Friday, 20 July 2018

Gubernur Jatim Dorong Motivasi Investasi dan Bisnis Pengusaha Georgia ke Jatim  

post-top-smn

 

Gubernur Soekarwo saat memberikan cinderamata kepada perwakilan Kadin Georgia Salome Tavberidze disaksikan Dubes RI untuk Georgia, Ukraina, dan Urmania, Yuddy Chrisnandi

Surabaya, SMN – Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo mendorong motivasi investasi dan bisnis pengusaha Georgia ke Jatim. Banyak alasan kenapa hal tersebut perlu dilakukan, antara lain sampai saat ini belum ada investasi Georgia di Jatim, beragam jaminan kemudahan investasi di Jatim, serta upaya penyeimbangan neraca perdagangan dua pihak yang Jatim selalu surplus selama ini.

Demikian disampaikan Gubernur Jatim Pakde Karwo – sapaan akrabnya di depan pengusaha Georgia seperti pariwisata, perkebunan, dan logistik, di Hotel The Biltmore, Rustaveli 29 Avenue, Tiblisi, Georgia, Rabu (4/4).

“Beragam kemudian investasi tersebut, yakni pemberian jaminan terkait fasilitasi penyerdahanaan perijinan, ketersediaan tenaga terampil, fasilitasi pengadaan tanah di kawasan industri, dan ketersediaan listrik,” ujar Pakde Karwo.

Pakde Karwo menambahkan pertimbangan lain dorongan investasi dan bisnis di Jatim tersebut adalah kondisi Jawa Timur yang aman dan sekaligus sebagai barometer nasional. Selain itu, saat ini juga tersedia 10 kawasan industri, baik yang telah dan sedang dalam proses pengembangan, yang mempermudah berbisnis di Jatim.

“Empat kawasan industri telah beroperasi, dimana pengusaha langsung bisa melakukan konstruksi, seperti di kawasan industri Tuban dan Maspion,” ujarnya.

Dalam tahap konstruksi seluas 31.584 Ha, serta pengembangan kawasan ekonomi khusus di Singosari Malang seluas 300 hektar, juga kawasan ekonomi khusus di Prigi Trenggalek, yang keduanya diperuntukkan pariwisata.

Sementara itu, komoditi ekspor Jatim ke Georgia diantaranya sabun herbal, dengan komoditi yang potensial untuk ditingkatkan antara lain kopi, teh, produk kayu, minyak sawit, dan krupuk udang. Sedangkan  komoditi impor Jatim dari Georgia yaitu hasil penggilingan, peralatan listrik, dan perekat/enzym.

Ditambahkan, Jawa Timur saat ini juga mengembangkan diri sebagai smart government, diataranya mewujudkan tersedianya data berbasis teknologi informasi yang terintegrasi di provinsi ini. Juga, pengembangan regulasi pengembangan loan agreement berbunga rendah 6-9% tahun, khususnya untuk usaha kecil dan menengah, sebagai mitra pengusaha Georgia.

Hadir dalam pertemuan ini sebanyak 30 pengusaha Georgia dari berbagai bisnis line, seperti pariwisata, perkebunan, dan logistik. Sambutan hangat disampaikan oleh para pengusaha Georgia usai mengetahui potensi Jatim. Diantaranya, keinginan untuk melakukan kunjungan balik ke Jatim, serta ketertarikan terhadap berbagai komoditi perdagangan seperti teh dan kopi. Sebanyak 500 ton teh per triwulan telah dipesan oleh pengusaha Georgia. Demikian pula untuk komoditi kopi dan sabun herbal.

Georgia sendiri sebagai pintu masuk Eropa merupakan negara dengan  GDP besar, yaitu 14,372 milyar pada tahun 2015  dan income percapita penduduknya sebesar  US $9.891 pada tahun 2016.

Dalam kesempatan ini juga disampaikan beberapa industri prioritas yang potensial di Jatim, seperti industri makanan dan minuman, farmasi, kulit dan alas kaki, karet dan plastik. Sekaligus perbaikan investasi yang bersinergi antara pembangunan berkelanjutan di Jatim melalui renewable dan energi terbarukan, pemberdayaan usaha kecil dan menengah dengan mendorong kemitraan, perbaikan kapasitas institusi dalam promosi perdagangan, investasi, dan pariwisata, padat tenaga kerja, modal, dan transfer teknologi.
Dukungan Kedubes Georgia

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Georgia, Ukraina, dan Urmania, Yuddy Chrisnandi menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan business dan one on one meeting yang dilakukan Pemprov. Jatim ini. “Kegiatan ini merupakan komitmen memperbaiki ekonomi daerah, dan mengenalkan Jatim sebagai partner bisnis di Georgia,” ujarnya.

Diharapkannya kedepan, kedua wilayah tersebut saling melengkapi. Apalagi Prov. Jatim merupakan provinsi industri dengan pertumbuhan ekonomi yang selalu lebih tinggi dari nasional, demikian pula sebaliknya. (*)

post-top-smn

Baca berita terkait