Monday, 21 May 2018

Gus Ipul : Jatim Jadi Lumbung Pelaku Ekonomi Syariah

post-top-smn
Wagub mendampingi menko perkonomian. Ka BAPENNAS dan gubernur BI menekan tombol sebagai tanda dimulainya pagelaran ISEF di Grand City Surabaya

Wagub mendampingi menko perkonomian. Ka BAPENNAS dan gubernur BI menekan tombol sebagai tanda dimulainya pagelaran ISEF di Grand City Surabaya

Surabaya, SMN – Jawa Timur menjadi lumbung pelaku ekonomi syariah. Hal ini terlihat dari sebesar 92,46 persen dari 38,48 juta penduduk Jatim beragama Islam dengan karakter religius dan terbuka. Di Jatim terdapat 6.003 pondok pesantren yang keberadaanya diakui secara nasional dan internasional, dengan jumlah santri di Jatim mencapai hampir satu juta jiwa.

“Ini belum termasuk para alumni pondok pesantren yang tersebar di Indonesia serta Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Saudi Arabia dan negara lainnya,” ujar Wagub Jatim Drs. H. Saifullah Yusuf saat Pembukaan Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2016 di Convex Grand City Surabaya, Kamis (27/10) malam.

Menyadari hal tersebut, ia menjelaskan, Pemprov Jatim terus mengembangkan ekonomi berbasis pesantren. Sejak 2011, Pemprov Jatim mengembangkan koperasi pondok pesantren (koppontren) dengan fokus antara lain membentuk unit jasa keuangan syariah.

Dalam ekonomi Jatim, menurutnya, peranan UMKM sangat penting. Kontribusi UMKM terhadap PDRB Jatim mencapai 54,98 pesen. Dalam konteks ini perbankan syariah memperlihatkan pemihakan yang sangat tegas terhadap pengembangan UMKM. “Rasio rekening pembiayaan UMKM dari perbankan syariah mencapai 84,24 persen,” jelas Gus Ipul sapaan lekat Wagub Jatim.

Berdasarkan data Bank Indonesia perwakilan Jatim triwulan II 2016, rata-rata rekening pembiayaan rekening syariah sebesar Rp. 43,56 juta. Sekitar 97,08 persen pembiayaan perbankan syariah kepada UMKM disalurkan kepada usaha berskala mikro.

Lebih lanjut disampaikannya, pengembangan ekonomi syariah terus diakselerasikan di Jatim. Salah satu langkah pengembangannya yakni Satuan Tugas Akselerasi Ekonomi Syariah (Satu Akses) Provinsi Jawa Timur telah dikukuhkan pada Selasa (25/10) lalu.

“Ini adalah ikhtiar kami untuk menggerakakan, mengembangkan dan mengakselerasikan ekonomi syariah secara masif. Salah satu ikhitiarnya adalah membangun sinerfgi antar organisasi atau penggiat ekonomi syariah yang mengacu pada blueprint dan strategi yang telah disusun,” katanya.

Gus Ipul ingin membangun optimisme di tengah perkembangan demokrasi global dewasa ini. Semua perkembangan berpotensi menjadi berita baik dari Indonesia untuk dunia diiringi dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, melahirkan kesejahteraan, dan bisa menjadi contoh negara lain.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo mengatakan,

ISEF merupakan salah satu kegiatan ekonomi dan keuangan syariah yang menyatukan pengembangan keuangan syariah dan kegiatan ekonomi di sektor riil. ISEF bagian dari peran aktif dalam memperkuat ekonomi dan keuangan syariah secara nasional.

Ia menilai, stabilitas makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Keuangan dan ekonomi syariah juga diperlukan sebagai pendobrak ekonomi dalam negeri.

“Stabilitas makro ekonomi dan stabilitas sistem keuangan belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, masih diperlukan tambahan tenaga termasuk dukungan dari ekonomi dan keuangan syariah,” katanya.

