Wednesday, 23 May 2018

Harga Jual Tembakau di Jombang Tak Stabil

post-top-smn
Ilustrasi - Petani Tembakau

Ilustrasi – Petani Tembakau

Jombang, SMN РDibanding tahun lalu, nasib petani tembakau di Kabupaten Jombang  tahun ini cukup memprihatinkan. Harga jual tembakau jatuh akibat permainan tengkulak.

Tahun ini, harga tembakau basah dibeli dari petani dengan harga Rp 2.500 per kilogram. Padahal, pada musim panen tahun 2015 lalu, tembakau basah masih dibeli dari petani senilai Rp 5.000 per kilogram.

Supar (45), petani tembakau asal Desa Grogol Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang mengungkapkan para tengkulak tembakau menilai kualitas panen tembakau tahun ini menurun.Dengan kualitas yang dinilai rendah, jelasnya, tengkulak menentukan harga semau mereka.

Dikatakan Supar, ketidakpastian kondisi cuaca, menjadi senjata bagi para tengkulak untuk menekan petani.”Akhir-akhir ini memang cuaca tidak mendukung, dan ketika panen kami tak punya banyak pilihan,” paparnya, Selasa (8/11).

Permainan harga oleh tengkulak, menurut Karlan, petani asal Desa Munungkerep, Kecamatan Kabuh, Jombang, dimuluskan dengan alasan serangan hama ulat pada daun tembakau. Kualitas tembakau dinilai turun sehingga mudah memainkan harga.

Padahal, kualitas tembakau pada panen tahun ini tidak seburuk sebagaimana yang dijadikan alasan oleh para tengkulak. “Kualitas jelek itu yang dijadikan alasan untuk menurunkan harga,” beber Karlan.

Dia berharap, Pemerintah Daerah tidak tinggal diam dengan terus berinisiatif dan melakukan improvisasi untuk melindungi para petani tembakau di Kabupaten Jombang dari permainan harga oleh para tengkulak.

Jika tidak, ujar Karlan, banyak petani tembakau yang menjual lahannya dan berhenti menjadi petani.”Kalau rugi terus, mau bagaimana lagi. Kami berharap ada perlindungan dari pemerintah agar harga tembakau ini tidak terus dimainkan oleh para tengkulak,” ujarnya.

sementara itu, Pemerintah Kabupaten Jombang tahun ini menerima kucuran anggaran dari alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) sebesar Rp. 22,9 Miliar. Ditambah dengan Silpa DBHCHT tahun 2015 sebesar Rp. 7 Miliar, tersedia anggaran sebesar Rp. 29,9 Miliar.

DBHCHT merupakan Dana yang bersifat khusus dari Pemerintah Pusat yang dialokasikan ke Pemerintah Daerah (Pemerintah provinsi ataupun Pemerintah Kabupaten/Kota) yang merupakan penghasil cukai hasil tembakau dan/atau penghasil tembakau.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Jombang Yulien menjelaskan Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 28 Tahun 2016, tentang Penggunaan, Pemantauan dan Evaluasi DBHCHT, alokasi dana dari DBHCHT separuh diantaranya bisa dipergunakan untuk sejumlah program, antara lain Program Peningkatan kualitas bahan baku industri hasil tembakau dan Program Pembinaan industri hasil tembakau.(mad/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait