Tuesday, 16 October 2018

Pakde Karwo Minta HIPMI Ikut Dorong Pertumbuhan Ekonomi Jatim

post-top-smn
Pakde Karwo memukul gong sebagai tanda dimulainya Rakerda XIV dan Diklatda I BPD HIPMI Jatim di Mercure Hotel Surabaya

Pakde Karwo memukul gong sebagai tanda dimulainya Rakerda XIV dan Diklatda I BPD HIPMI Jatim di Mercure Hotel Surabaya

Surabaya, SMN – Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo minta para pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk ikut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jatim. Salah satunya dengan membantu para pengusaha UMKM memperbaiki proses packaging produk, serta membantu kebijakan terkait logistik dan pengiriman barang dalam pasar dalam negeri. Hal ini disampaikannya saat memberikan paparan dalam acara Rakerda XIV dan Diklatda I BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jatim 2016 di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Rabu (14/12).

Pakde Karwo, sapaan akrabnya mengatakan, beberapa masalah di industri UMKM adalah tentang packaging produk. Hal ini yang membuat produk kita kalah dengan beberapa negara lain. Tak hanya itu, masalah di industri pengolahan di Jatim yakni mesin rata-rata sudah kuno sehingga tidak bisa kompetisi di industri pengolahan. “Perdagangan (X-M) akan naik bila packagingnya bagus. Jadi saya usulkan ada pelatihan packaging. Packaging kita masih jelek seperti Myanmar, Laos dan Kamboja,” katanya.

Selain itu, masalah logistic dan connectivity menjadi permasalahan serius dalam perdagangan dalam negeri. “Jadi pasar dalam negeri kita harus diperkuat. 75 persen barang di Pelabuhan Tanjung Perak dibawa ke Ternate baliknya hanya sekitar 5 persen. Logistic dan connectivity kita menjadi fokus dalam perdagangan dalam negeri. Jadi saya minta bisakah HIPMI menjadi collector bahan-bahan atau produk di Ternate jangan 5 persen tapi 20 persen dibawa kembali ke Tanjung Perak. Potensi ini ada karena purchasing power di Jatim tinggi. Saya usul kita kumpul standing committee HIPMI dengan KADIN kumpul di Jatim kita bahas ini bersama-sama,” katanya.

Menurutnya, salah satu permasalahan di Jatim ke depan adalah soal keputusan politik. Faktor eksternal pembangunan salah satunya adalah konsep politik aman dan nyaman. Pembangunan di Jatim harus berubah menjadi pembangunan di bidang industri. Kalau tidak, Jatim tidak akan maju. Kedua adalah masalah UMKM yakni di di bidang industri agro. “Kalau kita mau naik ke middle income, harus diurus betul. Sekarang 3500 kalau tidak diurus bisa jadi 2700,” katanya.

Menurut Pakde Karwo, tantangan saat ini yakni pada sektor pertanian, sektor industri dan sektor perdagangan. Di sektor pertanian, mutasi lahan sekitar 1.100 hektar per tahun, untuk sektor industri impor bahan baku masih tinggi yakni sebesar 79,83 persen, serta tantangan di sektor perdagangan berupa biaya logistik yang masih tinggi.

Ia melaporkan pertumbuhan ekonomi Jatim akhir 2016 sebesar 5,6 persen. Indeks tendensi konsumen bagus yakni sebesar 107,35 , yang artinya daya beli masyarakat bagus. Untuk indeks tendensi bisnis masih cukup baik yakni 106,29. Selanjutnya menurut Bank Indonesia, prediksi pertumbuhan ekonomi Jatim di 2017 sekitar 5,6 – 6,1 persen. Sedangkan menurut Pemprov Jatim adalah 5,6 – 5,8 persen.

Ia menambahkan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, segmen usaha kecil harus dibantu. Kemudian pengusaha besar diberikan fasilitas melalui regulasi. Tidak ada UU yang mendorong ekonomi secara fokus. “Ada konsep baru yang sekarang dikembangkan di Eropa Barat yakni re-regulasi. Jadi harus ada UU yang fokus melayani soal bisnis. Saya usul yang dimaksud negara hadir adalah terhadap yang kecil, yang besar melalui regulasi,” katanya.

