Monday, 23 July 2018

PTPN II Tidak Menghormati Rekomendasi DPRD Sumut

post-top-smn
Ikatan Pemuda Karya (IPK), Pemuda Pancasila (PP) Beserta Masyarakat Desa Lau Cih Tuntut PTPN II Atas Perampasan Tanah Seluas 850 Hektar
 ipk7PP1
Medan, SMN – Ratusan massa terdiri dari Masyarakat Ulayat Sibayak Desa Lau Cih beserta dua kubu OKP dari Ikatan Pemuda Karya (IPK) dan Pemuda Pancasila (PP) melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor PTPN II Kwala Bekala, di Desa Simalingkar A, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deliserdang untuk menyampaikan aspirasi, yang dituding merampas tanah masyarakat seluas 850 hektar.
 
Yang paling menariknya, dua kubu Organisasi Kepemudaan dari Ikatan Pemuda Karya (IPK) yang mengenakan seragam loreng biru cokelat dan Pemuda Pancasila (PP) yang mengenakan seragam loreng merah yang acap kali bentrok, kali ini kompak mendukung masyarakat Desa Lau Cih menghentikan aksi penggusuran yang rumahnya dihancurkan pihak PTPN II seluas 850 hektar yang diklaim PTPN II sebagai miliknya.
 
Pantaun Suara Media Nasional, terlihat ratusan personel kepolisian yang berjaga dengan tameng di dalam pagar PTPN II. Salah koordinator aksi, Faisal Ginting, berorasi dalam tuntutannya, “Ayo masyarakat semua maju. Jangan takut dan jangan mundur, PTPN II telah merampas tanah lelulur kita, PTPN II tidak menghormati rekomendasi DPRD Sumut yang dicapai lewat Rapat Dengar Pendapat (RDP) beberapa waktu lalu. Dalam surat rekomendasi tersebut, DPRD Sumut meminta agar seluruh aktivitas di atas lahan yang menjadi polemik tersebut dihentikan. “Sudah ada surat rekomendasi dari hasil RDP di DPRD Sumut agar seluruh aktivitas di lokasi ini dihentikan sementara. Kenapa mereka mengabaikan surat tersebut,” kata koordinator aksi,, Kamis (10/8).
 
Mendengar itu, masyarakat Desa Lau Cih beserta Ikatan Pemuda Karya (IPK) dan Pemuda Pancasila (PP) yang ikut dalam aksi mulai mendorong gerbang kantor PTPN II sehingga terjadi aksi dorong mendorongan gerbang antara ratusan polisi terjadi dan akhirnya polisi membiarkan gerbang tersebut roboh. Namun Polisi memasang pagar betis untuk mencegah massa merangsek masuk ke kantor tersebut.
 
“Kami datang kemari untuk menyampaikan tuntutan kami. Pak polisi jangan menghalangi kami. Kalau anda mengatakan ada di sini karena undang-undang, maka kami juga hadir disini karena undang-undang,” teriak pengunjuk rasa melalui pengeras suara.
 
Diketahui, rencananya PTPN 2 dalam waktu dekat akan membangun perumahan rakyat di tanah seluas 850 hektar itu. Kapolsek Pancur Batu, Kompol Choky Milala yang hadir dilokasi berusaha menenangkan warga yang mulai tak bersahabat, bahkan cenderung anarkis. Dia menyebut, situasi yang panas baru reda setelah itu polisi memperbolehkan sejumlah perwakilan massa untuk masuk ke dalam kantor. Mereka diperbolehkan menyampaikan tuntutannya di ruang pertemuan.
 
Mendengar itu, koordinator aksi massa Faisal Ginting lantas beteriak dari toaknya untuk menenangkan massa yang mulai beringas. “Buat nande-nande kami, mohon bersabar. PTPN 2 sudah bersedia menerima kita,” ujar Faisal lagi.
 
Diwawancarai usai pertemuan, Manager Operasional PTPN 2 Guntur Ginting mengatakan, pihaknya sepakat menghentikan sementara segala aktivitas. Guntur mengaku, mereka akan mematuhi permintaan masyarakat dengan menghentikan aktivitas selama 5 hari di lahan seluas 850 hektar.
 
“Hasil pembicaraan tadi, setelah kami melihat kondisi seperti ini, kami akan hentikan aktivitas sementara selama lima hari,” ujarnya. Dijelaskannya, pembersihan lahan seluas 850 hektar itu untuk didirikan bangunan dan dalam waktu dekat akan berdiri perumahan untuk rakyat. “Memang akan kami bangun perumahan. Ini sinergi antara Perum Perumnas dengan BUMN,” jelasnya.
 
Akhirnya aksi unjuk rasa membubarkan diri setelah tokoh pemuda Thomas Purba dan Sumbul Sembiring berdialog dengan Kapolsek Pancur Batu, Kompol Choky Milala.(DJ Darwin Simanjuntak)
post-top-smn

Baca berita terkait