Monday, 24 June 2019

Demo Tagih Uang Debu ke Perusahaan Tambang Pasir

post-top-smn

Warga Gondoruso demo menagih uang kompensasi dari perusahaan tambang pasir dan dimediasi di balai desa setempat, Sabtu (1/12)

Lumajang, suaramedianasional.co.id – Pemerintah dan kepolisian selama dua bula terakhir semakin sering disibukkan mengatasi konflik akibat maraknya tambang pasir di Lumajang. Seperti gejolak yang terjadi di Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian yang sudah geram ingin melakukan aksi demo ke PT Uniagri Prima Teknindo.

Ihwal kegeraman warga ini berkaitan dengan kesepakatan pemberian uang kompensasi atau acap disebut sebagai uang debu sebagai salah satu bentuk tanggung jawa sosial perusahaan untuk warga. Rupanya, sudah 11 bulan uang debu tak diterima sehingga memantik kemarahan warga. Mereka bahkan sempat mendatangi lokasi tambang di Sungai Regoyo dan mengancam boikot aktifitas apabila uang debu tak juga diberikan.

Pertemuan selama 2 jam tak berhasil membuahkan solusi sehingga warga kecewa.

Polisi bersama aparat pemerintah akhirnya memediasi warga dengan pihak perusahaan di Balai Desa Gondoruso, Sabtu (1/12). Dalam pertemuan tersebut, diketahui kesepakatan sebelumnya, ada dana sebesar Rp 15 ribu per rit agar aktifitas menambang dan lalu lintas truk pengangkut lancar. Pembayaran lancar sampai bulan Maret 2018. Namun, pihak perusahaan kemudian meminta tarif turun menjadi Rp 10 ribu per rit dengan dalih sedang sepi pembeli. “Namun sampai sekarang uang debu itu juga tak kunjung ada,” ungkap salah satu warga pendemo.

Selama pertemuan sekitar 2 jam, dialog berlangsung alot. Salah satu perwakilan PT Uniagri masih meminta waktu untuk membicarakan dengan direksi perusahaannya. Hal ini sempat menimbulkan kemarahan warga yang merasa hanya diberi janji-janji. Masyarakat Gondoruso akhirnya meminta aktifitas tambang dihentikan sampai dana kompensasi dibayar. Sampai dengan buyarnya pertemuan, belum ada solusi yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Kapolres Lumajang, AKBP M. Arsal Sahban mengakui, harus segera ada solusi atas konflik antara warga dan perusahaan. Apalagi melihat kemarahan warga mudah terpicu. “Ini tadi kami tetap redam dan kita kasih pengertian bahwa kalau memperturutkan emosi malah tidak ada solusi apa-apa dan hanya akan merugikan,” ujar Kapolres AKBP M. Arsal Sahban. (tik)

 

post-top-smn

Baca berita terkait