Tuesday, 16 October 2018

Pakde Karwo : Koperasi dan UMKM Jadi Andalan Jatim Hadapi MEA

post-top-smn
gub jatim dgn didampingi rektor UNAIR dan Bupati Lamongan beserta Buapti gresik menandatangani peluncuran buku AIRLANGGA

Gubernur Jatim dengan didampingi rektor UNAIR dan Bupati Lamongan beserta Bupati Gresik menandatangani peluncuran buku AIRLANGGA

Surabaya, SMN – Sektor Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi andalan perekonomian Jawa Timur dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).  Pasalnya, selain berkontribusi besar bagi PDRB Jatim, sektor tersebut telah terbukti mampu bertahan dan terus bertumbuh meski situasi ekonomi global sedang lesu.

Hal itu disampaikan Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim saat Seminar Nasional dengan tema “Merekonstruksi Arah Pembangunan Naisonal Menuju daya Saing Bangsa di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di Sekolah Pascasarjana Unair Kampus C Surabaya, Rabu (14/12).`

Pakde Karwo mengatakan, sektor koperasi dan UMKM adalah sektor utama yang harus dipihak oleh negara dalam rangka merekonstruksi arah pembangunan nasional, khususnya dalam membangun perekonomian. Sektor tersebut telah memberikan pelajaran hebat bagi bangsa ini dalam mengarungi situasi ekonomi yang tak menentu.

Pada tahun 1998, saat  Indonesia mengalami krisis ekonomi, sektor tersebut telah menjadi penyangga ekonomi dan tahan terhadap resesi. Seiring berjalannya waktu, sektor koperasi dan UMKM makin tumbuh subur dan menjadi kekuatan ekonomi yang berkontribusi besar bagi bangsa ini.

Di Jawa Timur, koperasi dan UMKM tumbuh dengan pesat. Pada tahun 2008, terdapat 4,2 juta UMKM di Jatim. Pada  tahun 2015, jumlah UMKM tumbuh menjadi 6,8 juta dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB )Jatim yang tinggi, yakni sebesar 54,98% dari total Rp. 1.689,88 Triliun PDRB Jatim dan menyerap sebanyak 11,12 juta tenaga kerja atau 92% dari seluruh tenaga kerja di Jatim.

Apiknya perkembangan sektor UMKM berdampak positif pula pada kinerja perekonomian Jatim. Meski situasi ekonomi global sedang lesu, tapi kinerja perekonomian Jatim tetap meningkat. Pada Triwulan I, kinerja perekonomian Jatim tumbuh sebesar 5,34 persen (yoy), berada diatas nasional yang mencapai 4,9 persen (yoy). Sedangkan pada Triwulan II, perekonomian Jatim makin unggul, yakni terakselerasi tumbuh 5,5 persen (yoy), mengungguli perekonomian nasional yang berada pada angka 5,18 persen (yoy).

Pada triwulan III Tahun 2016, PDRB Jatim tercatat sebesar 1.382 triliun rupiah, dengan pertumbuhan ekonomi atau growth sebesar 5,57 persen. Sementara nasional PDB nasional pada triwulan III, 2016 mencapai  9.245.40 trilliun rupiah dengan pertumbuhan ekonomi hanya 5.04 persen.

Masih menurut Pakde Karwo, meski tumbuh dengan pesat dan terbukti mampu bertahan di situasi ekonomi yang sedang lesu. Namun, sektor UMKM masih mengalami kesulitan untuk mengakses modal di perbankan. Tak hanya itu, suku bunga yang dikenakan kepada sektor tersebut juga sangat besar dan tidak adil.

Perbankan hanya memberikan bunga kredit sebesar 14% setahun kepada perusahaan besar (corporate), namun jika rakyat kecil seperti petani dan UMKM yang meminjam modal justru dibebankan bunga yang sangat besar, yakni 20% setahun. Alasannya karena resiko (high risk).

