Wednesday, 17 October 2018

Ratusan Hektar Padi Diterjang Banjir, Petani Gagal Panen

post-top-smn
Lahan tanaman padi yang terdampak banjir

Lahan tanaman padi yang terdampak banjir

Bojonegoro, SMN – Banjir yang menggenangi sejumlah wialayah di Kabupaten Bojonegoro mengakibatkan kerugian miliaran rupiah. Sawah, rumah dan fasilitas umum rusak. Akibat banjir luapan Sungai Bengawan Solo itu diperkirakan kerugian total mencapai Rp30,4 miliar.

Beberapa tanaman padi rusak. Air yang menggenangi persawahan membuat padi busuk dan mengering. Para petani banyak yang mengalami gagal panen. Salah satunya di Desa Semanding, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.

Sekitar 219 hektar lahan pertanian terendam. Luasan lahan pertanian yang terendam itu hanya yang tergabung dalam kelompok tani. Diperkirakan masih banyak lahan pertanian terendam yang tidak terdata. Air luapan Bengawan Solo itu merendam lahan pertanian setinggi 50-60 centimeter.

Menurut Ketua Kelompok Tani, Karya Tani 2 Desa Semanding, Suwito (59), di Desa Semanding yang gabung di kelompok tani ada lahan pertanian seluas 97 hektar. Dari jumlah tersebut sedikitnya ada 30 hektar lahan pertanian yang tergenang. Lahan pertanian yang tergenang itu area pertanian padi, berusia 50-60 hari.

“20 hari lagi seharusnya panen. Sebelah selatan padinya malah sudah menguning,” katanya, Selasa (6/12/2016).

Suwito menambahkan, pun jika masih ada petani yang memanen padinya, dipastikan hasilnya tidak bisa maksimal dan harganya turun. “Jika masih ada yang dipanen harga dan kualitasnya jelas berkurang. Karena bekas banjir,” jelasnya.

Dari beberapa lahan pertanian yang terendam banjir 60 persen sudan diasuransikan. Sisanya, merupakan lahan pertanian milik warga di luar Desa Semanding. Asuransi pertanian itu, kata dia, sangat membantu petani jika mengalami gagal panen akibat bencana seperti saat ini.

“Per hektarnya, premi sebesar Rp38 ribu dan mendapat subsidi dari pemerintah menjadi Rp 18 ribu yang dibayarkan setiap musim panen,” ungkapnya.

Sedangkan petani yang mengalami kerugian gagal panen akibat bencana itu bisa melakukan klaim asuransi sebesar Rp 6 juta per hektar. ” Sebanyak 215 petani yang tergabung di kelompok tani belum ada yang mengajukan klaim asuransi,” tambahnya.

Menurut salah seorang petani Desa Semanding, Nurhasyim, sudah sekitar seminggu lahan pertanian terendam. Air luapan Bengawan Solo itu merendam lahan pertanian bercampur lumpur. Tinggi genangan mencapai 60 centimeter. Banjir seperti ini kata dia, jarang terjadi.

“Perhektarnya kerugian produksi bisa mencapai Rp 3juta sampai Rp4 juta. Mulai untuk tenaga traktor, biaya tanam, pupuk dan lain-lain,” jelasnya.

Dia mengaku belum tahu apakah setelah mengalami gagal panen ini akan mendapat bantuan dari pemerintah daerah. Dia juga mengaku pasrah dengan dampak banjir yang terjadi itu. “Tidak pernah ada sosialisasi tentang akan dibantu benih setelah banjir,” ungkapnya.

post-top-smn

Baca berita terkait