Namun sayangnya, keuangan dan ekonomi syariah di Indonesia belum begitu berkembang. Diperlukan upaya khusus, meningkat pangsa pasar perbankan syariah saja baru sekira 5%. “Berbagai upaya untuk meningkatkan ekonomi syariah diyakini bisa merangkul masyarakat yang belum terjangkau bank konvensional,” imbuhnya.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan, lanjutnya, adalah mengoptimalkan pengelolaan zakat dan wakaf. Pasalnya, baik zakat maupun wakaf dipercaya bisa memunculkan kekuatan ekonomi baru.

Dengan adanya pengelolaan oleh pemerintah, alokasi zakat dapat dikelola sehingga bertindak sebagai stabilisator. Sementara, dengan nilai wakaf yang terus meningkat akibat pemasukan dari kegiatan produktif dan penambahan wakaf, maka wakaf dapat berperan sebagai penyangga terhadap guncangan ekonomi.

“Zakat dan wakaf juga dipercaya bisa memunculkan kekuatan ekonomi baru dan mendorong kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Dalam pembukaan ISEF hari ini, dilakukan pula deklarasi nasional untuk pelaksanaan KNKS, oleh Gubernur Bank Indonesia, Menko Perekonomian, serta Ketua Bappenas. Penyelenggaraan ISEF yang telah dimulai sejak 2014 merupakan bentuk keseriusan BI dalam mengembangkan ekonomi syariah.

ISEF kali ini dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Shari’a Forum dan Shari’a Fair. Berlangsung pada 25 – 28 Oktober, Shari’a forum diadakan untuk mengangkat dan berdiskusi mengenai berbagai topik dan kajian pengembangan ekonomi syariah. Sementara Shari’a Fair, yang berlangsung hingga 30 Oktober dan dibuka untuk umum, dirancang untuk meningkatkan minat dan pemahaman masyarakat mengenai ekonomi dan keuangan syariah.

Wagub meninjau salah satu stand pameran bank syariah

Wagub meninjau salah satu stand pameran bank syariah

“Hal utama yang diangkat dalam Shari’a Forum adalah mengenai integrasi sisi komersial dan sosial dalam ekonomi syariah untuk meningkatkan stabilitas sistem keuangan. Topik tersebut diangkat untuk lebih mengoptimalisasi pengelolaan zakat dan wakaf  untuk meningkatkan ketahanan ekonomi nasional,” jelas Gubernur BI.

Selain itu, dibahas pula mengenai usaha-usaha pendalaman pasar keuangan syariah. Di sektor riil, dilakukan pula pembahasan mengenai inklusi keuangan syariah, yang antara lain dilakukan dengan pembentukan less cash zone di pesantren.

Dalam Shari’a Fair, konsep yang diangkat adalah aspek-aspek ekonomi syariah yang berpotensi untuk dikembangkan 5F, yaitu Finance (keuangan), Fashion, Food (kuliner), Funtrepreneur (wirausaha), dan Fundutainment (pendidikan dan hiburan). Shari’a Fair menampilkan rangkaian pameran produk-produk UMKM kreatif berbasis syariah yang juga disertai dengan talkshow, workshop, hiburan dan festival kuliner berbasis syariah.

Dengan penyelenggaraan Shari’a Fair, masyarakat dapat berkenalan dan bersentuhan langsung dengan produk ekonomi dan keuangan syariah. Melalui penyelenggaraan ISEF 2016, BI berharap ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dapat terus meningkat, baik melalui kajian-kajian yang mendukung maupun pemahaman dan penerimaan masyarakat yang semakin tinggi.

Untuk diketahui, ISEF merupakan salah satu kegiatan ekonomi dan keuangan syariah yang menyatukan pengembangan keuangan syariah dan kegiatan ekonomi di sektor riil. ISEF diinisiasi Bank Indonesia dan diselenggarakan bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif, Islamic Development Bank, Badan Amil Zakat Nasional, Badan Wakaf Indonesia, Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia, Kementerian Keuangan, Kementerian Agama, Kementerian PPN-Bappenas, serta Pemprov Jawa Timur, sebagai bagian dari peran aktif dalam memperkuat ekonomi dan keuangan syariah secara nasional. (*)

post-top-smn

Baca berita terkait