Saturday, 23 February 2019

Mengaku Pernah Lumpuh dan Nadzar Jalan Kaki ke Banyuwangi, Kisah Pak Amir ini Berhasil Buat Kecele Warganet Ngawi

post-top-smn

Sosok Pak Amir dan cerita bohongnya, bahkan pernah menarik wartawan televisi lokal mewawancarainya.

Ngawi,suaramedianasional.co.id –Kisah Amiruddin (44 thn) warga Serdang Bedagai, Sumatera Utara ini bisa menjadi pelajaran agar cek dan ricek setiap melihat unggahan di media sosial. Dalam dua bulan terakhir, nama Pak Amir tiba-tiba viral di berbagai lini media sosial pengguna dunia maya khususnya antara Jawa Tengah-Jawa Timur. Ini setelah sekitar Desember lalu Pak Amir, diunggah salah satu netizen tengah istirahat dalam melaksanakan nadzarnya, berjalan kaki dari Sumatera Utara hingga Banyuwangi. Satu hal yang membuat cerita pejalan kaki ini menjadi menarik, karena Pak Amir mengaku pernah lumpuh 7 bulan, dan bernadzar setelah sembuh akan menemui ibunya di Banyuwangi dengan berjalan kaki.

Cerita ini dalam tempo cepat menyebar komunitas-komunitas media sosial dan membuat banyak warga bersimpati. Kisah Pak Amir yang ingin berbakti menemui ibunya menjadi viral. Sepanjang Sragen-Ngawi-Nganjuk-Kertosono hingga Probolinggo dan Situbondo, perjalanan Pak Amir dapat dipantau. Di sepanjang titik perhentian, terutama sepanjang jalanan Ngawi, pria yang dikatakan netizen sebagai orang senang ngobrol dan bercanda ini menangguk simpati. “Siapa yang tak haru, apalagi ceritanya kan dia sudah lama tidak bertemu ibunya,” kata Muhtar, salah satu warga Ngawi.

Banyak gambar Pak Amir tengah dicegat dan ditemani berjalan oleh warga Ngawi di wilayah Mantingan, Kedunggalar, Ngawi, Padas hingga Karangjati. Hal ini diteruskan sampai Amiruddin menjelajahi wilayah Nganjuk sampai Probolinggo dan Situbondo.

Petualangan Amir mulai terkuak setelah ada salah satu tetangganya yang mengunggah cerita sebenarnya bahwa Amiruddin tak pernah sakit lumpuh dan ibunya masih ada di Serdang Bedagai. Sesampai di Banyuwangi, Amiruddin mengaku dia telah khilaf dan berbohong serta hanya nadzar jalan kaki saja bukan karena mau bertemu ibunya dan bukan ula karena usai msakit lumpuh. Sepanjang perjalanannya berjalan kaki dua bulan lebih, sekitar Rp 25 juta yang sudah dia kumpulkan, hasil pemberian orang-orang yang bersimpati padanya.

Walaupun beberapa warganet mengaku kecele dan kecewa dengan kebohongan Amiruddin, banyak yang kemudian mengaku mengikhlaskan uang saku yang sudah diberikan ke Amiruddin. Apalagi setelah melihat kondisi perekonomian ibu Amiruddin di Sumatera pun tampak memprihatinkan. (ari)

post-top-smn

Baca berita terkait