Tuesday, 17 July 2018

Pembantaian Di Mesjid Al Ikhlas Hingga Tewas, Keluarga Minta Segera Proses Hukum

post-top-smn

DllHost 13/10/2017 , 13:54:28 Screenshot - 13_10_2017 , 13_53_27 - Windows Photo Viewer Medan, SMN – Sebelumnya kejadian tragis ini ramai diberitakan, hingga menjadi viral dan dibagikan para netizen, Minggu (8/10) di berbagai media dimana seorang pria (MR X) tewas dimassakan lantaran diduga telah melakukan pencuri sepeda motor di mesjid Al Ikhlas. Belakangan diketahui, pria (MR X) tersebut hanya merupakan sasaran kemarahan warga, dikarenakan sering terjadi kehilangan sepeda motor. Meskipun sudah membawa kembali sepeda motor yang sempat dicuri temannya, namun nahas, pria (MR X) tersebut justru disangka telah terlibat mencuri sepeda motor di masjid itu.

“Apa pantas kalau orang mencuri sepeda motor itu dihukum mati? atau dibantai secara hidup-hidup? Apalagi yang menjadi korban bukan pencuri seperti yang dituduhkan? Itu sangat tidak adil.”  Kalau sudah begini, siapa yang mau tanggung jawab? Inilah yang disampaikan sejumlah kalangan terkait kasus pembantaian di Mesjid Al Ikhlas Medan Johor.

“Tim Suara Media Nasional melakukan investigasi terhadap pihak keluarga dan pemerintah setempat (kepling) sampai hingga mengecek (kamera) CCTV dan hasil data yang di dapat atas terjadinya aksi main hakim sendiri terhadap MR X diketahui bahwanyasanya indentitas sebenarnya Wahyu Permadi (17).

Data yang diperoleh Suara Media Nasional, aksi pembantaian warga pada saat menunaikan shalat subuh jamaah Mesjid Al Ikhlas, masuk dua orang pengendara sepeda motor RX King ke parkiran Mesjid Al Ikhlas Medan Johor dan kemudian Wahyu Permadi (17) langsung menuju tempat wudhu sedangkan temannya sedang melakukan aksi pencurian tersebut, setelah itu temannya menghidupkan mesin sepeda motor.

Sial ketika ingin membawa kabur sepeda motor, warga yang mengetahui aksi pencuri sepeda motor tersebut, menutup gerbang mesjid dari luar sehingga pelaku yang membawa sepeda motor terjatuh. Karena ketakutan dan langsung lari ke belakang masjid dan tidak berhasil ditangkap. Sedangkan Wahyu Permadi (17) yang mengendarai RX King berhasil ditangkap warga dan diberi kesempatan menunaikan shalat subuh setelah itu tanpa dikomandoi pelaku dihakimi hingga tewas di tempat.

Orang tua dari Alm. Wahyu Permadi (Paidi) memberi keterangan Suara Media Nasional, sangat kecewa dengan tindakan warga yang telah semena mena menghakiminya dengan membantai hingga tewas di Mesjid Al Ikhlas. “Mereka (masyarakat) tega menghakimi A lm.Wahyu Permadi hingga tewas setelah shalat subuh karena dituduh sebagai pelaku curanmor. Sedangan Wahyu Permadi bukanlah  pelaku pencurian tersebut.,” tutur orang tua dari  Wahyu Permadi tersebut.

Lanjut, tak dapat kami sangkal kepedihan hati kami atas prilaku main hakim sendiri oleh sekelompok orang, yang dirasakan Alm. Wahyu Permadi dengan mengikat, memukuli, menendang, menginjak dan bentuk kekerasan lainya, padahal Alm. Wahyu Permadi sudah menyerahkan diri dan tidak ada sedikit pun terlihat upaya memberikan perlawanan bahkan sudah memohon ampun tapi tetap memerima kekerasaan penganiayaan dan siksaan yang sangat kejam hingga mengakibatkan meninggalnya Alm. Wahyu Permadi adalah sebuah tindakan diluar batas kewajaran, prikemanuasian dan prikeadilan,” ungkap Paidi orang tua dari Wahyu Permadi.

Tambah, kami terima kalau Alm. Wahyu Permadi bersalah. Namun tidak ada hak warga main hakim sendiri hingga meninggal dunia. Ini jelas telah melanggar hukum. Dalam kasus ini saya dan keluarga telah melaporkan aksi pembantaian tersebut ke Polrestabes Medan pada hari Senin 9 Oktober 2017 dengan Laporan Polisi No. : LP/ 2020 / K / X / 2017 / SPKT RESTABES MEDAN atas pelapor bernama Wahyudi Andoko selaku abang kandungnya.“Kami berharap kepada Kapolrestabes Medan agar mengusut kasus pembataian terhadap Alm. Wahyu Permadi agar para pelakunya segera ditangkap dan diadili,” harap Paidi.

Maria Batubara, SE selaku Wakil Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Kota Medan berada di kantor Perwakilan Sumut Suara Media Nasional, Selasa (11/10), menyayangkan adanya peristiwa main hakim sendiri tersebut yang menimbulkan korban nyawa. Saya menilai sungguh sangat sadis dan keji aksi main hakim sendiri itu. Menghukum seseorang itu harus melalui proses pengadilan. Setiap orang memiliki hak asasi manusia sehingga tidak dapat diperlakukan seperti itu walaupun diduga orang tersebut mencuri. “Warga dan siapapun tidak berhak atau tidak ada kuasa untuk menghukum terduga pencuri dengan caranya sendiri atau aksi main hakim sendiri karena bisa juga dipidanakan,” ungkap Maria.

Maria Batubara, SE menjelaskan, Pertama, “Harus dibentuk tim pencari fakta, jika seandainya korban adalah pelaku pencurian, maka tidak dibenarkan siapa pun warga melakukan main hakim sendiri, yang kedua pihak kepolisian harus membuat Tim Pencari Fakta, kalau pun memang dia (korban) melakukan pencurian tidak boleh main hakim sendiri, negara ini ada hukum, ada azas praduga tak bersalah, apalagi sampai menghilangkan nyawa orang. Dan kalau bukan dia tidak terbukti mencuri, sangat sadis dan keji perbuatan orang orang yang main hakim sendiri itu, maka pihak kepolisiaan harus bentuk tim pencari fakta,” pungkas Maria yang juga Ketua salah satu OKP di Kota Medan.

Maria Batubara, SE menambahkan segera pihak kepolisian mengusut tuntas kasus main hakim sendiri terhadap Alm. Wahyu Permadi. “Kalau sudah begini, siapa yang mau tanggung jawab,” ungkap Maria mengkahirinya. (Rijalul Hamid Hasibuan)

post-top-smn

Baca berita terkait