Tuesday, 12 December 2017

Gunung Sinabung Erupsi Membuat Gelap Gulita Tanah Karo

post-top-smn

gunung sinabungKaban Jahe, SMN – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara erupsi kembali, Rabu (2/8), sekitar pukul 10.00 wib sehingga mengakibatkan gempa vulkanis lebih lama dari erupsi sebelumnya. Gunung Sinabung adalah salah satu gunung paling aktif yang berada di Indonesia. Tahun ini tercatat sebagai tahun keempat gunung tersebut erupsi terus menerus, sejak meletus pada 2013 lalu. Sinabung juga menjadi salah satu dari empat gunung lainnya di Indonesia yang mencatatkan rekor erupsi terlama. Tiga gunung lainnya adalah Gunung Agung Bali (sekitar satu tahun), Gunung Galunggung Jawa Barat (sekitar satu tahun), dan Gunung Bromo Jawa Timur (lebih dari tujuh bulan).

Dari informasi diperoleh dari salah satu warga Karo mengabarkan, sudah 17 kali Gunung Sinabung memuntahkan awan panas berupa cendawan membubung ke angkasa dan lelehan lahar tumpah, meluncur mengalir di lereng gunung, mengakibatkan bagian arah tenggara sempat terlihat gelap gulita akibat abu vulkanik.

Kendati Gunung Sinabung meletus yang cukup lumayan besar terjadi, namun justru warga mengaku sudah tidak panik lagi. “Karena sudah terbiasa lihat gunung meletus, tidak panik lagi. Paling warga daerah gunung yang terdampak, dan memang sudah tidak ada lagi orang di kaki gunung,” ujarnya.

Sementara itu menurut laporan Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (2/8) mengatakan, berdasarkan pengamatan pos pengamatan Gunung Sinabung,
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada pukul 10.00 wib, terjadi letusan dengan tinggi 4,2 kilometer disertai luncuran awan panas sejauh 4,5 kilometer ke arah tenggara timur hingga ke arah selatan Gunung Sinabung serta amplitudo 120 milimeter dan lama gempa selama 553 detik.

Lanjut, tidak ada korban jiwa dari letusan ini. Sementara itu, tercatat 7.214 jiwa atau 2.038 kepala keluarga mengungsi di delapan pos pengungsian. Tetapi, hanya ada 2.863 jiwa yang tinggal di pos pengungsian. Adapun yang lain, banyak yang tinggal di tempat lain di luar pos pengungsian. Ribuan penduduk terdampak langsung dari hujan abu vulkanik akibat letusan Gunung Sinabung, dan dilaporkan tidak ada korban jiwa. Hujan abu diinformasikan menyebar di beberapa tempat seperti di Desa Perbaji, Sukatendel, Temberun, Perteguhen, Kuta Rakyat, Simpang Empat, Tiga Pancur, Selandi, Payung, Kuta Gugung  Kabanjahe, Namanteran, dan Tiganderket, terang Sutopo.

Sutopo menuturkan, dari keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahwa parameter vulkanik dan seismisitas gunung masih tetap tinggi sehingga potensi letusan susulan masih akan tetap berlangsung. Secara umum aktivitas vulkanik Gunung Sinabung sampai saat ini ditandai dengan gempa low frequency dan pertumbuhan lava yang relatif kecil. Pada pengukuran 19 Juli lalu, diketahui volume kubah lava sudah mencapai 2,3 juta meter kubik maka erupsi pada Gunung Sinabung tidak dapat diprediksikan sampai kapan Gunung Sinabung akan berhenti meletus, ungkap Sutopo.

Sutopo menghimbau kepada masyarakat dan pengunjung, agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 kilometer dari puncak, dan dalam jarak 7 kilometer sektor Selatan Tenggara. Kemudian juga di dalam jarak 6 kilometer untuk sektor Tenggara Timur, serta di dalam jarak 4 kilometer untuk sektor Utara Timur Gunung Sinabung dan masyarakat yang bermukim atau beraktivitas di dekat sungai yang berhulu di Gunung Sinabung, agar tetap waspada terhadap ancaman bahaya lahar. Mengingat telah terbentuk bendungan alam di hulu Sungai Laborus, maka penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar hilir daerah aliran sungai Laborus tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol. “Status Gunung Sinabung pada level IV atau awas dan potensi letusan susulan mungkin terjadi,” terang Sutopo mengakhirinya. (Maria.Batubara)

post-top-smn

Baca berita terkait