Sunday, 18 November 2018

Gus Ipul Harapkan Penerima BKSM Tiap Tahun Meningkat

post-top-smn
Wakil Gubernur Jatim H Saifullah Yusuf memberikan sambutan pada acara Rakor Pendidikan tahun 2017 se Provinsi Jawa Timur di Mercure Hotel Surabaya

Wakil Gubernur Jatim H Saifullah Yusuf memberikan sambutan pada acara Rakor Pendidikan tahun 2017 se Provinsi Jawa Timur di Mercure Hotel Surabaya

Surabaya, SMN – Pada Tahun 2017 ada sekitar 52 ribu anak yang akan memperoleh  Bantuan Khusus  Siswa Miskin (BKSM). Untuk saat ini, jumlahnya 52 ribu, apabila bertambah Pemprov Jatim akan mendukung  apabila diberikan bantuan kepada yang belum memperoleh.

Demikian disampaikan Wagub Jatim, Drs. H. Saifullah Yusuf setelah membuka Rapat Koordinasi Pendidikan Tahun 2017 di Hotel Mercure, Surabaya, Selasa (17/1) malam.

Menurutnya, Pemprov Jatim menginginkan semua anak memperoleh pendidikan gratis. Akan tetapi dengan anggaran saat ini masih belum bisa merangkul semuanya. “Apabila setelah dilakuan pendataan jumlah penerima BKSM meningkat, Pemprov Jatim setuju meningkatkan nilainya tiap taun,” ucap Gus Ipul sapaan akrab Wagub Jatim.

Dindik Jatim menganggarkan Rp 41 miliar untuk program BKSM. Sasarannya, 52 ribu siswa SMA/SMK se-Jatim. Dengan total peserta didik SMA/SMK se-Jatim sebanyak 1,1 juta siswa, maka sedikitnya 4,5 persen siswa yang dapat terkaver BKSM.

Ia menjelaskan, apabila ada pihak kabupaten atau kota ingin memberikan bantuan akan diperbolehkan, akan tetapi harus melalui prosesyakni bantuan langsung ke sekolah atau bantuan ke APBD Provinsi. “Yang menjadi prioritas Pemprov Jatim saat ini adalah membantu yang benar benar tidak mampu,”ujarnya.

Solusi bagi masyarakat yang tidak mampu adalah waib dibantu oleh pemerintah. Jangan sampai ada masyarakat yang tidak bisa sekolah.”Setiap sekolah pasti mempunyai daftar anak yang tida mampu. Nanti, untuk mengajukan BKSM juga harus dibarengi denga surat keterangan tida mampu dari orang tua. Untuk masyarakat yang mampu harus bayar dan tidak mampu wajib dibantu,” jelasnya.

Selain itu, Gus ipul juga menjelaskan beberapa hal yakni pendidikan harus seimbang serta berkelanjutan,bukan hanya di sekolah tapi juga ada pendidikan  non formal dan informal. Salah satu pendidikan informal adalah pendidikan di rumah. Hal itu merupakan bagian dalam pendidikan bahkan di Islam menyebutkan orang tua dan guru merupakan wadah pendidikan pertama bagi anak.

Pendidikan informal, kata Gus Ipul, banyak orang tua tidak memiliki waktu yang panjang dalam mendidik anak. Sebagian besar orang tua sibuk dengan urusan masing-masing. Terlebih masalah teknologi, saat duduk di ruang makan sebagai contoh,  anggota keluarga sibuk dengan gadget masing masing, bukan berkomunikasi secara langsung.

Dengan demikian, pendidikan informal memiliki tantangan tersendiri. Dirumah,banyak anak yang tidak memperoleh pendidikan yang ideal karena berbagai. Banyak orang tua yang menyerahkan anak kepada pendidikan salah satunya menyekolahkan di sekolah full day school.

Melihat kondisi seperti itu, dunia pendidikan memiliki beberapa tantangan yakni mengenai kompetensi dimana bagaimana melahirkan lulusn yang mempunyai keunggulan kompetitif. Keunggulan ini bersifat secara universal dan berstadart internasional. “Tugas pendidik haurs bisa melahirkan generasi yang mempunyai keunggulan  kompetitif. Hal itu menjadi kunci untuk menjadi pemenang dan terdepan dimasa mendatang,” ungkapnya.

Tantangan kedua adalah kedisiplinan. Semua Negara maju disiplin menjadi hal paling utama. Disiplin bisa diajarkan di rumah, sekolah dan lingkungan. Kedisiplinan harus ditanamkan pada anak di semua hal. Sebagai pendidik harus mengajarkan kedisiplinan kepada anak didik misalnya menjadikan manusia unggul dan disiplin menghargai waktu. “ Hal tersebut memang hal sepele tapi menjadi hal penting dalam menciptakan generasi yang hebat. Di sekolah bisa diterapkan dengan memakai pakaian yang rapi, jam masuk tepat waktu dan menjaga kebersihan” katanya.

Anak didik juga harus diajarkan rasa cinta baik kepada Tuhan, orang tua, guru dan tanah air. Rasa cinta penting dlam bagian pendidikan karakter. “Denga memahami tiga hal tadi anak bisa melakukan sesuatu yang bisa dipertimbangkan yakni mengetahui hal bear dan slah, hal baik dan buruk serta hal yang pantas dan tidak panta,” ujarnya.

Melihat tantangan seperti itu, semua yang berkecimpung di dunia pendidikan harus melakukan tiga hal yakni adanya manajemen sekolah. Kepala Sekolah harus mempunyai gambaran visi dan misi untuk kemajuan sekolah dan anak didiknya. Visi dan misi bisa dikatakan bagus bisa dilihat dari manajemennya yang dimulai dari perencanaan yang terukur, konsisten dalam perencanaan dan melakukan control terhadap apa yang dilaksanaan. “Perencanaan tergantung berdasarkan data yang akurat dari fakta yang akurat. Perencanaan menentukan 50 persen dari keberhasilan sebuah program,” imbuhnya.

Faktor lainnya adalah kompetensi guru dimana guru harus diatur bisa memenuhi standar. Faktor yang lain adalah anggaran dimana dicari peluang untuk mencari anggaran, dimana bisa dari sumbangan dari pemerintah pusat, kabupaten atau kota.” Khusus untuk sarana dan prasarana seperti laboratorium, banyak sekolah tidak memilikinya. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pendidik yang harus diselesaikan bersama. Khususnya bagi pemangku kebijakan, harus bersinergi dan koordinasi mengambil prioritas sekolah mana yang butuh bantuan cepat,” tambahnya.

post-top-smn

Baca berita terkait