Sunday, 20 May 2018

Dianggap Berkepala Dua, 8 Pembeli Tanah Kapling Hendak Luruk Kadesnya

post-top-smn
Ka-ki, Nasor, Maimun dan 8 pembeli tanah kapling.

Ka-ki, Nasor, Maimun dan 8 pembeli tanah kapling.

Pasuruan, SMN – Sengketa tanah di desa Tampung Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan yang menyeret banyak ahli waris, menjadi tambah meruncing ketika Kepala desanya dianggap berkepala dua, karena delapan pembeli tanah kapling dan Nasorrudin selaku penjual merasa dibenturkan dengan ahli waris pemilik tanah sawah yang sebenarnya sudah kehilangan haknya.

Bermula dari Nasorrudin, salah satu warga desa Tampung yang menjual tanahnya secara kapling pada delapan orang yang proses jual belinya hanya mengetahui desa. Setelah disepakati jual beli antara Nasorrudin dan delapan pembeli, melalui Sura’i/ Doyok selaku salah satu perangkat yang membikin surat jual beli meminta biaya administrasi desa kepada Nasor sebesar kurang lebih lima juta enam ratus ribu rupiah mengetahui kepala desanya, dimana uang administrasi untuk desa diserahkan langsung ke Sura’i melalui Ubaidillah selaku kasun Tampung Utara yang kemudian disepakatilah untuk pengukuran kapling pada tanah sawah tersebut. Namun sayangnya ketika proses jual beli desa hendak ditingkatkan pada proses PPAT munculah masalah baru, dimana ahli waris dari tanah yang dijual Nasorrudin secara kapling merasa tidak pernah menjual kepada pihak lain.

Ahli waris Mukri sendiri ketika ditemui wartawan media ini di rumah Nasor ngotot bahwa baik bapaknya Mukri maupun ahli waris yang lain tidak pernah mengalihkan hak kepemilikan tanah sawah pada orang lain dan tetap berdasarkan letter C desa yang masih atas nama P. Asmuri.
Menanggapi pernyataan salah satu ahli waris Mukri, Nasor yang pada saat itu didampingi oleh R. Maimum P. Katjasungkana, SH pada media ini menjelaskan bahwa terjadinya transaksi jual beli antara Mukri dengan Miari, Faisol selaku salah satu ahli waris dari Mukri telah menyaksikan atau bahkan ikut membubuhkan tanda tangannya, terbukti dengan adanya surat-surat peralihan jual beli yang sekarang dijadikan Nasor sebagai barang bukti, ujar Maimun.

Pernyataan ahli waris Mukri pun dibantah oleh Jupri salah satu ahli waris Miari dan mengamini pernyataan Maimun, ujar Jupri yang kebetulan berada dirumah Nasor dan mengatakan bahwa sejak tahun 1960 an itu bapaknya telah membeli dari pak Mukri, namun karena masih terhitung saudara dekat (istri Mukri dan istri Miari sekandung) jual beli itu hanya sekedar secara lisan. Selanjutnya, tanah sawah yang penguasaan dan penggarapannya beralih ke Miari kemudian digarap oleh ahli warisnya, setelah itu baru di tukar gulingkan dengan tanah kering milik pak Kaber yang kemudian oleh Kaber dijual kepada Nasorrudin.

Baik Nasor maupun Ubaidillah selaku Kasun Tampung Utara menyesalkan atas perilaku Nizar yang dinilai tidak punya pendirian. “Habis mengeluarkan surat jual beli desa kok malah membantu pihak ahli waris Mukri buat memojokkan saya dengan mengatakan bahwa tanah sawah tersebut masih punya ahli waris, padahal sudah ada bukti petunjuk peralihan sehingga tanah sawah tersebut sudah bukan milik ahli waris Mukri”, ujar Nasor geram.

Lebih lanjut Nasor yang didampingi pengacaranya menyayangkan sikap Nizar selaku kepala desa yang dianggapnya menggunting dalam lipatan dan mencari keuntungan pribadi terkait sengketa tanah miliknya.

Delapan pembeli tanah kapling yang berkumpul di rumah Nasor mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan ngeluruk ke desa dan kantor Kecamatan Lekok, apabila kepala desanya memanfaatkan permasalahan dan memihak pada ahli waris Mukri. (bad/win/to)

post-top-smn

Baca berita terkait