Saturday, 15 December 2018

Napak Tilas 21 KM, Susuri Kali Kakak Sampai Finish di Trinil

post-top-smn

Peserta Napak Tilas 21KM diberangkatkan oleh Ketua DPRD Dwi Rianto Jatmiko dan Bupati Budi “Kanang” Sulistyono.

 

Ngawi, suaramedianasional.co.id – Ada yang baru di Ngawi memperingati Hari Pahlawan tahun ini. Bila biasanya diselenggarakan gerak jalan dengan rute Monumen Soerjo-Ngawi, maka tahun ini diganti dengan napak tilas 21 KM yang diberangkatkan Minggu (18/11). Hal ini ditujukan untuk mengenang keteguhan Gubernur Jawa Timur ke-1, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo atau lebih dikenal sebagai Gubernur Soerjo, dalam mempertahankan Pancasila dan NKRI. “Kondisi jalan dan resiko yang ada, juga mendasari kita ubah kegiatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi napak tilas dan bukan gerak jalan,” ungkap Bupati Ngawi, Budi Sulistyono alias Kanang.

Pada kegiatan gerak jalan, jalur yang dilalui adalah jalan raya nasional Mantingan-Solo sehingga beresiko membuat macet. Selain itu, jalan sedang diperbaiki sehingga tidak nyaman. “Napak tilas ini juga untuk mengenal alam di Ngawi yang indah dan mengenang Gubernur Soerjo dalam bertahan dengan NKRI dan Pancasila,” katanya.

Gubernur Soerjo pada tahun 1948, dicegat PKI sepulang menghadiri acara di Yogyakarta. Dua pengawalnya sudah dapat dibunuh namun setelah diseret pun sang gubernur tetap hidup sehingga kaum komunis berkeyakinan RM Ario Soerjo adalah seorang yang sakti. Gubernur Soerjo disiksa dan meninggal dengan disembelih di Kali Kakak, Kedunggalar. Jasadnya ditemukan tiga hari kemudian dan dimakamkan di Magetan, kampung halamannya.

Pada lokasi penyergapan rombongan sang gubernur yang disebut PKI sebagai orang republik ini, dibangun Monumen Soerjo sedangkan di Kali Kakak didirikan tugu untuk memperingati pembantaiannya.

Peserta banyak yang tampil unik agar memenangi Napak Tilas 21 KM, Monumen Soerjo-Trinil, Minggu (18/11).

Jalur napak tilas sejauh 21 kilometer, mengambil titik start di Monumen Soerjo melintasi Kali Kakak, jalan hutan Banjarejo Lor dan berakhir di Trinil. Menurut Kanang, jalur napak tilas jauh dari jalan raya, tidak mengganggu lalu lintas dan lebih menantang bagi peserta. “Ini yang ikut ribuan dan banyak pula yang mempertanyakan kok hanya 21 kilometer, jadi mungkin tahun depan bisa saja kita tambah rutenya,” ungkap Kanang.

Finish ditentukan di Trinil untuk mengingatkan sejarah kehidupan. Trinil merupakan lokasi penemuan fosil pithecanthropus erectus, yang diyakini sebagai makhluk berjalan tegak pertama, yang hidup 2 juta tahun lalu. Sampai sekarang pun, di Trinil dan beberapa daerah lain di Ngawi masih sering ada temuan fosil purba seperti gading gajah dan sebagainya. “Jadi napak tilas ini untuk mengingatkan kembali kekejaman PKI agar jangan sampai terulang, mensyukuri indahnya alam Ngawi dan jangan lupa dengan sejarah kehidupan kita,” kata Kanang .

Menurut Didik Rahmad Purwanto, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Dinparpura), peminat kegiatan ini juga berasal dari luar Ngawi. Diikuti ribuan peserta dari 870 peserta perorangan dan ratusan peserta beregu. “Sedangkan penilaian meliputi kecepatan dan ketepatan sampai finish selain itu ada kategori peserta tertua, termuda dan terunik,” kata Didik, sapaan akrabnya.

Pemberangkatan peserta Napak Tilas 21 KM ini dilakukan Ketua DPRD Dwi Rianto Jatmiko bersama Bupati Budi Sulistyono. Peserta pun melakukan banyak cara untuk tampil menarik. Banyak yang memakai kostum ala Jenderal Sudirman lengkap dengan ikat kepala dan jubah, juga ada yang membawa poster besar sang jenderal lengkap dengan tandu. Selain itu kostum ala jadul dan militer juga paling banyak dipakai oleh peserta. (ari)

post-top-smn

Baca berita terkait