Monday, 17 December 2018

Gus Ipul : Bhinekka Tunggal Ika Jadi Modal Majunya Pembangunan

post-top-smn
Wakil Gubernur Jatim Gus Ipul hadiri Diskusi Ilmiah Rabuan dengan tema "Memperkokoh Politik Kebhinekaan" di Fisip Unair Surabaya

Wakil Gubernur Jatim Gus Ipul hadiri Diskusi Ilmiah Rabuan dengan tema “Memperkokoh Politik Kebhinekaan” di Fisip Unair Surabaya

Surabaya, SMN – Wakil Gubernur Jawa Timur Drs. H. Saifullah Yusuf menyatakan bahwa Bhinekka Tunggal Ika yang memiliki semangat perbedaan tapi tetap satu dapat berperan sebagai modal dan kekuatan majunya sebuah pembangunan di daerah.

Demikian pandangan Gus Ipul biasa ia disapa seusai menghadiri diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (13/9).

Dikatakannya, Ke Bhinekaan merupakan rahmat dan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada Bangsa dan Negara Indonesia. Untuk itu, keberadaanya senantiasa harus dirawat dan dijaga. “Ke Bhinekkaan adalah fitrah atau sunatullah yang diberikan tuhan kepada bangsa kita. Untuk itu, kita harus menjaganya dengan baik. Melalui ke bhinekkan yang kuat dan kokoh akan menjadi modal penting bagi majunya pembangunan,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan yang seringkali terjadi harus disatukan. Sebagai bangsa yang besar, perbedaan yang disatukan harus dapat menjadi alat menyejahterakan masyarakat. Jangan sampai, perbedaan menjadi alat pertikaian, permusuhan, caci maki, yang berujung kepada kehancuran. “Kita harus bisa membingkai, bahwa perbedaan itu, jika dirawat dapat menjadi indah dan bisa menjadi satu kekuatan,” imbuhnya.

Agar tidak terjadi perbedaan dan konflik antar masyarakat, Gus Ipul sapaan akrabnya menjelaskan pentingnya melakukan komunikasi dengan masyarakat yang ada di bawah. Pendekatan komunikasi harus dilakukan, terutama yang memiliki latar belakang konflik sosial, agama, suku, hingga suporter harus terjembatani oleh pemerintah.

Dalam orasi ilmiahnya, yang bertema ‘Memperkokoh Politik Ke Bhinekaan’, Drs. H. A. Muhaimin Iskandar M.Si mengatakan, bahwa sebagai masyarakat yang bhinneka atau majemuk, potensi konflik relatif tinggi di Indonesia. Kondisi masyarakat yang demikian akan memudahkan terjadinya konflik antar etnis, agama, kecemburuan sosial hingga kesenjangan antara golongan kaya dan miskin.

Akhir akhir ini, gejala intoleransi agama yang disertai dengan munculnya gerakan radikalisme serta fundamentalisme agama menguat di berbagai belahan dunia. Radikalisme yang mewujudkan diri dalam tindak kekerasan seperti bom bunuh diri telah menyebarkan rasa takut dalam masyarakat. “Bhinneka Tunggal Ika harus hadir untuk menguatkan bangsa dan negara dari segala bentuk ancaman bangsa yang ada,” pungkasnya.(*)

post-top-smn

Baca berita terkait