Sunday, 27 May 2018

Oktober 2016 Nilai Tukar Petani Jatim Turun

post-top-smn
Ilustrasi - Petani

Ilustrasi – Petani

Surabaya, SMN – Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur dibulan Oktober 2016 turun 0,77 persen dari 105,80 menjadi 104,98. Penurunan NTP ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami penurunan, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono di kantornya, Surabaya, Senin (28/11) mengatakan, penurunan itu juga disebabkan hasil penjualan dari hasil pertanian tidak seimbang dengan kenaikan harga kebutuhan petani karena saat ini telah memasuki musim tanam.

Pada Oktober 2016, empat sub sektor pertanian mengalami penurunan NTP dan sisanya mengalami kenaikan. Penurunan NTP terbesar terjadi pada sub sektor peternakan 1,97 persen, diikuti sub sektor hortikultura 1,09 persen sub sektor tanaman pangan 0,30 persen dan sub sektor perikanan turun 0,29 persen. Sedangkan sub sektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan 1,22 persen.

Indeks harga yang diterima petani turun 0,72 persen dibanding pada September 2016, yaitu dari 134,06 menjadi 133,09. Penurunan indeks ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani pada empat sub sektor pertanian dan sisanya mengalami kenaikan. Sub sektor peternakan mengalami penurunan 1,87 persen, diikuti sub sektor hortikultura 1,10 persen, sub sektor perikanan 0,31 persen, dan sub sektor tanaman pangan sebesar 0,25 persen. Sedangkan sub sektor tanaman perkebunan rakyat naik 1,23 persen.

Komoditas utama yang menyebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani selama Oktober 2016 adalah turunnya harga sapi potong, ikan layang, bawang merah, ketela pohon/ubi kayu, tomat, mangga, tongkol, lele, ikan bawal, dan nilam. Sedangkan komoditas utama yang menghambat penurunan indeks harga yang diterima petani adalah naiknya harga tembakau, cabai merah, jagung, tebu, ikan nila, udang, petai/sawi, teri, kol/kubis, dan kopi.

Indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan sebesar 0,05 persen dari 126,71 pada September 2016 menjadi 126,77 pada Oktober 2016. Kenaikan indeks ini disebabkan oleh naiknya indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM) sebesar 0,17 persen dan turunnya indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi pedesaan) hingga sampai 0,01 persen.

Komoditas utama yang mendorong kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah cabai rawit, cabai merah, bibit ayam ras pedaging, rokok kretek, sewa alat penangkapan, umpan, rokok kretek filter, pelet, solar, dan kelapa tua. Sedangkan komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani pada Oktober 2016 adalah bawang merah, tomat sayur, petelur layer, es batu, gula pasir, telur ayam ras, daging ayam ras, kentang, bibit bawang merah, dan jeruk.

Dari lima Provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada Oktober 2016, empat Provinsi mengalami penurunan NTP sedangkan sisanya mengalami kenaikan. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Timur 0,77 persen, diikuti Provinsi Jawa Tengah 0,72 persen, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 0,47 persen, dan Provinsi Jawa Barat 0,13 persen. Sedangkan Provinsi Banten mengalami kenaikan NTP sebesar 0.08 persen. (ryo)

post-top-smn

Baca berita terkait