 68,17 persen. Adanya belasan ribu warga dalam DPT yang tidak menggunakan hak pilih, menurut Yoyok, adalah bukti kurangnya sosialisasi dari KPU. “Kami bahkan pernah bertemu dengan warga yang tidak tahu apa itu pilgub dan kapan dilaksanakan,” imbuh Yoyok Sunaryoko.

Yoyok Sunaryoko usai menolak menandatangani rekapitulasi, mengaku akan melaporkan semua temuan itu ke tim pemenangan Gus Ipul-Puti tingkat Jawa Timur.

Penolakan dari saksi paslon nomor 2, ditanggapi dingin oleh KPU Ngawi. Menurut Ketua KPU Ngawi, Syamsul Wathoni, penolakan tidak lantas membuat Pilgub dianggap tidak sah. Sementara tentang banyaknya perbaikan yang dilakukan bahkan sampai saat rekapitulasi akhir, tidak menyangkut hasil suara. “Perbaikan itu kan tidak signifikan berpengaruh ke perolehan suara. Tidak mengubah apapun,” ujar Toni, sapaan akrabnya.

Formulir yang tidak lengkap, juga dapat dirunut lagi karena dibuat rangkap 8. “Bisa saja hanya salah satu yang terlewat dan kebetulan yang dibawa saksi dan hal itu sekali lagi bukan menyangkut pada perolehan  suara,” ujar Toni lagi.

Sedangkan tingkat kehadiran justru diklaim KPU, lebih besar daripada penyelenggaraan Pilgub tahun 2013 yang hanya 63 persen. “Kami tidak terpengaruh dengan penolakan tandatangan dari saksi dan tetap menyerahkan hasil akhir rekapitulasi Kabupaten Ngawi ke KPU provinsi Jawa Timur. (ari)

post-top-smn

Baca berita terkait