Lebih lanjut, Pakde Karwo mengusulkan basis pertama yang harus dibenahi adalah industri agro. Yakni jangan  menjual bahan baku tapi hasil agro yang sudah diolah. Kedua, memperkuat basis UMKM kita di bidang industri. Selain itu basis vokasional juga harus dikuatkan. “Kami mengusulkan konsep fiskal, dimana sektor miskin itu afirmatif, harus melalui charity/hibah. Hibah harus diberikan pada miskin. Yang tengah, segmen UMKM diberikan suku bunga kecil, baru yang besar diberikan fasilitas regulasi. Ini strategi fiskal yang harus dibangun dalam situasi saat ini, apalagi infrastrukturnya tidak menghasilkan sesuatu. Solusi pembiayaan banking system harus diperkuat yakni melalui loan agreement,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Umum BPD HIPMI Jatim, Giri Bayu Kusumah menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim sangat kondusif berkat kepemimpinan Pakde Karwo. Ia mengingatkan bahwa potensi pasar dalam negeri harus dikuasai terlebih dulu sebelum menguasai pasar luar negeri. Untuk itu, BPD HIPMI Jatim terus berupaya memberi kontribusi positif bagi pererkonomian masyarakat Jatim. HIPMI juga fokus pada pertumbuhan wirausaha muda di Jatim, salah satunya melalui HIPMI perguruan tinggi di Jatim. Rencananya, akan dibentuk sekitar 50 HIPMI perguruan tinggi di Jatim untuk menggencarkan semangat berbisnis di kalangan mahasiswa.

Sementara itu, Ketua BPP HIPMI Pusat, Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa sebanyak 67 persen pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor konsumsi, dan sektor UMKM penolong ekonomi bangsa. Menurutnya, dibanding Gubernur lain, Gubernur Jatim yang paling fokus dalam mengembangkan masalah UMKM.

Ia menambahkan, saat ini jumlah pengusaha nasional masih 1,6 persen dari total seluruh penduduk Indonesia, padahal sebuah negara akan maju bila jumlah pengusaha nasionalnya lebih dari 2 persen. “Undang-Undang di negara kita membuat anak muda tidak tertarik menjadi pengusaha. Salah satunya termasuk soal susahnya proses peminjaman modal ke perbankan. UU ini kurang berpihak ke anak muda. Jadi pertama harus direvisi dulu UU Bank Indonesia. Saat ini, 83 persen anak muda lulusan perguruan tinggi ingin menjadi karyawan, dan baru 4 persen yang ingin jadi wirausaha muda. Ini yang harus jadi perhatian semua pihak, termasuk kami,” katanya.

Rakerda XIV dan Diklatda I BPD HIPMI Jatim 2016 ini mengambil tema “Menciptakan Nasionalisme Sebagai Landasan Pengembangan Enterpreneur Muda Indonesia”. Rakerda ini diselenggarakan selama dua hari yakni 14-15 Desember 2016. Pada kesempatan ini diserahkan pula hadiah bagi para pemenang HIPMI Jatim Awards. Untuk HIPMI Jatim Awards, kategori BPC degan anggota HIPMI terbanyak diraih oleh BPC HIPMI Surabaya, kategori BPC dengan Pengembangan HIPMI Perguruan Tinggi Terbaik diraih oleh BPC HIPMI Banyuwangi, dan kategori BPC dengan Program Kerja Terinovatif diraih oleh BPC HIPMI Jember. Selain itu, dalam acara ini dilakukan pula pelantikan HIPMI Perguruan Tinggi se-Jatim, yakni beberapa perguruan tinggi yang ada di Banyuwangi, Surabaya, Jember, Malang, dan Sumenep. Serta, penyerahan hadiah bagi pemenang lomba “The Best HIPMI Business Plan”.

post-top-smn

Baca berita terkait