Monday, 23 July 2018

Penyuluh Ujung Tombak untuk Memberikan Pengenalan, Pengertian dan Pemahaman dalam Bidang Pendidikan Agama di Masyarakat

post-top-smn
Wagub.Jatim, Drs. H. Saifullah Yusuf saat bersama Bupati Lumajang, Kapolres dan Kodim 0821 Lumajang Rektor IAIN Jember, Kepala Kemenag. Jatim, Kepala Kemenag Kab. Lumajang, serta Kepala OPD dilingkung

Wagub.Jatim, Drs. H. Saifullah Yusuf saat bersama Bupati Lumajang, Kapolres dan Kodim 0821 Lumajang Rektor IAIN Jember, Kepala Kemenag. Jatim, Kepala Kemenag Kab. Lumajang, serta Kepala OPD dilingkung

Lumajang, SMN – Keberadaan para penyuluh agama di lapangan merupakan ujung tombak untuk memberikan pengenalan, pengertian dan pemahaman dalam bidang pendidikan agama di masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan Wagub.Jatim, Drs. H. Saifullah Yusuf saat memberikan pengarahan pada acara Pembukaan Jambore Penyuluh Agama Islam Pertama di Jatim, bertempat di Puncak B-29 Desa Argosari Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, Senin (24/7) siang lalu.

Hadir dalam kesempatan itu, Bupati Lumajang, Kapolres dan Kodim 0821 Lumajang Rektor IAIN Jember, Kepala Kemenag. Jatim, Kepala Kemenag Kab. Lumajang, serta Kepala OPD dilingkungan Pemerintah Kabupaten Lumajang.

Menurut Wagub Jatim Drs. Saifullah Yusuf, ada tiga penting yang harus diperhatikan oleh penyuluh saat memberikan penyuluhan di masyarakat. Karena hal itu merupakan tantangan, salah satunya adalah tentang adanya isue faham radikalisme di masyarakat.

Untuk itu, penyuluh agama dalam prakteknya harus dan perlu memperhatikan bagaimana masyarakat bisa memahami dengan benar tentang agama islam. Setelah memahami dengan benar, mereka juga harus menyadari bahwa mereka itu hidup di Indonesia negara yang kita cintai bukan hidup di negara lain atau luar negeri.

Selanjutnya Gus Ipul mengatakan, disamping mengajak masyarakat untuk bisa memahami tentang ajaran agama selanjutnya mereka bisa mengerti maksudnya dan mau mengamalkan, diharapkan para penyuluh juga ikut memberdayakan kemaslahatan umat. Sebab, masalah kemiskinan harus segera ditangani dan diselesaikan bersama. Selain memberikan penyuluhan, diharapkan juga bisa memberdayakan masyarakat di bidang ekonomi agar kesejahteraan masyarakat cepat tercapai. Sebab, masalah kemiskinan di jatim ini merupakan PR yang harus segera terselesaikan.

Selama 10 tahun memimpin Jawa Timur, tingkat kemiskinan masih menjadi pekerjaan serius dan harus diselesaikan bersama yakni dari 18,15 % saat ini tinggal 11,85 persen atau 1.200 KK (sebanyak 4.700 jiwa) sangat miskin di jatim by name dan by address. Dan jumlah kemiskinan di Jatim masih berada diatas rata-rata jumlah nasional.

“Penyuluh pasti bisa memberdayakan masyarakat di bidang ekonomi, dikarenakan jumlah penyuluh agama sangat banyak yakni yang PNS saja sebanyak 600 orang ditambah ribuan honorer, saya yakin masalah kemiskinan di Jatim akan cepat terselesaikan,” jelasnya.

Bupati Lumajang Drs. As’at, M.Ag dalam sambutannya mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Di sini, berbagai macam budaya, ras, agama, suku, agama dan bahasa, terjalin menjadi satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keragaman dalam kesatuan ini, menjadi motto negara ini: Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti meski berbeda-beda, tapi tetap satu.

“Meskipun negara kita memiliki banyak agama yang berbeda, kita harus saling menjaga dan menghargai perbedaan tersebut. Kerukunan antarumat beragama perlu dirawat, Merawatnya dengan berbagai macam cara, tapi yang terpenting cara itu harus didasari atas kesadaran bersama”, katanya.

Bupati As’at menyampaikan terima kasih kepada panitia dan para peserta yang mengikuti kegiatan jambore penyuluh agama dari kabupaten/ kota se-Jatim, yang telah memilih kawasan wisata B-29 sebagai tempat kegiatan Jambore Penyuluh Agama Islam Pertama di Jatim yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai dari Tgl 24 s/d 26 Juli 2017 ini diikuti 538 peserta. Dari seluruh Jatim dan dari perwakilan Jateng, Jabar, DKI, Bali, Gorontalo. (atk)

post-top-smn

Baca berita terkait