Wednesday, 23 May 2018

Menkes Canangkan Gerakan Tes HIV

post-top-smn
Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Djuwita Moeloek, mencanangkan Gerakan Tes HIV pada puncak peringatan Hari AIDS Sedunia di Surabaya, Kamis, 1 Desember 2016.

Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Djuwita Moeloek, mencanangkan Gerakan Tes HIV pada puncak peringatan Hari AIDS Sedunia di Surabaya, Kamis, 1 Desember 2016.

Surabaya, SMN – Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek mencanangkan gerakan Tes Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk seluruh masyarakat Indonesia. Ajakan bersama itu, berbentuk kampanye Peduli HIV/AIDS dengan slogan TOP yaitu Temukan, Obati, Pertahankan.

“Sosialisasikan terus ajakan tidak ragu-ragu tes HIV pada masyarakat, tidak melakukan diskriminasi maupun stigma pada orang yang melakukan tes HIV dan tidak menstigma orang yang terinfeksi HIV ini penting dikarenakan semua orang berpeluang terinfeksi HIV,” kata Menkes pada Puncak Peringatan Hari AIDS Sedunia di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (1/12).

Dikatakan Menkes, saat ini upaya pemberdayaan masyarakat sangat penting dilakukan guna meningkatkan kemampuan berperilaku hidup sehat. Ini sangat penting dalam pembangunan kesehatan sebagai penggerak dalam pembangunan berwawasan kesehatan. Dengan cara ini masyarakat akan mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri.”Ini adalah ajakan dan bentuk kegiatan Kampanye Peduli HIV/AIDS dengan slogan TOP yang merupakan kependekan dari temukan, obati dan pertahankan,” tambahnya.

Nila menjelaskan TOP ini dimulai dengan gerakan untuk segera temukan orang dengan HIV/AIDS (ODHA), mengobati ODHA dengan antiretroviral (ARV) dengan segera dan pertahankan kualitas hidup ODHA.

Menkes mengatakan, pencegahan dan Pengendalian HIV AIDS perlu mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah, dikarenakan sejak tahun 2005 sampai dengan Desember 2015 telah dilaporkan 191.073 orang terinfeksi HIV di Indonesia. Sehingga hal ini perlu menjadi perhatian banyak pihak. “Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan penemuan kasus HIV yang tinggi, bersama dengan provinsi DKI Jakarta, Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah”, ujar Menkes.

Faktor risiko penularan HIV terbanyak adalah melalui hubungan seks yang berisiko pada heteroseksual (66%); penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (11%) lelaki seks dengan lelaki (3%); serta penularan dari ibu ke anak (3%).

Jumlah kasus AIDS yang dilaporkan tertinggi adalah pada ibu rumah tangga (10.626); tenaga non professional/karyawan (9.603), wiraswasta (9.439), petani/peternak/nelayan (3.674), buruh kasar (3.191), penjaja seks (2.578), PNS (1.819), dan anak sekolah/ mahasiswa (1.764). Data – data yang didapat tersebut di atas mendasari dalam strategi pencegahan dan pengendalian HIV AIDS yaitu dengan pendekatan yang berfokus dalam keluarga dan masyarakat.

Menkes menjelaskan pencegahan dan pengendalian HIV AIDS harus dilakukan bersama sama oleh pemerintah bersama dengan seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai hasil yang sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilakukan dengan koordinasi, kemitraan serta partisipasi aktif dari komunitas populasi kunci, populasi sasaran serta masyarakat umum merupakan salah satu pilar dari Layanan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual Komprehensif Berkesinambungan atau dikenal sebagai LKB yang merupakan strategi utama dalam pengendalian HIV AIDS dan PIMS.

Oleh karena itu, diperlukan upaya pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam berperilaku hidup sehat, mengatasi masalah kesehatan secara mandiri, berperan aktif dalam pembangunan kesehatan, serta menjadi penggerak dalam pembangunan berwawasan kesehatan.

“Prinsip dasar dalam Strategi Nasional Pengendalian HIV AIDS adalah dilaksanakan bersama antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat yang mencakup organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi keagamaan,” tutur Menkes.

Sementara Gubernur Jatim, Soekarwo mengungkapkan, rasa syukur karena semua pihak turut membantu dan berkominten untuk melakukan prefentif, promotif, dan kuratif terhadap masalah kesehatan. Pemerintah Provinsi Jatim memeberikan perhatian serius pada pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS dengan membuka akses seluas-luasnya pada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar tentang upaya pengendalian dan pencegahan penyakit.
“Dengan informasi yang benar maka masyarakat dapat melindungi diri dari bahaya penularan,” katanya.

Hingga September 2016 jumlah HIV/AIDS yang berhasil ditemukan di Jawa Timur sebanyak 36.881 orang. Temuan ini menandakan kinerja pemerintah daerah, TNI dan Polri selama ini sangat maksimal dalam mencari dan mengobati para penderita.”Semakin banyak jumlah penderita HIV/AIDS yang ditemukan, makan akan semakin baik, karena kita bisa mengobati dan mengontrol agar tidak semakin bertambah,” imbuhnya.

Percepatan deteksi dini yang diikuti dengan pengobatan akan menyebabkan lebih terkendalinya penyebarannya bisa dikendalikan. Sejak 2015 seluruh kabupaten/kota mampu memberikan pelayanan tes, perawan, dan dukungan pengobatan HIV/AIDS. “Terimakasih pada seluruh kepala daerah yang mendukung program pengendalian HIV/AID di Jatim,” ungkapnya. (hjr)/kom

post-top-smn

Baca berita terkait