Saturday, 23 February 2019

Eksplorasi Tanpa Batas di Tahun Baru Imlek

post-top-smn

Di Tahun Baru Imlek, “Mlaku-Mlaku Babinsa” menyambangi Vihara yamg berlokasi di Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota.

Kediri, suaramedianasional.co.id – Di Tahun Baru Imlek, “Mlaku-Mlaku Babinsa” menyambangi Vihara yamg berlokasi di Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota. Serda Abu Nur Arifin dan Aipda Beny M.P. berbincang santai di halaman belakang Vihara Metta Maitreya, membahas seputar Imlek. selasa (5/2/2019)

Wahyu Jayawan, pendeta muda Vihara Metta Maitreya menjelaskan, nama klenteng itu asalnya dari suatu sejarah para leluhur kita, disamping arti Tri Dharma itu sendiri.

Ada tiga agama, Budha, Konghuchu dan Tao, ketiganya berbeda-beda jam sembahyangnya, tetapi tempatnya jadi satu. Untuk menentukan ketepatan waktu sembahyang, para leluhur bersepakat membuat tanda lonceng. Seiring waktu, bunyi lonceng (kleneng-kleneng) itu berubah menjadi Klenteng.

Pendeta Jaya menjelaskan, pada sore hari menjelang puncak Imlek, rumah sudah bersih dan tampak cemerlang. Lampu-lampu yang sudah buram diganti dengan lampu yang baru atau dibersihkan, sehingga penerangan rumah terang-benderang. Selanjutnya, sehari sebelum Imlek, sore hari dilakukan sembahyang penutup tahun sekaligus menyambut tibanya tahun baru Imlek.

Pendeta Jaya mengatakan, “Tahun baru Imlek ini bukan tahun khusus agama tertentu, siapapun yang menyatakan dirinya sebagai orang Tionghoa, merayakannya. Agama apapun, kalau ia orang Tionghoa, ia merayakan Tahun Baru Imlek.”

Pernyataan tersebut, bisa disepadankan, setiap orang Jawa, apapun agamanya, bisa merayakan Tahun Baru Suro. Sebab, Tahun Baru Suro memang identik budaya Jawa.

“Jadi, Imlek ini budaya, bukan milik suatu agama tertentu, budaya itu milik semua,” jelas Pendeta Jaya.

Tahun baru Imlek atau Sin Cia, sudah mulai dipersiapkan ritual sejak 7 hari menjelang puncak Imlek dengan melaksanakan sembahyang menghantar Dewa Dapur. Hari pertama Tahun Baru Imlek atau tepatnya tanggal 1 bulan 1 dalam penanggalan Imlek, kepala keluarga memimpin persembahyangan, dan didahulukan melakukan sujud hormat kehadapan Tuhan.

Menanggapi harapan kedepan dari Tahun Baru Imlek, Pendeta Jaya menuturkan, “Harapan kedepan, semoga kita, Indonesia umumnya, Kediri khususnya, damai selalu menghadapi pesta demokrasi mendatang. Bagi bangsa Indonesia memilih pemimpin yang terbaik.”

Ia menambahkan, “Semoga di Tahun Baru Imlek ini, Yang Maha Kuasa memberi kuasaNya, cahayaNya, kasihNya kepada bangsa Indonesia, diberikan kejayaan, kedamaian, toleransi beragama. Karena itulah cita-cita leluhur kita, jadi bangsa kita cinta damai.”

Satu hal yang paling luar biasa dan patut dicontoh, satu tempat ibadah digunakan tiga agama sekaligus. Dari generasi ke generasi, tidak pernah terjadi gesekan. Itulah Tri Dharma, yang lebih dikenal secara umum, Klenteng.

Imlek tidak lepas dari budaya dan tradisi yang berlanjut menyesuaikan peradaban. Lewat Mlaku-Mlaku Babinsa, bincang santai dilakukan untuk menjelaskan suatu budaya dan tradisi bersumber dari sumber yang dapat dipercaya. (dodik)

post-top-smn

Baca berita terkait