Sunday, 20 May 2018

Pemprov Jatim Dukung Pengembangan Tebu di Pamekasan

post-top-smn
Ilustrasi Perkebunan Tebu

Ilustrasi Perkebunan Tebu

Pamekasan, SMN – Upaya pengembangan Pulau Madura menjadi sentra perkebunan tebu hingga kini terus diupayakan. Salah satunya yakni dukungan Pemprov Jatim melalui Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Pamekasan atas rencana pengembangan tebu di Pamekasan.

“Kami mendorong pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk mengembangkan tanaman tebu, sebagai tanaman alternatif selain tembakau. Jenis tanaman tebu ini tidak akan mengurangi luas areal tanaman tembakau,” kata Kepala Bakorwil Pamekasan, Asyhar, Senin (21/11).

Menurut Asyhar, kebijakan mengembangan tanaman tebu sebagai tanaman alternatif selain tembakau tidak akan mengganggu luas areal lahan tembakau. “Karena kan yang menjadi sasaran tanaman lahan tebu nantinya adalah lahan kering yang tidak produktif, bukan lahan subur yang bisa ditanami tembakau,” katanya.

Ia menjelaskan, di Pamekasan lahan kering yang tidak ditanami tembakau hingga kini masih banyak. Untuk itu lahan kosong tersebut sangat potensi untuk dikembangkan tanaman tebu. “Dengan menanam tebu, maka akan meningkatkan kesejahteraan petani masyarakat Madura dalam artian akan memiliki nilai ekonomis yang bisa menguntungkan masyarakat. PTPN X pun akan siap dalam membantu hal tersebut,” tuturnya.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Pamekasan, potensi lahan tanaman tebu di Pamekasan sekitar 1.175 hektare. Lahan itu tersebar di 13 kecamatan di wilayah itu, termasuk Kecamatan Tlanakan.

Pimpinan Pengembangan Wilayah Madura PTPN X, Muhammad Faisol mengatakan selama ini Madura memang dikenal sebagai penghasil garam. “Pulau ini seringkali diasosiasikan sebagai wilayah panas dan terik, dan hanya cocok untuk membuat garam dari air laut yang dikeringkan. Pandangan seperti itu tidak sepenuhnya benar, karena kenyataannya Madura menyimpan potensi besar sebagai penghasil gula,” jelasnya.

Pengembangan tebu di Madura, kata dia, memang tidak mudah dan menghadapi berbagai tantangan. Pertama, budidaya tebu masih relatif baru bagi sebagian besar petani, sehingga butuh sosialisasi secara intensif agar tingkat keberhasilannya tinggi.

Hal ini karena petani Madura terbiasa dengan tanaman pangan atau tanaman semusim berumur pendek, yang hasilnya bisa segera dijual. Ini berbeda dengan tebu, karena petani harus bekerjasama dengan pabrik gula yang ada.

Saat ini areal lahan tebu yang dimiliki PTPN X di Madura seluas  160-200 hektare. PTPN X juga tengah menjajaki kerjasama dengan Indocemen yang mempunyai lahan seluas 600 hekatare yang dibiarkan kosong agar nantinya dapat dimanfaatkan untuk menanam tebu. (afr/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait