Sunday, 22 July 2018

Misteri Cinta Berdarah Sang Penjual Kroto

post-top-smn
Muh. Mudiono alias Mahmudi, pelaku pembacokan setelah berhasil ditangkap oleh polisi.

Muh. Mudiono alias Mahmudi, pelaku pembacokan setelah berhasil ditangkap oleh polisi.

Ngawi, SMN – Masyarakat Ngwi dibuat geger dengan kejadian di Dusun Kapungan Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Selasa, 26 September 2017 lalu. Neni Agustin, 16 tahun, beserta keluarganya, Pawiro (82 tahun), Sumi (45 tahun) dan tetangganya Sumiyem (45 tahun) ditemukan bersimbah darah pagi-pagi di ruah mereka setelah dibacok oleh Muh. Mudiono. Neni Agustin sendiri akhirnya tewas akibat kejadian tersebut.

Mudiono atau akrab disapa Mahmudi merupakan calon suami dari Neni Agustin. Pria yang dikenal sebagai penjual kroto ini sejak lima bulan sebelumnya menjalin kisah asmara dengan Neni. Bahkan Neni sempat dibawa pergi dua hari oleh Mudiono. Hal ini sempat membuat kasus ini mampir ke meja polisi dengan tudingan Mudiono melarikan gadis di bawah umur.

Namun setelah laporan itu, ternyata Mudiono ingin menyelesaikan perkaranya dengan niat menikahi korban. Saat kejadian itu, Mudiono membawa berkas-berkas untuk kelengkapan pernikahannya dengan Neni Agustin. Neni sendiri setelah kejadian pelariannya bersama Mudiono juga sudah memilih keluar sekolah dan tampaknya tidak menolak untuk diajak menikah oleh Mudiono.

Namun saat kejadian tragis Selasa pagi itu, rupanya Mudiono sempat cekcok dengan orangtua Neni, Pawiro dan Sumi. Karena kalap, Mudiono membacok mereka bertiga termasuk Mbah Sumiyem, tetangga korban yang ada di lokasi kejadian. “Usai kejadian, pelaku melarikan diri dan sempat menjadi buron,” ujar AKP Budi Cahyono, Kapolsek Jogorogo.

Usai kejadian, Mudiono melarikan diri dan baru tertangkap dua hari kemudian di sebuah warung kopi. Mudiono diringkus tapa perlawanan dan di hadapan polisi dia mengaku nekat karena merasa lamarannya ditolak oleh Neni dan keluarganya. “Saya sudah terlanjur urus surat untuk menikah, tiba-tiba mereka bilang tidak perlu diteruskan karena tidak setuju,” kata Mudiono di depan petugas.

Kejadian pembacokan itu sendiri membuat publik Ngawi terkejut. Tak terkecuali orangtua pelaku di Dusun Pondok Desa Macanan Kecamatan Jogorogo. Sukatni, ibu Mudiono mengaku terkejut karena anaknya justru pamit ke rumah Neni untuk menyerahkan berkas keperluan menikah. Namun anak bungsu dari tujuh bersaudara itu ternyata malah melakukan aksi keji yang mebuat Neni tewas dan keluarga serta tetangganya terluka.

Kini, Mudiono mendekam di tahanan Mapolres Ngawi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polisi sendiri sudah berhasil mengamankan alat bukti berupa motor yang sepat dipakai kabur pelaku, senjata untuk melukai para korban, jaket dan sebuah handphone. (ari)
post-top-smn

Baca berita terkait