Wednesday, 23 May 2018

Musim Tanam Berdampak Nilai Tukar Petani Jatim Turun

post-top-smn
Petani

Petani

Surabaya, SMN – Datangnya musim hujan dibarengi dengan mulai tanam padi berdampak Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada November 2016 turun 1,44 persen dari 104,98 menjadi 103,79. Turunnya NTP karena menjelang akhir tahun para petani masih memasuki musim tanam sementara komoditas pertanian lainnya sebagian rusak akibat bencana banjir dan tanah longsor.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono dikantornya Jln Raya Kendangsari Industri Surabaya, Rabu (14/12) mengatakan, penurunan NTP disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) dari hasil panen mengalami penurunan, sedangkan indeks harga yang dibayar  untuk kebutuhan petani (Ib) mengalami kenaikan.

Pada November 2016, semua sub sektor pertanian mengalami penurunan NTP. Penurunan NTP terbesar terjadi pada sub sektor tanaman perkebunan rakyat 1,73 persen dari 101,49 menjadi 99,73 diikuti sub sektor peternakanr 1,59 persen dari 111,26 menjadi 109,48. Kemudian sub sektor tanaman pangan 1,19 persen dari 102,65 menjadi 101,43, sub sektor perikanan 0,39 persen dari 106,73 menjadi 106,31, dan  sub sektor hortikultura 0,01 persen dari 102,28 menjadi 102,28.

Indeks harga yang diterima petani turun 0,30 persen dibanding Oktober 2016 yaitu dari 133,09 menjadi 132,69. Penurunan indeks ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani pada tiga sub sektor pertanian dan sisanya mengalami kenaikan. Sub sektor tanaman perkebunanr rakyat turun 0,94 persen. Diikuti sub sektor peternakan 0,85 persen, dan sub sektor tanaman pangan 0,23 persen. Sedangkan sub sektor hortikultura naik 0,77 persen, diikuti sub sektor perikanan 0,66 persen.

Komoditas utama yang menyebabkan penurunan indeks harga yang diterima petani pada  November 2016 adalah turunnya harga tembakau, buah manga, sapi potong, gabah, telur ayam ras, ketela pohon/ubi kayu, bandeng, bawang daun, buah apel dan kentang. Sementara komoditas utama yang menghambat penurunan indeks harga yang diterima petani adalah naiknya harga buah jeruk, bawang merah, jagung, ikan swanggi, kopi, cabai rawit, ikan layang, ikan lemuru, cabai merah, dan nilam.

Indeks harga yang dibayar petani  mengalami kenaikan 0,85 persen dari 126,77 pada bulan Oktober 2016 menjadi 127,85 pada November 2016. Kenaikan indeks ini disebabkan oleh naiknya indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi pedesaan) sebesar 1,13 persen dan naiknya indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM)  sebesar 0,23 persen.

Komoditas utama yang mendorong kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah naiknya harga cabai rawit, bawang merah, tomat sayur, bekatul, bawang putih, cabai merah, solar, jagung pipilan, jeruk, dan rokok kretek. Sedangkan komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani bulan November 2016 adalah turunnya harga bibit ayam ras pedaging, buah manga, benih bandeng/nener, benih gurame, telur ayam ras, broiler finisher, pisang, kacang tanah, gula pasir, dan daging ayam ras.

Dari lima Provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada November 2016, semua Provinsi mengalami penurunan NTP. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Timur 1,44 persen, diikuti Daerah Istimewa Yogyakarta 0,97 persen, Jawa Tengah 0,60 persen, Banten 0,25 persen, dan Provinsi Jawa Barat 0,22 persen. (ryo/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait