Sunday, 22 July 2018

Hari Jadi ke-659, Kebhinekaan Menjadi Elemen Pendukung Pembangunan demi Wujudkan Ngawi sebagai Barometer Jawa Timur

post-top-smn
Bupati Kanang menyerahkan pusaka saat prosesi Jamasan Pusaka

Bupati Kanang menyerahkan pusaka saat prosesi Jamasan Pusaka

Ngawi, SMN – Bupati Ngawi, Budi Sulistiono atau akrab disapa Kanang, berpesan agar momen hari jadi Ngawi ke-659 yang diperingati setap bulan Juli, menjadi salah satu pemicu untuk warga agar lebih kreatif dan bekerja keras demi mewujudkan Ngawi yang berkarakter, ramah dan lebih spekakuler. “Generasi muda di Ngawi penting untuk mengetahui bahwa sejarah Ngawi tidak instan, merupakan salah satu bagian dari Bangsa Indonesia yang diperoleh melalui darah para pejuang,’ ungkap Kanang usai melakukan ziarah makam leluhur 5 Juli 2017 lalu.

Mengenal perjuangan para leluhur pendiri Kabupaten Ngawi menurut Kanang, merupakan salah satu cara bagi generasi muda menjunjung budaya leluhur sesuai kulturnya yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Makam leluhur yang dikunjungi Kanang dan rombongan yang terdiri dari pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) merupakan para pemimpin Ngawi di masa lampau. “Pemimpin dan pendahulu di Ngawi ini sudah menanamkan banyak hal baik, kultur yang luhur dan sifat bergotong royong yang harus kita lestarikan dan dipahami generasi muda,” ujar Kanang.

Memimpin Kabupaten Ngawi sebagai salah satu bagian tanah nusantara di bawah penjajahan Belanda, tentu bukan hal yang mudah. Namun para pemimpin terdahulu selalu meletakkan sendi pemerintahan dengan semangat mendahulukan kepentingan rakyat, tidak mudah tunduk pada penjajah walaupun Ngawi sejak dulu dipandang sebagai salah satu jalur strategis untuk menghubungkan dengan daerah lain. “Dengan semangat Hari Jadi Ngawi ke-659 ini, kita wujudkan Ngawi sebagai barometer Jawa Timur,” kata Kanang.

Setiap memperingati Hari Jadi Ngawi yang jatuh setiap tanggal 7 Juli Bupati Ngawi dan Wakil Bupati Ngawi beserta pimpinan satuan kerja memang selalu menziarahi makam leluhu. Diantaranya dengan berkunjung ke Taman Makam Pahlawan (TMP), makam RM Tumenggung Poerwodiprodjo (Bupati Ngawi 1887-1902), makam Raden Adipati Kertonegoro di Gunung Sarean Sine dan makam Raden Patih Ronggolono dan Putri Cempo di makam Desa Tawangrejo, Kecamatan Ngrambe.

Bupati Kanang saat acara malam tirakatan di PendapaWedya Graha Ngawi

Bupati Kanang saat acara malam tirakatan di PendapaWedya Graha Ngawi

Selain ziarah ke makam leluhur, dalam peringatan Hari Jadi Ngawi juga dilakukan ritual pembersihan pusaka yang usianya sudah ratusan tahun dan selama ini disimpan di gedong pusaka, lingkup Pendapa Wedya Graha Ngawi. Selain itu menjelang hari jadi juga dilakukan malam tirakatan baik di pendapa Wedya Graha oleh Bupati Ngawi juga di setiap kelurahan dan desa.

Saat menjadi inspektur upacara HUT Ngawi 7 Juli 207 lalu, Bupati Ngawi Budi Sulistyono atau yang kerap disapa Kanang usai menjadi inspektur upacara HUT Kabupaten Ngawi ke-659 di Alun-Alun Merdeka, Kanang kembali menegaskan bahwa masih banyak persoalan di kabupaten ini yang perlu dituntaskan. Diantaranya menyoal pembangunan dan program pemerintah yang pro rakyat. “Namun melaksanakan hal seperti itu tentu tak bisa berjalan sendiri, semua meerlukan kerjasama dan dukungan semua pihak,” ungkapnya.

Dengan program pro rakyat yang berkelanjutan, diharapkan Ngawi tak hanya akan menambah lambang angka usianya, namun makin spektakuler seiring kemajuan pembangunan karakter masyarakatnya dan juga sarana pra sarananya. (adv/Dinas/Kominfo)

post-top-smn

Baca berita terkait