Wednesday, 23 May 2018

Dinkes Jatim Ajak Masyarakat Gunakan Obat Secara Rasional

post-top-smn

obat Surabaya, SMN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim mengajak masyarakat menggunakan obat secara rasional atau Rational Use of Drug (RUD) sesuai ketentuan WHO, yakni pesien menerima pengobatan sesuai kebutuhan klinis, dosis sesuai kebutuhan individu, untuk jangka waktu yang tepat, dan dalam biaya terapi yang terendah bagi pasien maupun komunitas mereka.

Kepala Seksi (Kasi) Promosi Kesehatan Dinkes Jatim, drg Fitria Dewi dalam paparannya saat Pemberdayaan Masyarakat dalam Peningkatan Penggunaan Obat Rasional Dalam Rangka GNMPO (Gerakan Nasional Masyarakat Peduli Obat) di Surabaya, Rabu (23/11) mengatakan, masyarakat Indonesia mayoritas menggampangkan cara mengkonsumsi obat.

“Biasanya masyarakat kita beli obat langsung ke apotek atau beli di toko pracangan tanpa ke dokter atau Puskesmas dulu, kebiasaan ini sebenarnya bersesiko untuk jangka panjang,” katanya.

Obat yang langsung dibeli tanpa resep dokter punya dosis berbeda-beda dan penggunaannya harus diperhatikan, sehingga tidak sampai mengakibatkan efek samping yang dapat mengganggu kondisi tubuh pengguna.“Akibatnya tidak dirasakan seketika, tetapi dalam jangka panjang akan berefek mungkin bisa ke ginjal atau hati yang kena,” imbuhnya.

Pola fikir yang salah pada masyarakat ini, lanjut Fitria diakibatkan gencarnya iklan di media masa yang menayangkan berbagai obat untuk menyembuhkan penyakit, sehingga orang akan tertarik membelinya saat mengalami gejala yang sama. “Seperti penanganan penyakit mata tidak bisa sembarangan, karena sakit mata diakibatkan berbagai hal dan jenisnya juga beragam,” imbuhnya.

Ia berpesan mulai saat ini masyarakat jangan hanya mengandalkan informasi dari teman, tetangga, atau saudara tentang salah satu obat saat mengalami gangguan kesehatan. “Pokoknya harus ke dokter, Puskesmas, atau Polindes terlebih dulu sebelum beli obat agar dosis, jenis obat, dan harga sesuai dengan kondisi pasien,” tegasnya.

Sementara, Direktur Pusat Informasi Obat dan Kefarmasian (PIOK) Ubaya Dr Drs Aji Prayitno menuturkan, dalam mengkonsumsi obat banyak yang harus diperhatikan, selain koposisi zat yang ada di dalamnya masyarakat juga harus memperhatikan tanggal kadaluarsa, hingga kondisi kemasan.”Jika kondisi obat meragukan jangan dibeli,” katanya.

Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat mulai menghindari jamu tradisional karena komposisi dan kandungan zat di dalamnya banyak yang diragukan manfaatnya bagi tubuh. “Jamu stelan yang banyak dikonsumsi masyarakat itu tidak baik karena dicampur-campur sehingga kadarnya akan berubah, belum lagi ampas jamu itu bisa mengendap di tubuh itu juga berbahaya,” terangnya. (hjr/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait