Monday, 22 October 2018

Produksi Mulai Surplus, Jagung Kian Menjauh dari Impor

post-top-smn
Ilustrasi

Ilustrasi

Surabaya, SMN – Produksi jagung secara nasional tahun ini meningkat dan diperkirakan mengalami surplus. Hal itu memicu pemerintah untuk menghentikan program impor jagung yang hingga kini masih dilakukan oleh Perum Bulog.

“Pemerintah bertekad akan menghentikan impor jagung tahun depan dengan mendorong penggunaan dan pembelian benih yang diproduksi di dalam negeri. Termasuk perluasan areal tanam. Tahun ini Indonesia mampu menekan impor komoditas hingga sekitar 3,6 juta ton,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman melalui rilis, Senin (21/11).

Di tahun 2016, Kementan menargetkan produksi jagung sebesar 21,53 juta ton. Produksi itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pakan. Kebutuhan industri terdata sebanyak 750 ton per bulan dan total kebutuhan jagung nasional 1,55 juta ton per bulan.

Sementara produksi minimal jagung  pada 2016 yang dalam kondisi La Nina ditargetkan 21,53 juta ton. Sehingga, diprediksikan produksi jagung tahun ini akan mengalami surplus hingga 1,3 juta ton. Dengan meningkatnya produksi saat ini, kata dia, maka rencana impor pun akan semakin menjauh.

Upaya Pemerintah selanjutnya, kata dia, akan dilakukan dengan menyerap benih jagung yang dihasilkan anak bangsa. “Berapa pun banyaknya, akan kami serap untuk kami. Bagi secara gratis kepada lahan petani yang luasnya 3 juta hektare,” tutur pria asal Makasaar tersebut.

Beberapa waktu lalu, kata Amran, Presiden  Joko Widodo telah meluncurkan benih jagung hibrida Nakula Sadewa. Produktivitasnya 10 ton per hektare. Bahkan ada yang 13 ton per hektare. “Hasil panen itu akan kami beli berapa pun banyaknya produksinya,” tuturnya.

Menurut dia impor jagung selama ini hanyalah keterpaksaan. “Kalaupun masih mau impor, sebaiknya benih saja yang jauh lebih murah dibanding impor jagung yang umumnya didatangkan dari India, Brasil, Thailand, dan Amerika Serikat,” pungkasnya. (afr/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait