Wednesday, 19 September 2018

Kampung Kerbau, Layak Jual Sebagai Wisata Alternatif

post-top-smn

ratusan kerbau digembalakan di Dusun Bulakpepe jadi pemandangan warga.

 

 

NGAWI, SMN – Keberadaan kampung kerbau di Dusun Bulakpepe Desa Banyubiru Kecamatan Widodaren menjadi salah satu destinasi wisata yang jadi alternatif sejak ramadhan lalu.

Kampung kerbau disematkan pada dusun kecil ini karena kebaradaan ratusan kerbau yang dipelihara secara komunal di area khusus. Kandang-kandang untuk kerbau tersebut juga dibuatkan secara permanen berbentuk bangunan seperti rumah tinggal. Pemandangan yang istimewa terjadi karena ratusan kerbau tersebut begitu memasuki area kandang akan mengetahui dimana kandang mereka masing-masing. “Kepemilikan kerbau dan kandangnya ini oleh beberapa orang, sekitar 30 orang lebih, masing-masing memiliki minimal 10 ekor bahkan ada yang 35 ekor,” ungkap Warsito, Kepala Dusun Bulakpepe.

Memelihara kerbau di dusun itu sudah menjadi tradisi turun temurun. Dahulu, hal itu dilakukan untuk mendkung usaha pertanian karena kerbau dapat dipakai untuk membajak dan mengangkut barang berat. Namun saat daerah-daerah di Jawa mulai lebih familiar dalam memelihara sapi, kebiasaan di Bulakpepe untuk memelihara kerbau tak pernah luntur.  Ratusan kerbau itu disediakan kandang berukuran besar, berjumlah sekitar 60 kandang di lahan miik perhutani sementara pemiliknya tinggal di tempat berbeda. Uniknya, ratusan kerbau yang digiring ke sungai itu, usai digembalakan akan mengetahui kandnag-kandang mereka sendiri. “Bahkan jalan untuk kerbau-kerbau itu mandi di sungai ya sudah jelas, sudah tersedia dan kerbaunya juga hafal,” katanya.

Kedisiplinan kerbau itulah yang menjadikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang tiap sore sengaja menunggu di jembatan di atas sungai tempat ratusan kerbau berendam. Para pemilik kerbau sudah terbiasa melakukan sistem titip, yakni tidak menggembala sendiri kerbau mereka namun membayar orang lain. “Kalau tidak sempat menggembala sendiri biasanya digembalakan orang lain dengan sistem upah sekitar Rp 50 ribu per ekor tiap bulannya. Ratusan kerbau itu biasanya digembalakan oleh dua sampai tiga orang. Penggembalaan kerbau dilakukan secara komunal dengan memilih lahan luas yang tidak ada tanaman produktifnya. Maklum, di desa ini, tanaman jati juga banyak dibudidayakan warga setempat. (ari)

post-top-smn

Baca berita terkait