Tuesday, 23 July 2019

Penderita HIV/AIDS Tak Perlu Dikucilkan

post-top-smn

Titik Purwanti, Kepala Puskesmas Wajak, ajak masyarakat tak diskrimiatif pada ODHA.

Malang, suaramedianasional.co.id – Anggapan yang salah terhadap penderita HIV/AIDS sering membuat mereka mengalami kesulitan dalam bergaul. Stigma keliru pada ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) masih banyak menghinggapi masyarakat dan membuat mereka menjauhi dan mengucilkan ODHA. Memperingati Hari Anti HIV/AIDS sedunia yang jatuh tiap 1 Desember, karyawan/karyawati Puskesmas Wajak Kabupaten Malang turun ke jalan di depan Puskesmas untuk bersosialisasi.

Sosialisasi dilakukan pada Sabtu (1/12)dengan membagi brosur dan bunga pada pengguna jalan. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengertian pada masyarakat mengenai perilaku beresiko terkena HIV/AIDS dan ajakan untuk menghormati hak penderita HIV/AIDS untuk tetap hidup normal dan bahagia.

Titik Purwanti, Kepala Puskesmas Wajak menyatakan, masih banyak yang keliru memahami bahwa mencegah HIV/AIDS adalah dengan menjauhi penderitanya dalam semua interaksi. “Padahal tindakan seperti itu tidak perlu, penularan HIV/AIDS tidak mudah karena hanya melalui pertukaran cairan tubuh. Kalau hanya bersalaman, berciuman dengan penderita tidaklah menulari,” ujarnya.

HIVAIDS adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga semakin melemah dan tak mampu lagi menangkal berbagai penyakit yang datang. Penularan melalui pertukaran cairan tubuh misalnya melalui penggunaan jarum suntik bergantian dari penderita HIV/AIDS dengan yang lain. Hal ini banyak menjangkiti pengguna narkoba karena menggunakan jarum suntik bergantian dan tidak higienis. Apabila ada salah satu yang mengidap HIV/AIDS, akan rawan menulari yang lain melalui jarum suntik yang digunakan bersama.

Selain itu juga bisa melalui hubungan seksual dari seseorang yang mengidap HIV/AIDS. Hal ini lebih beresiko pada mereka yang mudah berganti-ganti pasangan. Penularan lain dapat melalui transfusi darah bila terjangkiti HIV/AIDS dan melalui ibu penderita pada bayi yang dikandungnya. “Selain penularannya tdak mudah, ada obat antiretroviral (ARV) yang jamak digunakan untuk mengendalikan perkembangan virus,” ujar Titik.

Titik menegaskan, tidak perlu ada diskriminasi pada penderita HIV/AIDS karena mereka juga berhak hidup secara normal. ODHA layaknya orang dengan penyakit lain seperti diabetes, sehingga tak perlu dikucilkan. “Pencegahan yang benar ya menghindari perilaku beresiko, seperti tidak berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan narkoba,” ungkap Titik.

Namun demikian bagi warga yang memiliki perilaku beresiko, dapat memeriksakan darah ke Puskesmas dan rumah sakit pemerintah. “Kerahasiaan pasien dilindungi dan tidak akan dibuka pada siapapun kecuali pihak bersangkutan, sehingga tak perlu khawatir,” ujar Titik.

Selain memberikan sosialisasi agar menghindari perilaku beresiko tertular HIVAIDS dan tidak diskriminatif pada ODHA, kegiatan itu juga dimanfaatkan untuk sosialisasi mencegah penyakit TBC. (yop)

post-top-smn

Baca berita terkait