Friday, 19 October 2018

Perdagangan Satwa Dilindungi, Berhasil Diungkap Polres Lumajang

post-top-smn

barang bukti 1 burung rangkong.

Lumajang, SMN – Satuan Reserse Kriminal Polres Lumajang Unit Tipidter, bersama Resmob Polres Lumajang, berhasil mengungkap praktik perdagangan satwa dilindungi pada Kamis (26/07).

Kasus itu berhasil diungkap pada Kamis sore, di rumah salah seorang warga berinisial MT di Desa Mlawang, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang.

MT diduga kuat menyimpan dan memperjualbelikan berbagai jenis satwa yang dilindungi di kediamannya.

“Kami menerima laporan masyarakat mengenai adanya aktivitas perdagangan satwa dilindungi di daerah Klakah, dan kami langsung menerjunkan petugas untuk menindaklanjuti laporan tersebut,” kata Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Hasran.

Dalam pengungkapan itu, petugas mengamankan barang bukti berupa lima individu burung, yang terdiri dari satu individu burung rangkong, dan empat individu burung elang alap-alap, di rumah terduga pelaku.

Dari semua jenis burung tersebut, merupakan satwa yang dilindungi, dan  masuk dalam daftar lampiran Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999, tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.

Dalam operasi tersebut, MT tidak ditemukan  petugas saat tiba di lokasi, dan hanya berhasil mengamankan barang bukti.

Menurut Kasat, terduga ini merupakan salah satu jaringan dari sindikat besar perdagangan satwa dilindungi di Jawa Timur, yang sering memasarkan melalui jejaring sosial media Facebook.

“Selain melakukan perdagangan satwa, MT juga merupakan mantan napi terpidana narkoba yang telah bebas tiga bulan sebelumnya,” jelas Kasat.

Karena perbuatannya tersebut,  MT dijadikan DPO, dan dalam pengejaran  petugas, karena saat dilakukan penangkapan, dia berhasil kabur.

Karena itu, MT diduga melanggar Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, mengenai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, karena dengan sengaja menangkap, menyimpan, memiliki, memelihara dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

“Ancaman hukumannya, yaitu kurungan penjara maksimal 5 tahun, dan denda Rp 100 juta,” tegasnya.

Barang bukti yang diamankan petugas, selanjutnya akan diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Lumajang, untuk mendapatkan perawatan dan penanganan lebih lanjut, agar tidak terjadi hal buruk pada satwa tersebut. (atk)

post-top-smn

Baca berita terkait