Wednesday, 20 March 2019

Petani di Kaki Sinabun Berharap Solusi dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Karo

post-top-smn

Petani di lingkar Sinabung.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah kira-kira nasib para petani yang tinggal di sekitar kaki Gunung Sinabung saat ini. Pasca terjadinya erupsi Sinabung tahun 2010 lalu, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian, sungguh memprihatinkan.
Semburan abu vulkanik dan muntahan lahar dingin telah meluluhlantakkan hampir seluruh lahan pertanian warga terutama yang berada di radius kurang dari 10 kilometer dari puncak Sinabung.
Kondisi terparah ada pada dua kecamatan yaitu Kecamatan Payung dan Tiganderket.
Sejumlah petani di dua kecamatan tersebut saat ini tengah menjerit. Sebagian besar tanaman milik petani tak bisa tumbuh secara maksimal. Hal ini diakui karena hama penyakit yang menyerang tanaman sudah semakin banyak. Begitupun kualitas bibit dan pupuk yang tidak terjamin kualitasnya. Belum lagi harga komoditi pertanian yang anjlok, sehingga banyak petani yang merugi.
D Sitepu (43) salah satu warga petani di desa Batukarang, Kecamatan Payung yang ditemui awak media, Minggu (10/3) menuturkan, kehidupan para petani di desanya sekarang ini begitu sulit. “Jangankan untuk anak sekolah, untuk makan sehari-hari saja sudah bingung mencari,” keluhnya.
Warga Tiganderket harus mencari penghasilan lain dengan cara bekerja di ladang orang sebagai buruh tani harian atau biasa disebut petani aron. Berladang aron seringkali letaknya cukup jauh dari tempat tinggal mereka, sehingga butuh tenaga lebih. “Harus dijalani demi menyambung hidup,” ungkapnya.
Salah satu warga bernama Elieser Bangun (52 thn) warga petani asal desa Sukatendel, Kecamatan Tiganderket, juga  mengaku kesulitan menanam karena tanah tak sesubur dahulu.
“Saat ini untuk membuat tanaman tumbuh bagus sudah sulit walaupun bibit tanaman, pupuk dan obat anti hama banyak dijual,” katanya.
Elieser berharap Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo memiliki solusi atas permasalahannya.
“Seharusnya Dinas Pertanian dan Perkebunan Karo punya solusi untuk permasalahan petani saat ini. Apalagi setelah erupsi Sinabung. Kondisi pertanian di daerah kami semakin terpuruk,” kata Elieser.
Selain itu katanya, harga komoditi pertanian pun sering anjlok. Sehingga banyak petani yang merugi karena biaya pemeliharaan mulai dari masa tanam hingga panen sudah tidak sesuai.
“Apa solusi dan peran pemerintah? Ada Dinas Pertanian, ada Dinas Perdagangan. Kemana mereka semua,” ujar Eliser dengan nada kesal.
Menanggapi hal tersebut, salah satu pemerhati pertanian Kabupaten Karo, Marko Sembiring mengatakan, seharusnya Pemkab Karo tidak tinggal diam melihat situasi para petani saat ini. Apalagi sebagian besar masyarakatnya adalah petani dan Tanah Karo merupakan salah satu penyumbang hasil pertanian terbesar di Sumatera Utara.
“Jangan membiarkan petani menderita. Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah ini untuk menjamin kehidupan petani,” sebut Marko.
Menurut dia, salah satu solusi yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan membuat tata kelola pertanian masyarakat. Sistem pertanian modern yang telah dilakukan daerah-daerah yang mayoritas masyarakatnya adalah petani, dapat ditiru. Begitu juga dalam hal pengawasan peredaran bibit dan pupuk yang akan digunakan para petani.
Selain itu katanya, peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga tak kalah pentingnya. Seharusnya dinas tersebut harus bisa menyelamatkan hasil pertanian masyarakat. Sehingga petani tidak sampai mengalami kerugian seperti sekarang ini. (Ius)
post-top-smn

Baca berita terkait