Monday, 22 October 2018

Kadin Ajak Buka Peluang Bisnis Ritel Produk Halal

post-top-smn
Tim ahli Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Jamhadi

Tim ahli Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Jamhadi

Surabaya, SMN – Di tengah-tengah persaingan perdagangan bebas dunia, masih banyak peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh umat Islam di Jawa Timur, diantaranya bisnis ritel yang menjual semua produk halal.

Tim ahli Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Jamhadi, mengatakan peluang bisnis halal ini seharusnya ditangkap oleh umat muslim, karena selama ini produk halal masih impor dari Malaysia, China, Jepang, bahkan Prancis menjadi pusat produk halal dunia.

“Ini sangat ironi, kenapa bukan Indonesia yang menguasai produk halal. Padahal mayoritas penduduk Indonesia merupakan muslim,” kata Jamhadi, dalam seminar ekonomi, Minggu (20/11).

Dia meminta agar pengusaha muslim terus mencari data untuk pengembangan usahanya. Dan yang perlu ditekankan ialah tidak melakukan praktik monopoli yang merugikan masyarakat. Contohnya monopoli kebutuhan pangan dan mencari keuntungan sepihak.

Menurutnya, Bisnis ritel bisa dikembangkan melalui Koperasi, sehingga bisa membuka peluang kerja baru. Saat ini, penyerapan tenaga keja di Jawa Timur mencapai 3.095.256 orang dari 798.108 unit usaha.

Dari jumlah itu, komposisinya industri besar 0,19% dengan tenaga kerja 11,55%, industri menengah 2,03% dengan penyerapan tenaga kerja 30,74%, dan industri kecil 97,80% dengan menyerap tenaga kerja 57,69%.

Dalam kesempatan yang hampir bersamaan, Ferry Koto menyampaikan bahwa koperasi merupakan jalan umat untuk menguasai media. Keuntungannya ialah kapitalisasi dari anggota dan setiap bulan tersedia modal operasi dan modal usaha dapat ditingkatkan juga dengan penambaan anggota.

Kosumen media ialah anggota seketika menjadi konsumen loyal dari media milik koperasi. Sementara citizen jurnalisme, yaitu jaringan anggota dapat menjadi jaringan jurnalisme yang besar.

“Kami berbisnis dengan konsep gotong royong. Untuk media kami sudah ada di seluruh Indonesia, dari aceh sampai Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Koto menyampaikan, berkembang atau tidaknya media Umat ini tergantung pengelolaannya.

“Umat yang menentukan apakah media ini akan berjalan. Sehingga konsepnya koperasi. Kita pilih koperasi karena kita pikir in bukan urusan modal tapi perjuangan dan umat harus brsama-sama,” jelasnya.(mad/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait