Saturday, 15 December 2018

Era Digital, Media Harus Inovatif, Jangan Segan Membuat Terobosan

post-top-smn

Lokakarya LPDS, Telaah Manajemen dan Kompetensi Wartawan Konvergensi, menghadirkan tiga pembicara Uni Lubis, Dandy Laksono dan Benyamin Ruslan Naba(23/7).

Jakarta, SMN – Era digital, menjadi penanda cepatnya informasi dilancarkan dan diterima publik. Hukum-hukum dasar dalam jurnalistik berplatform media cetak, seringkali menjadi ditinggalkan dan cenderung dianggap kuno. Hal ini mengemuka dalam Lokakarya Jurnalistik HUT ke-30 Lembaga Pers Doktor Soetomo (LPDS), di Gedung Perpustakaan Nasional, 23 Juli 2018 lalu, dengan tema Telaah Manajemen dan Kompetensi Wartawan Konvergensi.

Salah satu pemateri, Zulfiani Lubis atau acap disapa Uni Lubis, mengakui bahwa dirinya mendapatkan tantangan baru saat membesut sebuah portal warta ekonomi. Pengalamannya yang pernah berkecimpung dalam media cetak dan televisi ternyata tidak semuanya langsung bisa diterapkan dalam mengisi pemberitaan di media online yang dipercayakan padanya. “Sistem redaksi, isi berita dan pendekatan pada kebutuhan informasi pada pembaca pun lain, kemasannya lebih santai walau membicarakan hal yang serius,” ujarnya.

Namun, wartawan senior yang sudah sarat pengalaman ini, tetap mengakui bahwa hukum jurnalistik paling dasar tetap perlu diterapkan, misalnya tentang akurasi, tidak plagiat, 5W + 1H, serta reportase berimbang. “Perlu adanya in house training yang akan menunjang kemampuan dalam menyajikan content dari media online kita,” ungkap Uni.

Uni Lubis juga mencontohkan pada media online yang digawanginya, diterapkan aturan agar sebulan sekali seluruh kru menghasilkan tulisan dengan panjang tulisan dan bobot yang terus meningkat. “Misalnya, panjang tulisan semula minimal 400 kata ya nanti ditingkatkan jadi 800 kata, narasumber juga ditambah dan seterusnya,” bebernya.

Soal bobot content dan ciri khas media di era saat ini, juga  jangan membuat frustasi media cetak, termasuk yang tumbuh di daerah. Media, pada dasarnya harus berpijak pada kepentingan publik yang perlu dibela dan didahulukan, agar tetap dipercaya sebagai rujukan oleh masyarakat. “Washington Post, bahkan meningkat oplahnya karena konsisten memberikan sajian berita yang menarik, logis, terpercaya dan akurat, melawan kebijakan-kebijakan Presiden Trumph yang memang sering kontroversial,” ujar Uni Lubis.

Hubungan media dan pembaca yang berubah dalam era pemberitaan dan penyebaran informasi digital, menurut Dandy Laksono, pemateri kedua dalam lokakarya tersebut, juga harus dimanfaatkan untuk memantapkan platform sajian yang dapat menarik pemirsa. Dandy yang sudah membuat berbagai karya dokumenter berbasis investigasi jurnalistik, mengesampingkan berbagai patokan yang selama ini dielu-elukan dalam penggarapan film-filmnya. “Kru bisa saja satpam, anak sekolah, bukan sarjana, namun memilki daya juang yang kuat dalam menembus sumber dan mengambil gambar,” ungkapnya.

Pada akhirnya, kata Dandy, hasil dari sebuah proses yang dilakukan dengan serius, tetap akan menunjukkan hasil yang baik. “Kepekaan dalam menangkap peristiwa, sejarah atau fenomena yang terjadi sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Posisi antar kru redaksi saat ini juga semakin cair dan tidak kaku seperti pada era 80-an, juga menuntut keberadaan ruang kantor yang lebih santai dan mampu memancing kreatifitas. Ini dikemukakan oleh Benyamin Ruslan Naba, konsultan tehnik yang juga berpengalaman dalam mengelola pers kampus semasa kuliah. Ruang-ruang yang sederhana namun segar, tidak banyak sekat dan menunjukkan kedekatan, banyak dipakai oleh pengelola media saat ini.

Seri lokakarya yang diselenggarakan LPDS yakni pada 9 Juli, 16 Juli dan 23 Juli 2018, pada akhirnya memberikan kesimpulan bahwa adaptasi atas perubahan disertai inovasi kreatif, adalah kunci untuk tetap eksis dan berjaya bagi media massa. (ari)

 

post-top-smn

Baca berita terkait