Monday, 22 October 2018

Menkes RI Minta Masyarakat Waspada Tiga masalah Penyakit

post-top-smn
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Prof Dr dr Nila Farid Moeloek SpM

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Prof Dr dr Nila Farid Moeloek SpM

Surabaya, SMN – Menteri Kesehatan (Menkes) RI Prof Dr dr Nila Farid Moeloek SpM(K) meminta masyarakat waspada tantangan kesehatan yang akan dihadapi Indonesia, yaitu masih tingginya penyakit infeksi, meningkatnya penyakit tidak menular, dan muncul kembali penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi.

Demikian sambutan Menkes yang dibacakan Asisten IV Bidang Administrasi Umum Setdaprov Jatim Mudjib Afan saat upacara peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 tahun 2016 di Kantor Dinkes Jatim, Senin (14/ 11).

Menurutnya data Global Burden of Disease 2010 dan Health Sector Review 2014 menyebutkan kematian yang diakibatkan penyakit tidak menular, yaitu Stroke menduduki peringkat pertama. Dengan demikian, trend ini kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup di masyarakat.

“Tentunya, hal ini menjadi ancaman bagi produktifitas bangsa kita, usia produktif yang besar dan seharusnya memberikan kontribusi pada pembangunan akan terancam, apabila derajat kesehatannya terganggu oleh penyakit tidak menular dan perilaku hidup yang tidak sehat,” tuturnya.

Karena itu dengan mengsusung tema Indonesia Cinta Sehat dengan Sub Tema Masyarakat Hidup Sehat, Indonesia Kuat HKN tahun ini diharapkan mampu membangkitkan kembali pesan-pesan bahwa sehat itu harus dijaga, bergaya hidup sehat, berpartisipasi aktif dalam jaminan kesehatan nasional.”Sehingga nantinya, akan terbangun kemandirian masyarakat yang sadar akan kesehatan untuk mencapai Indonesia kuat,” tutur Mudjib

Dalam rencana pembangunan Jangka Panjang (2005-2024) menetapkan bahwa pembangunan kesehatan menuju ke arah pengembangan upaya kesehatan, dari upaya kesehatan yang bersifat kuratif, bergerak ke arah upaya kesehatan preventif dan promotif, sesuai kebutuhan dan tantangan kesehatan.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya pendekatan promotif dan preventif yang sangat efektif untuk menjawab berbagai tantangan kesehatan. Karena pada dasarnya, pencegahan penyakit menular maupun tidak menular sangat tergantung pada perilaku individu, yang didukung dengan kualitas lingkungan, ketersediaan sarana dan prasarana, peningkatan pelayanan kesehatan, menciptakan sumber daya kesehatan yang berkualitas serta dukungan regulasi.

Dalam kesempatan ini Menkes juga mengingatkan masyarakat agar memahami bersama, pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang sudah berjalan selama dua tahun ini menjelaskan bahwa biaya pelayanan kesehatan peserta JKN masih didominasi pada pembiayaan kesehatan di tingkat lanjutan dengan menghabiskan anggaran 74%. Hal ini bisa membahayakan dana Jaminan Sosial Kesehatan, karena akan menjadi beban yang luar biasa terhadap keuangan BPJS Kesehatan.

Dalam mengurangi beban anggaran, beberapa hal yang harus diakukan, yaitu pelayanan kesehatan harus sebagian besar dapat diselesaikan di pelayanan kesehatan primer, menekan angka rujukan pelayanan kesehatan, menambah kapasitas SDM kesehatan untuk dapat menyelesaikan berbagai persoalan di pelayanan kesehatan primer, terutama terkait dengan kepastian diagnosa yang dirujuk.

Membuat teknologi informasi yang dapat menunjang kepastian diagnosa di layanan primer. Tingkatkan kemampuan SDM Kesehatan, sarana dan prasarana penunjang, seperti laboratorium dan penunjang lain dengan support kebutuhan bahan habis pakai yang memadai. (6) Memberikan insentif yang cukup dan berkeadilan sebagai penyeimbang, agar dapat mendorong retensi tenaga kesehatan pada daerah DTPK.(hjr/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait