Sunday, 20 May 2018

Jatim Tutup Hari Jadinya Dengan Wayangan, Istighosah dan Jalan Sehat

post-top-smn

baliho-hari-jadi-jatim

Surabaya, SMN – Rangkaian Hari Jadi ke 71 Provinsi Jatim tahun 2016 masih akan diisi dengan tiga kegiatan. Tiga kegiatan tersebut  yaitu pagelaran wayang kulit pada tanggal 05 November 2016 di Jalan Pahlawan 110 Surabaya, Istghosah doa bersama tanggal 06 November 2016 di Tugu Pahlawan dan jalan sehat tanggal 13 November 2016 dengan start dan finish di halaman Gedung Negara Grahadi Surabaya. Pada jalan sehat disediakan doorprice sepeda motor dan sejumlah hadiah hiburan lainnya.

Kepala Biro Administrasi Kesmas Setdaprov Jatim, Bawon Adhi Yitoni, Senin (24/10) mengatakan, khusus acara Istighosah dan doa bersama menjadi rangkaian rutin pada Hari Jadi Provinsi Jatim. Ini digelar setiap tahun dengan harapan agar Provinsi Jatim senantiasa aman damai sejahtera dan pembangunan di Jatim dapat berlangsung.

“Dengan Istighosah ini kita berharap stabilitas politik, sosial dan ekonomi tetap kondusif sehingga proses pembangunan berjalan baik,” kata Bawon.

Peserta Istighosah terbuka untuk umum dan melibatkan majelis dzikir dari Surabaya serta mengundang jajaran Forum Pimpinan Daerah (FORPIMNDA) Jatim. Bagi yang ingin mengikuti acara doa bersama ini diharapkan memakai busana berwarna putih.

Untuk pagelaran wayang kulit yang berlangsung pada malam minggu itu membawakan lakon cerita “Semar Sang Pamomong” yang dimainkan oleh dalang kondang Ki Manteb Sudarsono dari Surakarta, dalang yang terkenal dengan sabetannya saat perang memainkan wayang. Kemahiran memainkan wayang bisa menjadi magnet penonton sekaligus melestarikan budaya yang sarat dengan pesan moral dan filosofi hidup.

Sinopsis lakon yang ditampilkan dimana Semar adalah tokoh sentral punokawan ini bersama Gareng, Petruk dan Bagong adalah penasehat para ksatria Pendawa dalam mengemban tatanan kehidupan yang baik. Dalam konteks sequel ringgit purwo ini Semar harus memposisikan diri sebagai penasihat karier bagi para ksatria untuk meraih prestasi dan Semar sebagai Pamomong yang harus netral, bijak dan berwibawa bagi para ksatria dalam menyiapkan suksesi kepempinan di wilayah Hastinapura, namun Sang Semar juga dirindukan sebagai pengawal dengan petuahnya bagi kawulo alit. (pno/kom_jtm)

 

post-top-smn

Baca berita terkait