Monday, 24 June 2019

Ketua DPRD Diam-Diam Meninggalkan Lokasi Demo

post-top-smn

Lumajang, SMN – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi GMNI, menggelar aksi di muka gedung DPRD Lumajang, menolak disahkannya Undang-undang tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UUD MD 3), Senin, 19/2.

Aksi mahasiswa tersebut berlangsung saat digelar sidang paripurna. Di tengah orasi, sejumlah mahasiswa sempat menjulurkan kartu merah lantaran tidak ada satupun perwakilan dewan yang mau keluar menemui mereka.

Beberapa saat kemudian, Ketua DPRD Lumajang, Agus Wicaksono keluar menemui mahasiswa. Namun entah apa sebabnya, tiba-tiba dia marah sembari menunjuk dan melotot ke arah kelompok aksi. “Jangan kurang ajar. Ayo masuk sepuluh perwakilan,” kata Agus emosi.

Akan tetapi perwakilan aksi enggan masuk. Mereka berdalih berangkat dengan satu suara dan satu tujuan. Dan hanya mau masuk jika semua pesera aksi diperbolehkan masuk. “Tidak ada perwakilan. Cukup kalian (DPRD) yang jadi perwakilan,” teriak Sahwal Ali, salah satu perwakilan orator dari unsur Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lumajang.

Sikap tidak kooperatif mahasiswa lantas ditanggapi Agus dengan meninggalkan lokasi aksi. Namun peserta aksi enggan bubar. Justru suasana semakin memanas. Melihat banyak mobil keluar dari pelataran gedung DPRD, para mahasiswa semakin brutal, mereka menutup jalan. Mereka tetap meminta agar semua yang ikut aksi diperkenankan masuk untuk bertemu perwakilan dewan. “Tadi datang melotot sekarang malah pergi diam diam. Kok seperti anak kecil, ” seloroh Sahwal.

Dia menyesalkan sikap Ketua DPRD Lumajang yang tidak santun itu. Menurutnya, tidak semestinya wakil rakyat datang menemui peserta aksi dengan marah-marah, melotot, lantas meninggalkan begitu saja. ” Kami datang dengan baik baik, kami tidak anarkis, tapi mengapa perlakuan ketua dewan seperti itu, Mulai saat ini kami melayangkan mosi tidak percaya. Karena sikap Ketua DPRD Lumajang yang tidak layak,” ucap mahasiswa berpeci hitam itu.

Tujuan mahasiswa datang ke Gedung DPRD Lumajang hanya bermaksud meminta pejabat DPRD, sebagai perwakilan rakyat, menolak disahkannya UU MD3 yang intimindatif itu. “Kami hanya ingin mengajak warga Lumajang untuk menolak Undang-Undang MD3. DPRD kan mewakili rakyat, makanya kami datang ke sini dan bermaksud ketemu mereka (pejabat dewan), ” imbuhnya.

Setelah lama mahasiswa berorasi, akhirnya ketua komisi A DPRD, Hj. Nurhidayati keluar menemui pendemo. “Apapun kalau untuk rakyat pasti kami perjuangkan, karena demokrasi ini milik rakyat. Masukan dari mahasiswa tadi wajib kita dukung, dan kita lanjutkan, agar aspirasi ini sampai ke pusat ” pungkasnya. (Atk)

post-top-smn

Baca berita terkait