Ini sungguh lucu dan tidak masuk akal, Bank milik negara yang mengatasnamakan “Bank Rakyat” tapi justru rakyat kecil dibebankan bunga yang jauh lebih besar daripada korporasi. Jika alasannya resiko, kan ada asuransi. Karena itu, negara harus hadir untuk membela yang lemah” katanya.

Karena itu, Pemprov Jatim mendorong adanya sistem perbankan yang dapat mendukung terwujudnya suku bunga murah dan mendukung perluasan pembiayaan yang dapat mengurangi dampak krisis ekonomi global. Model pembiayaan ini salah satunya melalui model loan agreement .

Skema pembiayaan kredit murah kepada rakyat kecil dilakukan dengan model loan agreement melalui perbankan. Bank Jatim sebagai APEX Bank bagi BPR-BPR milik Pemerintah kabupaten/kota di Jatim memberikan kredit linkage program dengan bunga ringan.

Program ini sendiri diinisiasi sudah oleh Pemprov Jatim pada tahun 2016 dan merupakan yang pertama kali di Indonesia. Pada program ini, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) mendapat pinjaman dana Rp 400 miliar yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jatim tahun 2016.

Dana pinjaman ini nantinya akan disalurkan berupa kredit lunak dengan plafon sebesar Rp 20 juta dengan suku bunga maksimal 9% efektif dalam jangka waktu 2 tahun. Selanjutnya BPR diperkenankan menyalurkan dana kepada rakyat atau UMKM dengan bunga mulai dari 7-9% per tahun. Suku bunga ini jauh lebih kecil daripada suku bunga sektor UMKM pada umumnya yang berkisar diatas 20% per tahun

Gubernur Jatim menerima bibit pohon klengkeng dari Kepala Perhutani wilayah Jatim

Gubernur Jatim menerima bibit pohon klengkeng dari Kepala Perhutani wilayah Jatim

Selain itu, agar kreditur bisa yakin, berani dan nyaman dalam mengangsur pinjaman, BPR dapat menggandeng pihak asuransi sebagai penjamin seperti Jamkrida atau Jasindo. Adapun biaya untuk asuransi tersebut sudah termasuk dalam bunga 7-9% yang dikenakan oleh BPR kepada kreditur. Inilah yang dinamakan bridging risk.

Masih menurut Pakde Karwo, pihaknya terus melakukan berbagai upaya agar sektor UMKM dan Koperasi dapat tumbuh lebih subur. Yakni mengembangkan SMK Mini atau BLK Plus untuk menghasilkan tenaga kerja siap pakai dan berkualitas. Pemprov Jatim telah bekerjasama dengan Jerman dan AS sebagai bentuk perluasan kerjasama pendidikan vokasional.

“Pengembangan kualitas SDM menjadi hal dalam menyongsong MEA, telah berdiri sebanyak 270 SMK Mini dengan 9 bidang keahlian seperti teknologi dan rekayasa, teknologi informatika dan komunikasi, kesehatan. Targetnya akan dibangun sebanyak 400 SMK Mini. Saat ini sebagian lulus SMK Mini ingin menjadi entrepreneur,” katanya.

Selain itu, Pakde Karwo juga terus memperkuat pasar dalam dan luar negeri untuk memperluas penetrasi pasar produk UMKM. Dalam hal ini, Pakde Karwo mendorong Sekretaris Daerah agar terus berperan aktif menjalin kerjasama perdagangan dengan provinsi dan negara tetangga.

“Peran sekda adalah membangun sister province dalam negeri dan memperkuat basis logistik di semua provinsi. Misalnya, Jatim membutuhkan pala, merica, dan cengkeh ke Maluku Utara. Kemudian Maluku Utara membutuhkan bawang merah dan ayam beku” katanya.

Masih menurut Pakde, Jatim mengalami surplus perdagangan ekspor-impor sebesar Rp. 56.087 triliun pada triwulan III Tahun 2016. Rinciannya, net ekspor-impor luar negeri minus (-) Rp. 23,159 triliun, dan net ekspor impor dalam negeri surplus (+) Rp. 79,246 triliun.

