Monday, 17 December 2018

JMF 2017, Targetkan 2.000 Lebih Pencaker Bisa Terjaring

post-top-smn

IMG_20171019_093447 Jember, SMN – Job Market Fair (JMF) 2017 yang digelar oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kerja Jember Dinas Tenaga Kerja Propinsi Jawa Timur, kali ini menargetkan 2.500 orang peserta yang hadir.

Hal ini disampaikan oleh Kepala UPT Pelatihan Kerja Jember Disnaker Propinsi Jawa Timur, Drs Tony Ernowo MSi kepada media bahwa kegiatan JMF ini diisi oleh sekitar 28 perusahaan.

“Targetnya setiap perusahaan diisi oleh 100 orang pencari kerja, jadi total bisa 2.800 orang pencari kerja yang melamar,” katanya saat ditemui seusai pembukaan JMF 2017 ditempat kerjanya, Kamis (19/10) pagi tadi.

Disini kata Tony, pihaknya memberikan keleluasaan kepada pencari kerja agar mereka paham dan mengetahui banyak perusahaan yang membutuhkan pencari kerja dari berbagai disiplin ilmu.

“Pencari kerja dapat menjelajahi semua stand yang ada dengan tertib dan dapat melakukan komunikasi dengan HRD setiap perusahaan,” jelasnya lagi.

Menurut Tony, sasaran pencari kerja ini yaitu para masyarakat yang ada di wilayah kerja UPT Pelatihan Kerja Jember ini seperti Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Banyuwangi.

Kegiatan ini juga dikatakan Tony, bahwa akan memberikan kontribusi penurunan angka pengangguran di sekitar wilayah kerja UPT Pelatihan Kerja Jember ini.

“Kalau menurut data yang dimiliki Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Timur, bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Timur pada Pebruari 2017 tercatat sebesar 4,10 persen atau turun 0,04 poin dibandingkan tahun 2016 lalu sebesar 4,14 persen, dari 30,31 juta orang jumlah penduduk usia kerja.

IMG_20171019_093409Sementara itu menurut Kepala Disnakertrans Propinsi Jawa Timur, Setiajit kepada media mengungkapkan bahwa angka angkatan kerja di Jawa Timur saat ini sebanyak 20,89 juta orang (68,93 persen).

“Jumlah yang bekerja mencapai 20,03 juta orang dan sisanya sekitar 855,75 ribu yang masih menganggur,” ungkapnya.

Tingkat pengangguran di perkotaan menurut Setiajit, lebih besar dari pada pengangguran yang ada di pedesaan.

“TPT perkotaan sekitar 5,65 persen sedangkan TPT pedesaan sebesar 2,54 persen,” tambahnya.

Kalau dilihat dari tingkat pendidikannya, dijelaskan Setiajit bahwa pengangguran ditingkat latar belakang lulusan SMK sebesar 8,88 persen, diploma sebesar 8,18 persen, SMA sebanyak 5,74 persen, SMP sebesar 3,88 persen, lulusan universitas sebesar 3,77 persen dan SD yang paling sedikit sebanyak 2,37 persen.

“Pada Pebruari 2017 sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebanyak 35,12 persen. Untuk sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi sebesar 22,88 persen. Sedangkan sektor industri pengolahan menyerap 14,95 persen, serta sektor jasa kemasyarakatan sosial dan perorangan menyerap sekitar 14,06 persen,”  pungkasnya.

Dari informasi yang didapatkan mayoritas untuk sektor formal seperti buruh/karyawan sebesar 62,79 persen dan sisanya sektor informal sebesar 37,21 persen. (atk)

post-top-smn

Baca berita terkait