Sunday, 22 July 2018

Insentif Guru Ngaji 2017, Dicairkan Rp 16 Miliar 

post-top-smn

bupati serahkan honor guru ngaji (2)

Jember, SMN – Bupati Jember dr Hj Faida, MMR, bersama Wabup KH Muqit Arif, secara pasti merealisasikan 22 program janji kerja salah satunya meningkatkan honor atau insentif guru ngaji menjadi tiga kali lipat, totalnya Rp 16.071.600.000.

Terbukti, tahun 2016 realisasi 11.271 orang guru ngaji hanya terserap Rp 4.508.400.000, tahun 2017 naik tiga kali lipat dengan jumlah juga meningkat menjadi 13.393 orang dikali Rp 400 ribu kali tiga.

Berdasarkan regulasi terbaru yang menyatakan bahwa insentif guru ngaji yang jika dimasukkan dalam bantuan sosial hibah maka penerimanya tidak diperbolehkan untuk berulang ulang menerima. Sehingga dalam regulasi terbaru, insentif guru ngaji masuk dalam program Pendidikan Masyarakat (Dikmas) bidang PAUD dan Dikmas di Dinas Pendidikan.

Dr Hj Faida MMR, menjelaskan bahwa komitmen Pemerintah Kabupaten itu terkait eksistensi guru ngaji yang menyatakan bahwa guru ngaji adalah ujung tombak yang memegang peranan penting dan strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, membentuk watak serta menentukan keberhasilan pendidikan secara umum.

“Karena itu kehadiran guru ngaji tidak tergantikan oleh unsur lain, lebih – lebih guru ngaji yang secara ikhlas berjuang lahir dan bathin. Profesi guru ngaji tidak kalah pentingnya dalam membangun bangsa, karena guru ngaji merupakan peletak dasar dari akhlak seseorang yang akan menentukan sikap dalam kehidupan bermasyarakat,” jelas Bupati.

Namun demikian keberadaan guru ngaji belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai termasuk kesejahteraan guru ngaji. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Jember berupaya mendukung keberadaan guru ngaji ke depan.

Untuk urusan kesejahteraan masih jauh dirasa kurang, karena menurutnya bukan Rp 400 ribu kali tiga lalu dipotong pajak 15 %, tetapi yang jelas guru ngaji patut diangkat derajatnya.

Dalam pendataan guru ngaji selanjutnya, Bupati memaparkan beberapa persyaratan bagi guru ngaji yang berhak mendapat insentif. Beberapa syarat itu antara lain, masih aktif mengajar, sudah berlangsung lebih dari 6 bulan, usia minimal 18 tahun, mengerti tajwid dan mengajar minimal 10 santri, memiliki jadwal rutin dan durasi yang tetap, guru ngaji tradisional (tidak ada manajemennya), bukan berstatus PNS, pensiunan PNS, Polri/TNI, bukan perangkat desa, serta bukan diperuntukkan bagi yang sedang menerima honor dari APBD.

“Untuk itu, kami berharap pemerintah daerah dibantu para guru ngaji di sini untuk ikut mendata, dan mendaftarkan saja jika menemukan guru ngaji sesuai syarat di atas, meski tidak memiliki KTP, KK, atau surat nikah tetap akan dilayani. Yang ingin memiliki akte nikah akan dilayani gratis oleh Bupati, melalui istbat nikah. Asal, bukan untuk yang nikah lagi,” tegas Bupati, disambut tawa ribuan guru ngaji di halaman Masjid Al Qodiri.

Apresiasi tinggi terhadap guru ngaji, menurut Bupati, karena selama ini bisa dilihat bahwa jika guru ngaji sehat maka kesehatannya itu diabdikan untuk masyarakat dengan mengajar ngaji. Untuk itu jika ada guru ngaji yang sakit, tidak ada yang membiayai maka jangan ditunda untuk minta pertolongan.

“Kalau ada guru ngaji dan keluarganya perlu ke rumah sakit itu tanggungjawab Bupati. Kalau ada yang gak melayani pejabatnya akan kita ganti,” tegas Bupatilagi.

Faida, menaruh perhatian besar kepada guru ngaji karena menurutnya mereka telah ikut berjuang mencerdaskan bangsa. Untuk itu dia juga menjanjikan kepada keluarga, dan anak guru ngaji yang kesulitan melanjutkan sekolah dapat diajukan beasiswa ke Bupati.

“Yang tidak mampu biayai pendidikannya, kita tanggung. Jangan sampai ada anaknya guru ngaji tidak sekolah. Minimal SMA/SMK. Kalau masih bisa melanjutkan tapi tidak mampu biaya kuliah akan dibiayai, termasuk jika minta pembiayaan untuk biaya kuliah dan biaya hidup, kedua duanya akan ditanggung daerah,” ujarnya lagi.

Mendengar pernyataan Bupati Faida, terkait kemudahan yang diberikan kepada guru ngaji, KH Ahmad Muzakki Syah, pengasuh Ponpes, sebelum memimpin istighosah dan doa, sangat mendukung. Bahkan, menurutnya sosok Bupati Faida, merupakan pemimpin yang tidak memiliki potensi korupsi.

“Ini, orangtuanya nitip ke saya. Faida itu, dari keluarga kaya. Tidak ada yang dicari lagi. Tidak akan mungkin Bupati Faida ini korupsi. Kita harus bersyukur memiliki pemimpin yang tidak korupsi. Kita harus mendukungnya, bahkan hingga periode ke dua selanjutnya,” ujar tokoh yang dikenal dekat dengan Presiden, Kapolri, dan pejabat tinggi TNI Polri di Indonesia ini. (atk)

post-top-smn

Baca berita terkait