Wednesday, 15 August 2018

Jadi Kota Batik Dunia, Perajin Batik Yogyakarta Disertifikasi

post-top-smn

BEBERAPA pekerja membatik di salah satu indutrsi batik rumahan, di Alun-alun Kuidul, Keraton, Yogyakarta beberapa waktu lalu. Disperindag DIY menggencarkan sertifikasi pengrajin batik guna meningkatkan kompetensi mereka untuk bersaing di pasar dalam negeri maupun internasional.

Yogyakarta, SMN – Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta akan menggencarkan sertifikasi perajin batik. Ini dilakukan guna meningkatkan kompetensi mereka untuk bersaing di pasar dalam negeri maupun internasional.

“Secara bertahap kami akan menyertifikasi pengrajin batik dengan menyesuaikan anggaran yang ada,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Budi Antono di Yogyakarta, Senin 30 Oktober 2017.

Anton mengungkapkan jumlah pelaku usaha di bidang batik di DIY mencapai kurang lebih 81.000 pelaku. Semuanya diharapkan dapat mengantongi sertifikasi. “Sampai saat ini sudah 320 pebatik yang sudah disertifikasi. SDM di bidang usaha batik ini harus disertifikasi sesuai standar yang ada,” ungkap dia.

Batik merupakan salah satu produk fesyen yang memberikan potensi besar terhadap pendapatan. Terlebih persaingan di sektor bisnis ini semakin ketat. Untuk  dapat memiliki daya saing kuat, maka SDM di bidang usaha batik perlu mendapatkan standarisasi dan sertifikasi untuk memperkuat keberadaan produknya di pasaran.

Dengan mengantongi sertifikasi, kata Anton, pengrajin batik punya kekuatan payung hukum dan legalitas. Itu penting guna mendukung daya saing produk batik untuk bersaing baik di pasar lokal dan mancanegara.

“Dengan sertifikasi ini, ada kekuatan dari produk batik DIY untuk menghadapi persaingan di pasaran. Setelah mendapatkan sertifikasi kami memberikan pelatihan dan evaluasi terhadap pelaku industri kecil menengah (IKM) batik itu,” ujar dia.

Regenerasi perajin batik

Budi mengatakan, jumlah pengrajin batik di DIY tidak menurun, melainkan terus terjadi regenerasi dari tahun ke tahun. Hal itu, menurut dia, seiring dengan upaya pemerintah yang mewajibkan pelajaran membatik masuk ke dalam kegiatan ekstra di setiap sekolah.

“Kalau dulu kesannya yang membatik orang-orang tua, sekarang generasi muda sudah banyak yang bisa membatik,” ucap dia.

Menurut Budi, sentra industri batik di DIY antara lain terdapat di Dusun Tancep, Trembowo (Kabupaten Gunung Kidul), Imogiri, Pandak (Kabupaten Bantul), Sapon, Gulurejo, Lendah (Kulon Progo), Turi/lereng merapi (Kabupaten Sleman), dan Taman Sari (Kota Yogyakarta) dengan total corak batik pada 2015 mencapai 400 macam.

Selain itu, Industri batik di Yogyakarta terus meningkat. Hingga akhir 2016, ekspor batik asal provinsi itu tembus hingga USD 101,11 juta. Peningkatan ini membuat Yogyakarta ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Coucil (WCC).

”Dari total nilai ekspor senilai 252,78 juta USD, sebesar 40% berasal dari komoditas tekstil termasuk batik atau USD101,11 juta,” tutur dia.

Selain faktor penjualan yang terus meningkat, juga karena kehadiran pembatik muda yang terus tumbuh. Berkarya dengan berbagai inovasinya tanpa meninggalkan motif pakem.

Sementara itu, Kepala Seksi Sandang dan Kulit Disperindagkop DIY Ani Srimulyani mengatakan sesuai data 2015 industri batik di DIY terus mengalami pertumbuhan dengan jumlah IKM mencapai 8.000 IKM. Jumlah itu meningkat dari 2013 yang masih berjumlah 3.000 IKM yang tersebar di lima kabupaten/kota.(pkr)

post-top-smn

Baca berita terkait