Tuesday, 14 August 2018

Pakde Karwo: Capai Pertumbuhan Ekonomi Jatim 5,8 Persen, Butuh Investasi Rp. 520 T

post-top-smn
Gubernur Soekarwo saat menyampaikan sambutan di acara Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan yang diselenggarakan OJK di Hotel JW Marriot Surabaya

Gubernur Soekarwo saat menyampaikan sambutan di acara Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan yang diselenggarakan OJK di Hotel JW Marriot Surabaya

Surabaya, SMN – Pemprov Jatim menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 bisa mencapai sekitar 5,8 persen. Guna mencapai hal tersebut dibutuhkan total investasi sebesar              Rp. 520 triliun. Investasi tersebut diperoleh dari uang pemerintah (APBN, APBD Provinsi, dan APBD kabupaten/kota), investasi fasilitas (PMDN dan PMA) dan non fasilitas, dan pertumbuhan lending credit yang diharapkan naik menjadi > 12 persen.

“Yang menjadi harapan besar kami adalah pertumbuhan lending credit tahun 2017 bisa mencapai sama dengan atau lebih besar dari 12 persen lebih tinggi dibanding tahun 2016 yang hanya mencapai 8 persen. Pertumbuhan kredit ini yang diharapkan. Kalau itu dilakukan Jatim pada posisi aman di 5,8 persen,” ujar Gubernur Jatim saat Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan 2017 di Ballroom Hotel JW Marriott Surabaya, Selasa (17/1) pagi.

Ia menjelaskan, berdasarkan prediksi Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Jatim bisa mencapai 5,7-6,1 persen pada tahun 2017. Namun pertumbuhan ekonomi Jatim bisa semakin meningkat lagi jika dibuka dan didorong IPO perusahaan-perusahaan di Jatim. Dengan kata lain ada pemasukan modal di perusahaan dengan IPO. Jika ini dilakukan, maka proses industrialisasi yang ada di industri, produknya akan naik.

Pakde Karwo, sapaan lekat Gubernur Jatim mengusulkan OJK Regional 4 Jatim, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Jatim, dengan pemerintah daerah (pemda) dan Bank Mandiri untuk saling bekerjasama. Dalam hal ini, Bank Mandiri sebagai informasi akses kredit dan inkubator klinik.

“Inkubator klinik untuk akses pembiayaan, proses industri dan pasar terhadap UMKM. Industri yang mendesak adalah packaging, yang kedua tentang design yang dibuat bagaimana Jatim bisa menurunkan suku bunga. Kita bisa asal mau. Kalau setuju, ini bisa menjadi tempat kita melayani masyarakat.,” jelasnya.

Selain itu,  Pakde Karwo juga menyampaikan, OJK harus menawarkan dan ikut  membantu dalam peremajaan mesin-mesin industri di Jatim. “Mesin- mesin itu sudah tua jadi perlu peremajaan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jatim, Sukamto, mengatakan, Market share volume usaha perbankan di Jatim tahun 2016 lalu mencapai 7,89 persen dari volume usaha perbankan nasional dengan petumbuhan total aset sebesar 7,35 persen, 6,03 persen dan 4.39 persen. Sedangkan kinerja pasar modal di Jatim juga menunjukkan adanya pertumbuhan yang cepat dari peningkatan jumlah investor sebanyak 10,998 orang atau 20,41 persen.

Pertumbuhan kredit pada sektor prioritas di Jatim yaitu pada Sektor Agrikultur (pertanian, perburuan, kehutanan dan perikanan) dan Sektor Industri Pengolahan masing-masing meningkat sebesar 11,17 persen dan 5,11 persen.

“Dukungan Pemprov Jatim terhadap pelaksanaan program KUR juga diwujudkan dengan program kerja sama dengan PT BPD Jatim melalui pelaksanaan loan agreement dalam bentuk penyaluran kredit industri primer dengan suku bunga 7 persen sampai 9 persen. Kedepannya, OJK akan mendorong penyempurnaan skema KUR yang lebih fokus pada sektor-sektor produktif yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah UMKM yang bankable,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Nelson Tampubolon menyampaikan, arahan strategis bagi industri jasa keuangan yang ada di wilayah kerja Kantor OJK Regional 4 Jatim bahwa kinerja sektor jasa keuangan sampai tahun 2016 secara umum positif. Tingkat kesehatan lembaga jasa keuangan juga masih dalam kondisi terjaga dengan didukung tingkat permodalan dan likuiditas yang memadai.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Prov. Jatim Drs. Benny Sampir Wanto, MSi menjelaskan, Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jatim mengadakan Pertemuan Tahunan Pelaku Industri Jasa Keuangan yang dihadiri langsung oleh Gubernur Jatim Pakde Karwo, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Nelson Tampubolon, Kepala OJK Regional 4 Jatim Sukamto, dan unsur perbankan, unsur akademisi, pelaku usaha jasa pasar modal, pelaku usaha jasa asuransi, pelaku usaha jasa keuangan lainnya.

Pertemuan tahunan kali ini, lanjutnya, mengangkat tema “ Menjaga Stabilitas Sektor Jasa Keuangan dan Membangun Optimisme untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.”

Benny menjelaskan tujuan dilaksanakannya pertemuan tersebut sebagai salah satu bentuk konkrit kepedulian Kantor OJK Regional 4 untuk turut serta mengembangkan ekonomi Provinsi Jatim.

Seusai paparan Gubernur Jatim, dilaksanakan Pengukuhan Paguyuban Istri Lembaga Jasa Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur (PARI LJKD Jawa Timur) oleh Ibu Nelson Tampubolon yang disertai dengan pembacaan naskah pelantikan dan penyerahan naskah pelantikan PARI LJKD Jawa Timur.

post-top-smn

Baca berita terkait