“Meskipun Jatim minus perdagangan luar negeri, tapi kita surplus perdagangan dalam negeri. Sehingga secara keseluruhan kita tetap surplus. Inilah nasionalisme baru di era modern. Ini karena sekda kami aktif untuk promosi dan menjalin kerjasama dengan KADIN Jatim dan provinsi lain. Kami juga membangun kantor perwakilan perdagangan di 26 provinsi di Indonesia. Captive market harus kita kuasai sendiri, jangan sampai dikuasai asing” kata Pakde yang disambut tepuk tangan hadirin.

Tak hanya memperkuat pasar dalam negeri, Jatim juga melebarkan sayap untuk memenangkan pasar perdagangan di ASEAN. Berdasarkan data BPS, Ekspor Jatim ke negara ASEAN tercatat  mencapai 2.086.464.690 USD, sementara impornya mencapai 925.937.800 USD pada Semester I 2016. Artinya, Jatim mengalami surplus 1.160.526.890 USD.

Senada dengan Pakde Karwo, Bupati Gresik, Dr. Ir. H. Sambari Halim Radianto mengatakan, keberadaan SMK mini sangat dibutuhkan untuk menyiapkan tenaga kerja siap pakai. “ Kami menambah 4 SMK agar yg ada di pedesaan tidak perlu jauh-jauh ke kota. Maka semua SMK dan SMA kami bangun di daerah pinggiran agar semuanya merata. Kami juga menganggarkan 37% APBD kami untuk pendidikan” katanya.

Bupati Lamongan, H. Fadeli, SH. MM juga mendukung Pakde Karwo, ia mengatakan, pihaknya telah membangun BLK dengan target melakukan pelatihan berbasis kemasyarakatan guna menciptakan tenaga kerja yang terampil dan berdaya saing. Saat ini di Lamongan sudah ada delapan  jurusan di BLK.

“Kunci menekan angka pengangguran adalah SDM yang berkualitas,  karena itu kami buka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Saya wajibkan investor dan pengusaha yang masuk ke Lamongan untuk mengambil tenaga kerja lokal. Agar tidak disusupi tenaga kerja asing yang belum tentu berkualitas” katanya..

“Kami juga mengembangkan SMK yang berbasis potensi daerah dan bekerjasama dengan industri-industri di Lamongan. Kami bangun SMK yang berbasis Sumber Daya Alam Lamongan, ada perkapalan, kelautan, dan sebagainya.” katanya..

Fadeli juga sepakat dengan Pakde Karwo untuk memperkuat UMKM. Berkat skema linkage program, penyaluran KUR yang sudah teralisasi sampai November tahun ini mencapai Rp. 346 milyar.

“Kami juga menyalurkan APBD untuk bank pemerintah sebesar Rp. 22 milyar yang linkage  dengan bank daerah milik pemkab. Tahun depan kami akan menambah sebesar Rp. 5 milyar dengan bunga 5%. Dan manfaatnya luar biasa, KUR di Lamongan NPL nya rendah, hanya 0,5. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan KUR sangat lancar. Begitu juga bisa dinikmati 27.500 UMKM di Lamongan” katanya. paruh UMKM  kami bs nikmati dari KUR.

Direktur Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. Hj. Sri Iswati mengatakan, pemegang kontribusi terhadap bangsa ada tiga, yakni Akademisi, Bisnis, dan Government (pemerintah). Karena itu, tujuan seminar ini adalah seluruh pihak tersebut dapat saling berbagi informasi dan kiat-kiat menjadi pemenang di era MEA.

“Dimanapun kita berada, kita akan selalu menghadapi persaingan. Bahkan sejak kita lahir pun persaingan sudah ada. Jadi.persaingan itu natural law. Artinya, kita tidak perlu takut menghadapi persaingan MEA, kita harus optimis bisa menjadi pemenang, karna kita dilahirkan sudah sebagai pemenang” katanya.

post-top-smn

Baca berita terkait