Thursday, 21 March 2019

Bupati Minta Kesenian Gurda Gurdi Dilestarikan

post-top-smn

Bupati Karo Terkelin Brahmana, mendukung pelestarian Tari Gundala Gundala sebagai kesenian tradisional yang sarat nilai luhur.

 Karo, suaramedianasional.co.id – Halaman kantor  Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo, Sabtu malam (24/11) padat oleh warga. Mereka datang untuk menyaksikan tari tradisional Suku Karo, Tari Gundala Gundala yang mengisahkan tentang burung sakti bernama Gurda Gurdi. Mempertunjukkan tarian ini tak mudah karena membutuhkan latihandan dana tidak sedikit.  Kegiatan ini langsung ditangani Kepala Desa Barusjahe bersama Karang Taruna setempat dan bekerjasama dengan Rumah Karya Indonesia (RKI). Tak kurang dari Bupati Karo, Terkelin Brahmana dan anggota DPRD, Thomas Joverson Ginting, turut hadir dan menonton kesenian tradisional yang jarang ditampilkan ini.

Direktur kegiatan ini, Brevin Tarigan, mengungkapkan, kesenian tradisional seperti pertunjukan seni Gurda Gurdi perlu dilestarikan karena mengandung nilai-nilai yang positif untuk dipahami generasi saat ini. “Selain itu dalam kesenia tradisional Gurda Gurdi ini juga terdapat nilai integritas dan kreatifitas,” katanya.

Tari Gurda Gurdi sendiri merupakan legenda bagi Suku Karo. Dikisahkan pada zaman dahulu ada kerajaan yang dipimpin oleh Raja Sibayak dan saat berada di hutan menemukan seekor burung raksasa Gurda Gurdi yang merupakan jelmaan seorang pertapa sakti. Burung ini pun diajak tinggal di istana dan segera menjadi kesayangan seluruh penghuni istana, utamanya oleh putri Raja Sibayak yhang cantik.

Namun dalam salah satu interaksi antara sang putri dan Gurda Gurdi, tanpa sengaja sang putri menyentuh paruhnya. Sesuatu pantangan yang sudah disumpahkan burung tersebut. Tindakan sang putri memicu kemarahan Gurda Gurdi dan menyerangnya. Di kerajaan itu juga mengabdi seorang panglima yang sangat setia dan mengetahui burung Gurda Gurdi hendak menyerang sang putri, panglima pun berusaha menenangkan dengan mengelus paruhnya. Hal ini malah menambah murka Gurda Gurdi sehingga mereka pun bertarung sengit. Sang panglima akhirnya berhasil mengalahkan burung Gurda Gurdi namun kesedihan mendalam melingkupi seluruh istana dan rakyat. Hujan deras pun turun mengiringi kepergian burung Gurda Gurdi yang sakti.

Bupati Karo, Terkelin Brahmana, mengaku sangat kagum dengan pentas tari Gurda Gurdi yang dipertunjukkan malam itu. Apalagi kesenian ini jelas mampu menunjukkan kekompakan dan kerjasama khususnya dari masyarakat Barusjahe. “Lihat saja, tua maupun muda, anak-anak sampai dewasa, rela hadir memenuhi halaman kantor kecamatan ini untuk menonton,” ungkapnya.

Pemeran Gurda Gurdi yang ternyata masih usia anak-anak, juga menimbulkan kekaguman dari Bupati Karo tersebut. Dia bahkan menganjurkan, kesenian ini dapat ditampilkan rutin setiap tahun dan dapat didukung dari alokasi dana desa (ADD). “Melestarikan kesenian rakyat seperti ini juga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan untuk itu bisa difasilitasi melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Karo,” kata Terkelin.

Sedangkan Thomas Joverson Ginting, juga mengamini niat bupati. Thomas mengemukakan, nilai positif tari tradisi ini, tentang kerja keras dan kesetiaan terhadap negeri, sehingga pantas bila ditampilkan sebagai ikon sejarah Karo. Dia pun memaklumi kesulitan pemerintah desa dalam pendanaan, bila harus tiap tahun mementaskannya. “Namun hal ini kan sudah dibantu Bapak Bupati, bisa dikolaborasikan dengan Pemkab melalui Dinas Pariwisata dan nanti dari DPRD juga akan mendukung, agar ada pelestarian seni Gurda Gurdi ini,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Terkelin Brahmana bersama Thomas Joverson Ginting, di hadapan seluruh masyarakat dan pejabat Muspika serta tokoh adat Barusjahe, memberikan sertifikat penghargaan pada dua orang pemain Gurda Gurdi yang masih berusia anak-anak. (ius)

post-top-smn

Baca berita terkait