Tuesday, 16 October 2018

Layani Kesehatan, Ponkesdes Desa Bendung Jetis Mojokerto Datangi Rumah Warga

post-top-smn
Ilustrasi

Ilustrasi

Mojokerto, SMN – Komitmen Gubernur Jawa Timur, Soekarwo untuk menyediakan aksesibilitas kesehatan hingga pelosok desa ditunjukkan dengan membentuk Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes). Selain Pos Layanan Terpadu (Posyandu), Jaminan Kesehatan Semesta, Ponkesdes juga dinyatakan sebagai program prioritas di bidang kesehatan.

Sejumlah inovasi terus dilakukan, misalnya metode pelayanan kesehatan yang diterapkan di Desa Bendung Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. Perawat dan Bidan yang bertugas di Ponkesdes tersebut, setiap hari mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan layanan kesehatan. Secara berkala, keduanya terus memantau perkembangan kesehatan dan lingkungan masing-masing dusun di desa Bendung.

Saat ditemui, Perawat Desa Bendung, Astrid Andamari mengatakan kehadiran Ponkesdes memiliki arti penting dan sangat dibutuhkan masyarakat. Program yang dibentuk berdasarkan instruksi Gubernur itu, memang terbukti menjadi satu-satunya layanan kesehatan di Desa, apalagi lokasi rumah sakit sulit dijangkau warga karena berjarak sekitar 15 Km.

“Hampir setiap hari saya dan bidan mengunjungi rumah warga untuk bertanya, berdiskusi dan memberi solusi atas keluhan kesehatan. Ini kami lakukan karena awalnya masih sedikit warga yang sadar dan mau datang ke Ponkesdes, tapi sekarang alhmdulillah sudah banyak warga yang datang dan berkonsultasi ,” tutur perawat yang telah mengabdikan diri selama lima tahun tersebut, Rabu (26/10) didampingi Kepala Urusan Kesejahteraan Sosial Desa Bendung, Nur Laila Fauzia di Ponkesdes Desa Bendung.

Menurutnya, petugas kesehatan tidak bisa hanya diam dan menunggu warga untuk datang ke Ponkesdes. Inisiatif mendatangi rumah warga karena fungsi tenaga kesehatan desa tidak akan berjalan apabila masyarakat tidak memiliki kesadaran kolektif. Dua fungsi yang harus dilakukan diantaranya adalah preventif dan sosialisasi.

Saat ada laporan dan hendak datang ke rumah warga, sambung Astrid, seringkali terkendala transportasi karena belum adanya kendaraan operasional. Ia berharap ada kebijakan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) terkait kendala ini, sehingga layanan kesehatan bagi warga desa dapat lebih optimal.

Di desa dengan jumlah penduduk sebanyak 4.760 orang tersebut, Astrid mengungkapkan setiap bulan rata-rata pengunjung Ponkesdes mencapai 250 pasien. Jumlah tersebut belum termasuk layanan yang diberikan langsung saat mengunjungi rumah warga. Berdasarkan data Ponkesdes, beragam keluhan penyakit yang seringkali ditangani diantaranya (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Ispa, hipertensi, diabetes dan beberapa panyakit musiman lainnya.

“Kadang warga juga harus antre karena banyaknya pesien sementara petugas kesehatan hanya dua. Memang banyak keterbatasan yang menghambat, namun hal itu tidak boleh menurunkan semangat melayani warga,” ungkap Astrid yang saat ini melayani total enam dusun di Desa Bendung.

Ketika menghadiri pelantikan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim, Desember tahun lalu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, menyatakan jumlah perawat di Jatim sekitar 51 ribu. Dari jumlah tersebut, 10 ribu perawat ada di Surabaya, sementara sisanya tersebar diseluruh Kab/Kota se Jatim.

Seperti diketahui, jumlah Ponkesdes di Jatim sebanyak 3.313 dan Pos Bersalin Desa (Polindes) ada 5.700. Setiap Ponkesdes diberi petugas kesehatan dua orang. Perawat-perawat itu diberi insentif dari APBD Prov Jatim sebesar Rp 800 ribu perbulan. Rencananya, tahun ini, gaji perawat di setiap Ponkesdes akan dinaikkan 3 kali lipat. Sehingga, tiap perawat digaji sebesar Rp 2,4 juta per bulan.

Berkat kerja keras dan pengabdian seluruh tenaga kesehatan di seluruh Jatim, pada 2015 Jawa Timur memperoleh penghargaan Tingkat Nasional untuk sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Bekerja dengan sepenuh hati dan ihklas merupakan nilai yang tak boleh absen dalam memberikan layanan pada masyarakat. (luk/kom_jtm)

post-top-smn

Baca berita terkait