Tuesday, 23 July 2019

Kualitas SDM Sangat Menentukan Daya Saing Jatim Ke Depan

post-top-smn

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Hadiri Acara Wisuda Putra Ketiga Yusuf Mannagalli Atas Gelar Sarjana Dokter Di Universitas Brawijaya Malang.

Malang, suaramedianasional.co.id – Momen wisuda kerap menimbulkan dilema bagi para wisudawan karena terpikir lapangan kerja. Namun optimisme bahwa SDM berkualitas sangat dibutuhkan di pasar kerja formal dan profesional disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat hadir dalam acara Wisuda Program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana Univesitas Brawijaya, Sabtu (27/4/2049).
“Saya ingin sampaikan kepada seluruh wisudawan yang baru saja dilepas Universitas Brawijaya, yakinlah bahwa mereka hari ini sangat dibutuhkan oleh bangsa ini,” kata gubernur perempuan pertama Jawa Timur ini.
Meski begitu Khofifah menyampaikan bahwa kualitas SDM di berbagi sektor pekerjaan selalu berhadapan dengan daya saing baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sebab setuju tidak setuju, menurut Khofifah, saat ini di era revolusi industri 4.0 menuntut kemajuan seluruh bidang kehidupan yang memiliki kualitas SDM dan daya saing yang tinggi.
“Daya saing tinggi bisa diatasi antara lain kalau SDM kita berkualitas dan secara kuantitatif bisa dipenuhi. Profesi tertentu kita memiliki ahli sangat terbatas, misalnya pakar keuangan Islam sangat dibutuhkan seiring dengan pertumbuhan perbankan syari’ah, lalu juga pakar artificial intelligence kita juga belum banyak. Mereka sangat kita butuhkan tetapi jumlahnya sangat sedikit,” kata Khofifah.
Misalnya, wanita yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini menyebut di bidang infrastruktur, bidang pertanian, bidang pengairan, bidang perikanan. Sektor-sektor tersebut terbuka untuk menerima skilled labour para sarjana di bidangnya namun tetap butuh spesifikasi. Seperti pakar industri garam yang sesuai dengan karakter ladang garam di Madura, teknologi pertanian untuk meningkatkan produksi padi, jagung dan sebagainya yang terus berkembang.
Khofifah mengajak untuk melihat bagaimana negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, investasi yang bagus, dan pemerataan kesejahteraan berjalan dengan baik berseiring dengan pertumbuhan ekonominya.
Antara lain peran dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang terus memberikan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia berharap pertumbuhan ekonomi di Jatim akan berseiring dengan tumbuhnya kesejahteraan dan pemerataan pembangunan yang semakin baik.
“Maka hari ini ada harapan baru bahwa alumni Universitas Brawijaya yang baru selesai di wisauda akan jadi bagian dari penguatan dan peningkatan SDM di negeri ini, khususnya Jawa Timur, baik secara kualitatif dan kuantitatif,” ucapnya.
“Besok pagi matahari akan terbit dan akan memberikan harapan pencerahan. Lapangan pekerjaan begitu banyak yang menunggu kedatangan mereka,” imbuhnya.
Lebih lanjut Pemprov juga banyak menggelar job market fair di sejumlah Balai Latihan Kerja (BLK) yang dimiliki Pemprov Jawa Timur. Yang terbaru dibuka adalah di Jombang yang menyediakan lebih 2000 lebih peluang kerja dengan kualifikasi pekerjaan yang bervariasi di berbagai sektor dunia usaha dan industri.
“Saat ini profil tenaga kerja Jawa Timur 64 persen tenaga kerja kita kualifikasinya lulus atau tidak lulus SD/SMP. Terdiri dari 46,9 persennya lulus atau tidak lulus SD , sisanya lulus atau tidak lulus SMP. Maka kalau kita hari ini dapat tambahn energi luar biasa lulusan vokasi, S1, S2 dan S3, ini akan jadi penguatan sektor ketenagakerjaan kita. Kita berharap yang mengisi pasar kerja akan lebih banyak kategori skilled labour atau educated people,” pungkas Khofifah.

Hadiri Wisuda Putra Ketiga, Yusuf Mannagalli yang Raih Gelar Sarjana Kedokteran

Selain ingin memberikan motivasi pada para wisudawan Universitas Brawijaya, agar mereka semangat menatap masa depan. Dalam momen ini, Gubernur Khofifah juga sekaligus menghadiri wisuda putra ketiganya, Yusuf Mannagalli yang meraih gelar Sarjana Kedokteran. Putranya berhasil lulus tepat waktu dan meraih indeks prestasi yang baik.
“Anak saya begitu mandiri, jarang minta uang saku ke orang tuanya. Mulai awal kuliah sampai semester empat itu kan gawat-gawatnya karena jadi penentu bisa lanjut kuliah atau nggak, bisa droup out kalau tidak terpenuhi indeks prestasi minimalnya, ternyata dia Sabtu Minggu malah jualan t-shirt di banyak tempat, saya juga baru tahunya belakangan,” kata Khofifah.
Hal itu sempat membuatnya kaget. Namun semangat berwirausaha yang dimiliki anaknya didukung Khofifah. Terlebih karena putranya memiliki cita-cita positif kelak dalam menjalani profesinya sebagai dokter.
“Dia sering bilang, Ibu, saya punya cita-cita kalau nanti jadi dokter saya nggak mau hidup saya incomennya dari profesi saya, saya ingin dedikasikan profesi saya untuk berikan pengobatan gratis ke masyarakat. Dan dia inginnya dapat income dari wirausaha,” kata Khofifah. (*)

post-top-smn

Baca berita terkait