Wednesday, 24 April 2019

Ruwat Agung Nuswantoro 1950 Saka/2016 Masehi, Tentang Ruwat, Bupati: Tradisi Jauhkan ‘Sengkolo’

post-top-smn
Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, bersama Wabup, Pungkasiadi saat menghadiri acara Mangesti Suro dan gelar Wayang Kulit semalam suntuk dengan lakon Tumuruning Wahyu Sih Nugroho

Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, bersama Wabup, Pungkasiadi
saat menghadiri acara Mangesti Suro dan gelar Wayang Kulit
semalam suntuk dengan lakon Tumuruning Wahyu Sih Nugroho

Kab Mojokerto, SMN – Meski diguyur hujan, acara Mangesti Suro (Resepsi Suro) dan gelar wayang kulit semalam suntuk bersama Ki Dalang Surono Gondo Taruno dengan lakon Tumuruning Wahyu Sih Nugroho di Pendopo Agung Trowulan, Minggu (9/10) malam lalu, tetap menyisakan cerita manis dari tingginya antusias warga atas seluruh rangkaian acara Ruwat Agung Nuswantoro 1950 Saka/2016 Masehi.

Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, yang hadir bersama wakilnya, Pungkasiadi, menyatakan apresiasi dan dukungan penuh untuk segala kegiatan nguri-uri budaya yang mampu meningkatkan potensi wisata. Track record event tahunan “Ruwat Agung Nuswantoro” Pemerintah Kabupaten Mojokerto, hampir mendulang kesuksesan tiap tahunnya. Bupati Mustofa Kamal Pasa ingin agar euphoria acara ini, membawa nama Kabupaten Mojokerto makin berkibar khususnya di sektor pariwisata.

“Ruwat dikenal sebagai tradisi luhur masyarakat Jawa, tujuannya diharapkan untuk menjauhkan sengkolo (bala bencana) seseorang. Sedangkan Ruwat Agung Nuswantoro bisa dimaknai secara mendalam sebagai cita-cita luhur untuk menjauhkan bangsa ini dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kebudayaan dan peradaban tinggi nenek moyang kita, harus senantiasa didukung. Ini termasuk world heritage (warisan budaya dunia), melalui Disporabudpar (Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata), saya harap aset wisata dan event-event kebudayaan yang kita miliki makin berkembang,” harap bupati.

Suami Ikfina Kamal Pasa ini juga berpesan agar selalu bangga dengan kebudayaan tradisional tempat kelahiran. Menurutnya budaya adalah kekayaan yang tidak terkira nilainya. Ruwat Agung Nuswantoro adalah media ideal khususnya bagi masyarakat Kabupaten Mojokerto, untuk terus mengenal dan menjaga warisan besar para leluhur.

“Ruwat Agung Nuswantoro 1950 Saka/2016 Masehi bisa dijadikan kilas balik kehidupan masyarakat, dan menjadi tonggak untuk lebih dekat dengan para leluhur lewat warisan budaya yang diturunkan. Dengan Ruwat Agung Nuswantoro, mari kita bangun kebersamaan dengan prinsip ‘Rumongso melu handarbeni, wajib melu hanggondheli, mulat saliro hangroso wani,” pesannya.

Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, menyerahkan wayangan kepada Ki Dalang Surono Gondo Taruno

Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, menyerahkan wayangan
kepada Ki Dalang Surono Gondo Taruno

Kepala Disporabudpar Kabupaten Mojokerto, Ustadzi Rois, dalam laporan sambutannya mengatakan bahwa seluruh rangkaian acara Ruwat Agung Nuswantoro 1950 Saka/2016 Masehi telah berjalan dengan lancar. Dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang sudah antusias dan berpartisipasi dalam acara.

“Rangkaian acara Ruwat Agung Nuswantoro 1950 Saka/2016 Masehi, dimulai dari prosesi unduh-unduh patirtaan, Kamis (6/10), dilanjutkan prosesi pencampuran sapta tirta dan gelar macapat, Jumat (7/10), Ruwat Sukerto massal yang diikuti oleh 428 peserta pada Sabtu (8/10), Kirab Agung Nuswantoro Majapahit Jumenengan Gusti Prabu Jayanegara ditutup apik acara Mangesti Suro dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk pada malam hari ini. Disporabudpar khususnya, mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang terlibat dan sangat antusias terhadap pelestarian budaya. Kita harap Ruwat Agung Nuswantoro di tahun-tahun ke depan, makin meriah dan menarik wisatawan,” paparnya.(hms/adv/kan)

post-top-smn

Baca berita terkait